Ulasan atas film The Fate of The Furious (The Fast and The Furious 8).

 Apa yang ada di pikiran Anda ketika mendengar kata “film keluarga”? Film animasi? Film tentang hewan-hewan yang bisa bertingkah laku seperti manusia? Film tentang anak-anak yang bersikap seperti anak-anak? Film tentang orang dewasa yang bersikap kekanakan? Film tentang anak-anak yang memiliki pemikiran dan aksi yang tidak kekanakan? Film tentang superhero? Atau film apa saja yang tidak dilabeli R-Rated dan/atau minimal bukan PG-13?

Bagaimana dengan film aksi yang menawarkan premis: tembak-tembakan, baku hantam sadis, eksploitasi (maaf) bokong perempuan sebagai signature di setiap filmnya, ledakan di mana-mana, balapan mobil maut, hingga euphoria ketika mampu membunuh siapa saja yang dianggap menghalangi tujuan tokoh-tokohnya? Mungkin sebagian besar pembaca sekalian bakal mengategorikan film semacam ini ke dalam film dewasa atau setidaknya untuk usia 13 tahun ke atas.

Terlepas dari judul tulisan ini yang terkesan seperti tagline program Keluarga Berencana, The Fate of The Furious (The Fast and The Furious 8) yang menawarkan segala hingar bingar yang telah disebutkan di paragraph kedua tulisan ini selalu konsisten memegang premis utama dari edisi pertama hingga edisi kedelapan ini: “Demi keluarga”. Diakui atau tidak, film ini (dan ketujuh film lainnya) bisa dibilang dapat digolongkan ke dalam “film keluarga”. Walau Anda boleh saja menyematkan kata “tentang” atau “dengan dalih” di antara “film” dan “keluarga”.

Jujur saya bukanlah penggemar berat film yang dibintangi oleh Vin Diesel—yang dari nama belakangnya saja sudah sangat representatif dengan atmosfer utama franchise film ini—dan (dulunya) alm. Paul Walker ini. Tapi saya selalu suka untuk menyeretkan diri dalam euphoria pemutaran film perdana. Saya suka suasana antrean panjang pembelian tiket di hari pertama. Walau jujur sama sekali tidak muncul di benak saya agar bisa pamer sudah menonton di hari pertama pemutaran film. Saya hanya sadar betul bahwa satu-satunya yang bisa ditawarkan oleh bioskop dibandingkan menonton film melalui laptop atau home theatre adalah suasana kebersamaan dengan ratusan penonton lainnya. Setidak suka apapun Anda pada film yang Anda tonton, rasanya tetap bakal berbeda ketika menontonnya dengan ratusan orang yang sama sekali tidak Anda kenal. Bagaimana tawa atau sumpah serapah mereka dalam merespon apapun yang disajikan di layar mampu menggugah perasaan Anda untuk ikut hanyut dalam suasana. Itulah kenapa saya selalu dengan sengaja menonton film di hari pertama pemutarannya. Jumlah penonton di hari perdana pemutarannya selalu lebih banyak dibandingkan hari-hari sesudahnya.

Terlebih lagi film ini adalah film tentang keluarga. Yang walau harus diakui saya masih saja belum merasa sreg dengan adegan-adegan penggambaran betapa entengnya mereka menghabisi lawan, pakai ketawa-ketawa lagi. Apapun alasannya, pembunuhan adalah pembunuhan. Bukankah para lawan itu juga manusia yang punya keluarga sendiri-sendiri?

Ah, tapi mari tidak perlu berlarut-larut dengan tipikal film Hollywood yang seringkali menafikan pentingnya kehidupan seseorang, betapapun dia hanyalah pemeran figuran yang antagonis. Sudah figuran, antagonis lagi. Figuran yang protagonist saja belum tentu digubris. Anggap saja hal-hal semacam itu sudah mafhum dan maklum.

Berbeda dengan ketujuh installment lainnya, The Fate of the Furious ini menawarkan premis yang cukup berbeda: Dom mengkhianati keluarganya sendiri. Tentu Anda bertanya-tanya, apa alasan sang tokoh utama harus “menjilat ludah sendiri” atas prinsip yang selama ini digaung-gaungkan di franchise film yang sudah memasuki tahun ke-16 ini: keluarga adalah yang paling utama? Jawabannya silahkan Anda tonton sendiri filmnya.

Yang jelas, film yang tadinya sempat dianggap bakal kehilangan tajinya pasca tewasnya sang tokoh utama lainnya, Paul Walker, di tengah-tengah pembuatan installment film ketujuh ini, secara mengejutkan mampu menawarkan suguhan yang cukup menghibur. Bahkan menurut saya, dibandingkan dengan ketujuh film sebelumnya, film ini yang paling “bertaji”. Dengan taburan aksi yang mencengangkan (walau harus diakui beberapa tampak over-dramatis meski tetap keren), adegan-adegan jenaka yang cukup melimpah, serta bumbu drama yang cukup kuat, film ini benar-benar layak dijadikan pilihan hiburan pekan ini (walau beda perkara lagi kalau Anda membaca tulisan ini berminggu atau berbulan-bulan setelah tulisan ini diunggah).

Meski harus diakui, menjelang adegan puncak, film ini menggeber ke-“porakporanda”-an aksinya terlalu kencang sehingga belum sampai ke titik klimaks, saya sudah merasa agak lelah (walau untungnya tidak sampai jenuh). Aksi tabrakan mobil, baku tembak, hingga ledakan-ledakan terlalu riuh dan “hancur lebur” menjelang klimaks, sehingga puncaknya sedikit mengalami anti-klimaks, walau kemudian secara cerdik di-boost lagi dengan twisted scene yang membuat adrenalin Anda kembali terpacu untuk menikmati film ini hingga usai.

Oh iya, sedikit spoiler. Kalau Anda sebelumnya sudah pernah menonton film animasi Moana yang juga dibintangi oleh Dwayne “The Rock” Johnson—pemeran agen Hobbs di film The Fate of The Furious, maka Anda akan kembali disuguhi aksinya sebagai (semacam) Maui di bagian awal film ini. Anda akan melihat aksi Dewa “Maui” versi live action yang menari dan bernyanyi dengan bahasa yang “sama-sama non-Inggris”nya.

Tabik!

Yogyakarta, 13 April 2017
Selepas subuh.

sumber gambar: sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s