Ulasan atas film “Power Rangers” (Reboot, 2017)

“Tidak peduli apapun yang kamu lakukan di masa lalu. Kamu berhak untuk menentukan masa depanmu sendiri” (Jason)

Sebagai generasi yang dibesarkan di era dunia hiburan 90-an, agak susah bagi saya untuk menikmati film ini tanpa membanding-bandingkan dengan serial originalnya (serial tv, bukan versi bioskop yang tayang sekitar tahun 1997 kalau tidak salah). Betapapun saya paksakan diri untuk menonton film ini senetral mungkin seolah-olah penonton baru yang baru kali ini mengenal Power Rangers, susah sekali untuk menghilangkan bayangan lama film superhero yang populer sejak tahun 1993 hingga menjelang millennium itu.

Alhasil, berbekal informasi lama tentang serial aslinya dengan dalih bernostalgia (yang saya yakin puluhan penonton lain yang kurang lebih seumuran dengan saya itu punya alasan yang sama) itu, saya mulai (upayakan) menikmati film reboot ini.

Masih sama dengan karakter serial asli yang diputar lebih dari dua dekade lalu itu, Power Rangers kali ini masih menggunakan lima tokoh dengan pembagian tiga “ras” yang berbeda: tiga orang kulit putih, satu orang kulit hitam, dan satu orang Asia. Nama para anggotanya pun masih sama seperti serial aslinya: Jason, Billy, Zack, Kimberly, dan Trini.

Bedanya, jika dulu Zack diperankan oleh pria berkulit hitam, kali ini diperankan oleh pria berwajah Asia. Sedangkan Billy diperankan oleh pria berkulit hitam (dulu diperankan oleh pria kulit putih). Baru yang ketiga, Trini yang dulu diperankan oleh gadis berwajah Asia, kali ini diperankan oleh gadis Kaukasian (Eropa atau Amerika). Sedangkan Jason dan Kimberly sama-sama masih digambarkan ber-“ras” Kaukasian. Perbedaan (atau pertukaran) “ras” ini sebenarnya tidak berpengaruh terhadap jalannya cerita. Sekali lagi ini hanyalah masalah komparasi dengan serial aslinya.

Yang sebenarnya menarik dari film ini adalah penggalian latar belakang karakter masing-masing dengan berbagai keragaman kisahnya yang cukup mendalam. Sejak awal film dimulaipun atmosfer film ini berusaha membawa kita untuk mengenal lebih jauh (atau lebih tepatnya mengenal “versi lain” dari karakter para Rangers) siapa dan bagaimana para Rangers itu jika tanpa kostum zirah warna-warni.

Film dimulai dari adegan Jason, sang Ranger merah, yang tampak ingin mencari sensasi dengan memasukkan sapi ke dalam loker siswa yang kemudian berujung pada adegan kejar-kejaran antara Jason dan temannya versus polisi. Pelan-pelan kita mulai mengenal satu-persatu latar belakang Ranger yang lain seperti Billy yang digambarkan penderita autism, Zack yang berwajah (dan berdarah) Asia dengan ibu berbahasa Tionghoa (yang entah kenapa tidak dijelaskan lebih lanjut dari mana dan kenapa mereka bisa sampai di Angel Groove, kota tempat para Rangers tinggal) yang sedang sakit keras, Trini yang mendapat tekanan keluarganya yang selalu mengarahkan dia untuk menjadi “normal”, hingga Kimberly sang bunga kampus yang memiliki masa lalu yang kelam.

Sayangnya entah kenapa pendalaman karakter para Rangers ini terasa tanggung sekali. Seolah setelah dikenalkan sedikit latar belakangnya masing-masing, film langsung mengarahkan tokoh-tokohnya untuk mengejar keinginan menjadi Rangers yang utuh dengan mampu berubah menjadi Power Rangers dengan kostum berbagai warnanya. Chemistry antar pemain juga terasa agak dipaksakan, baru beberapa hari mereka saling mengenal sudah merasa seperti satu keluarga yang harus sama-sama mencari tahu bagaimana caranya menjadi Power Rangers yang utuh agar bisa melawan sang musuh bebuyutan, Rita Repulsa.

Adegan puncaknya pun terasa agak bertele-tele. Seolah penonton diajak untuk bertahan di adegan “hampir” puncak yang diulur-ulur (sekitar 10-15 menit lamanya) hingga benar-benar mencapai klimaksnya. Akhirnya adegan pertempuran akhir ini terasa anti-klimaks. Ibarat seorang ayah yang menyuapi anaknya dengan bermain sendok dan makanan selayak pesawat terbang tapi terlalu lama sehingga sang anak akhirnya “kenyang” sendiri karena jenuh plus keburu masuk angin.

Namun harus diakui, betapapun terdapat banyak hal-hal yang terasa tanggung di film ini, beberapa adegan jenaka di film ini cukup mampu membuat penonton terkekeh, setidaknya tersenyum. Tidak perlulah saya jelaskan satu-persatu adegan apa saja itu, silahkan tonton sendiri filmnya. Selain itu, mungkin karena sadar bahwa saat ini film bertemakan Superhero dikuasai oleh Marvel dan DC Comics, dengan enaknya mereka menyebut nama Ironman, Spiderman, bahkan hingga Bumblebee (Transformer) dalam film ini.

Jadi, apakah cukup worth untuk menyisakan waktu dan uang untuk menonton film ini di bioskop?

Relatif. Jika Anda sempat mengalami masa-masa berpura-pura menjadi Rangers dengan teman-teman masa kecil Anda yang biasanya rebutan siapa yang bakal menjadi Rangers merah dan ingin bernostalgia dengan masa-masa itu, film ini mampu menyuguhkan cara pandang yang berbeda terhadap kelima pahlawan super didikan Zordon dan Alpha 5 itu. Walau terasa banyak hal yang tanggung, film ini secara mengagetkan cukup menghibur dan menarik.

Tapi jika Anda belum pernah mengenal Power Rangers sebelumnya atau setidaknya berharap mampu menemukan film Superhero dengan pendalaman karakter macam trilogy Batman arahan Christopher Nolan, sebaiknya tunggu saja DVD atau file film yang biasanya diterjemahkan oleh Pein Akatsuki atau Lebah Ganteng itu.

Go Go Power Rangers!

Yogyakarta, 2 April 2017
Ba’da subuh.

Sumber gambar: sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s