Ulasan atas film Logan.

 “….jangan takut mati karna pasti terjadi, setiap orang pasti mati, hanya soal waktu…” (Bimbo – Hidup dan Pesan Nabi)

Setelah 17 tahun lamanya memerankan tokoh superhero legendaris, Wolverine, Hugh Jackman akhirnya memutuskan untuk memungkasi diet ketatnya selama ini untuk menjaga bentuk tubuh tetap good looking demi peran yang sangat lekat dengan dirinya ini—begitu lekatnya karakter komik X-Men ini padanya, konon tak ada lagi aktor yang cocok memerankan karakter berkuku adamantium ini selain dirinya—dengan mencanangkan film Logan sebagai film Wolverine terakhir aktor kelahiran Australia ini.

Berlatar belakang tahun 2029, Logan berbicara tentang perjuangan Wolverine (yang nama aslinya dijadikan judul film ini) dalam menyelamatkan Laura, seorang mutant muda yang memiliki kemampuan sama persis dengan dirinya: memiliki cakar adamantium dan mampu menyembuhkan diri dengan cepat, dari kejaran sebuah organisasi yang bertanggungjawab atas punahnya sebagian besar mutant di muka bumi. Di sini digambarkan Logan tidak lagi seperkasa dulu semasa sama-sama berjuang dengan rekan-rekannya, X-Men. Nafas yang mudah habis, tubuh yang mudah letih, hingga kemampuan penyembuhan diri yang tidak secepat dulu lagi—meskipun masih saja lebih cepat dari manusia normal.

Logan adalah sebuah film superhero yang lebih manusiawi. Dia adalah film superhero yang tidak melulu berisikan canda tawa dengan premis yang begitu mudah ditebak: orang biasa menjadi superhero – ada orang jahat – superhero menang. Film ini menggambarkan sisi lain (atau lebih tepatnya masa tua) superhero yang masih saja tetap hidup di kala teman-teman seperjuangannya sudah tiada. Film ini benar-benar menggambarkan betapa pedihnya memiliki kemampuan tidak bisa mati macam Wolverine. Tak terbayangkan betapa remuk hati ini berkali-kali ditinggalkan orang-orang yang kita cintai, sementara kita tak juga kunjung menemani mereka yang sudah berbeda dunia. Kenapa jadi kayak lirik lagu slow rock Melayu gini?

Jika Anda penggemar film-film X-Men yang sudah akrab dengan akting Sir Patrick Stewart sang pemeran professor X dengan karakter yang tenang, berwibawa, dan bijaksana, di sini Anda akan menemui sisi lain kekuatan seni peran aktor jebolan Royal Shakespeare Company ini. Di sini professor X digambarkan tak ubahnya seperti orang tua pada umumnya: suka mengomel-ngomel pada hal-hal yang tidak masuk akal, kekanakan, tapi sekaligus rapuh. Tak ayal banyak kelucuan yang terjadi melihat tingkah polah mantan kepala sekolah khusus mutant ini. Namun di saat yang sama, ada rasa trenyuh sekaligus pedih yang mencengkeram dada. Sir Patrick Stewart benar-benar membuktikan kemampuan seni perannya yang luar biasa.

Harus saya akui, film ini adalah salah satu film yang bisa membuat saya tetap terjaga untuk menonton dari awal hingga akhir. Biasanya sebagus apapun film itu, saya selalu “berkesempatan” tertidur di tengah pemutaran berlangsung. Film ini benar-benar membuat saya terus merenung akan masa depan yang masih saja belum pasti itu. Film ini membuat saya berpikir, apa yang bisa saya banggakan di masa tua kelak jika hari-hari saya saat ini harus saya sia-siakan hanya dengan bermain Instagram, Facebook, Twitter, dan media sosial yang lainnya. Saya jadi mempertanyakan apa sebenarnya yang saya inginkan di masa tua nanti.

Jika Anda penggemar X-Men atau setidaknya ingin menyaksikan film superhero yang tidak cheesy. Film ini layak untuk disimak.

Spoiler:
jangan berharap ada post credit scene di film ini. Berbeda dengan film X-Men atau Marvel lainnya, begitu judul film ini keluar lagi sebagai penutup, sebaiknya segera enyah saja dari gedung bioskop. Sampai diusir satpampun Anda tidak akan menemukan adegan tambahan pasca film yang biasanya sebagai bocoran film berikutnya.

Oh iya, kalau tidak biasa nonton film yang berdarah-darah, siap-siap sajalah. Film ini jauh lebih gory dari film X-Men atau Marvel pada umumnya.

Yogyakarta, 1 Maret 2017
Isya’ dan hujan deras.

sumber foto: sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s