Ulasan atas film “The Lego Batman Movie”

 Entah siapa yang memulai untuk mengategorikan dua produsen komik terbesar di dunia yakni DC dan Marvel berdasarkan nuansa karakter dan penceritaannya. Seolah telah menjadi kesepakatan, tokoh dan kisah-kisah garapan Marvel dikenal lebih berwarna, jenaka, dan penuh keriangan. Sedangkan DC mengandalkan pada pendalaman karakter dan kisah yang lebih “gelap” dan “serius”. Meskipun pada perkembangannya beberapa garapan dari Marvel atau DC berusaha untuk melepaskan diri dari stereotip semacam itu, taruhlah seperti film serial “Agent of S.H.I.E.L.D” garapan Marvel yang terkesan serba “serius” atau film serial “The Flash” dari DC yang bernuansa lebih “nge-pop”.

“The Lego Batman Movie” adalah salah satu bukti bahwa film-film garapan DC tidak harus melulu bernuansa tegang dan serius. Sebaliknya, film ini bahkan seolah “menghancurkan” image film-film Batman, sebagai salah satu tokoh komik paling karismatik, yang acapkali digarap dengan nuansa yang serba gelap dan menegangkan, mengingat sejarah kisah lahirnya Batman yang memang sudah gelap, yakni dendam kesumat seorang anak yang kedua orangtuanya ditembak mati oleh perampok di hadapannya langsung. Walau harus diakui, ada juga penggarapan film Batman lainnya yang tidak “seserius” biasanya, bahkan terkesan main-main hingga sempat menghancurkan reputasi Batman sebagai tokoh komik yang serba charming semacam film “Batman and Robin” garapan Joel Schumacher yang konon disebut-sebut sebagai satu-satunya garapan film ber-alter ego Bruce Wayne paling gagal dalam sejarah.

Sedari awal film dimulai, nuansa kejenakaan sudah dibangun oleh film yang merupakan spin off dari film “The Lego Movie” ini. Dengan narrator yang jenaka mengomentari apapun yang tampak di atas layar seperti layar hitam di awal film yang biasanya digunakan sebagai permulaan film-film superhero, logo Warner Bros yang kemudian dipertanyakan kenapa disebut “Bros” bukannya “Brothers” (mengingat perusahaan ini memang dibangun oleh keluarga Warner), musik pembangun suasana yang serba tegang hingga membuat penonton dan produsen film itu sendiri menjadi merinding, hingga mengingatkan penonton untuk bersiap-siap membaca quote yang bakal muncul di dalam layar sebagai pengantar kisah. Sejenak film garapan DC ini mengingatkan saya pada garapan rivalnya, Marvel, yakni “Deadpool” yang juga menggunakan teknik “penghancuran dinding ke-empat” (breaking the fourth wall) yakni teknik penceritaan yang menyadarkan penonton akan apa yang sedang berada di panggung, seolah karakter dalam film itu juga merupakan bagian dari penonton.

Seperti pada umumnya film superhero, film ini bercerita tentang perjuangan Batman dalam melawan musuh bebuyutannya, Joker, yang berusaha menghancurkan kota Gotham dengan meledakkan pilar utama kota yang menjadi penyangga kota fiktif itu selama ini. Bedanya, motif kenapa Joker melakukan hal itu tidak hanya karena dia ingin menciptakan chaos seperti pada umumnya super villain, tapi karena dia ingin diakui oleh Batman sebagai bagian dari hidupnya. Joker ingin membuat Batman, sang penyendiri, untuk menganggapnya sebagai “keluarga” yang selalu dibutuhkan. Joker begitu sakit hati ketika Batman merasa tidak memerlukan Joker untuk mendefinisikan dirinya sendiri, ibarat seorang gadis yang tidak dianggap oleh kekasihnya.

Sebagai sebuah hiburan, film ini benar-benar jenaka. Sepanjang film, penonton diajak untuk tertawa lepas menyaksikan tingkah laku berbagai macam karakternya. Tidak hanya tokoh-tokoh dalam komik DC yang muncul, hampir semua tokoh antagonis yang pernah diangkat di dunia perfilman dihadirkan di sini seperti King Kong, Voldemort (tokoh antagonis dalam franchise film “Harry Potter), Godzilla, Sauron dari trilogy film “Lord of the Ring” dan masih banyak lagi. Didukung oleh visual yang memikat, film ini menawarkan hiburan yang cukup menyenangkan di tengah rutinitas kita yang menjemukan.

Walau harus diakui, begitu intensnya keinginan untuk terus menghadirkan kejenakaan dan visual-visual yang serba spektakuler, saya sempat merasa jenuh di tengah-tengah film karena pembangunan emosi yang melulu tinggi. Seolah penonton tidak diberikan kesempatan untuk sedikit bernafas agar tidak lelah dalam menyaksikan pertunjukan berdurasi kurang lebih 100 menit ini. Beberapa lelucon yang dihadirkan di film ini bahkan ada yang kurang cocok untuk dikonsumsi oleh anak-anak semacam pentingnya membentuk perut yang six-pack hingga dialog antara Batman dan Joker yang hampir menyerupai hubungan sesama jenis. Untungnya tidak ada sedikitpun adegan yang menampilkan pornografi atau pornoaksi serta kekerasan yang serba berdarah-darah, layaknya film Batman pada umumnya.

Meski demikian, film ini mengingatkan kita bahwa keluarga bukan (sekedar) orang-orang yang memiliki hubungan darah tapi bagaimana kita mampu menganggap orang-orang yang dekat dengan kita sebagai bagian dari hidup kita, menganggap mereka sebagai keluarga. Film ini juga menyadarkan kita bahwa kesuksesan dalam hidup kita tergantung dan berawal dari keluarga.  Apalah artinya menjadi sukses di masyarakat jika keluarganya sendiri berantakan. Menyadari betapa pentingnya keluarga adalah pilihan. Menentukan siapa yang menjadi bagian dari keluarga adalah juga pilihan. Bahkan keinginan untuk berkeluarga atau tidak pun pilihan.

Menyendiri atau berkeluarga adalah pilihan.

Yogyakarta, 17 February 2017
Pagi yang dingin.

sumber gambar: sini

Advertisements

2 thoughts on “Kesendirian adalah Pilihan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s