Ulasan atas film “Steve Jobs”

“Aku tidak bilang kalau aku ingin orang-orang tidak menyukaiku. Aku hanya tidak peduli jika orang-orang tidak menyukaiku..” (Dialog film Steve Jobs)

Seorang pemuda dengan didampingi beberapa krunya yang setia tengah stress untuk mempersiapkan presentasi produk perdana mereka yang bakal merubah masa depan dunia teknologi, Macintosh, komputer personal pertama yang menggunakan tampilan yang mudah dipahami oleh masyarakat awam, alih-alih bahasa pemrograman seperti komputer lain sebelumnya. Masalahnya sederhana saja, pemuda ceking berwajah tampan itu mengharap komputernya bisa mengeluarkan suara “Hello” ketika presentasi nanti. Sebuah permintaan yang cukup rumit dilakukan pada saat itu (setting tahun 1984). Meski ditentang banyak krunya, dia tetap bersikeras, dia ingin menampilkan kesan bahwa Macintosh adalah produk (pertama) yang ramah terhadap masyarakat awam. Pemuda itu bernama Steve Jobs.

Steven Paul Jobs adalah salah satu tokoh di bidang teknologi informasi dan komunikasi yang memiliki imajinasi luar biasa kreatif. Bersama dengan perusahaan yang didirikannya, Apple Inc., Jobs menawarkan inovasi-inovasi teknologi yang selalu terdepan dan tentu saja selalu berpihak pada efektifitas pemenuhan kebutuhan manusia. Imajinasi yang liar ditambah dengan ketekunan serta “kekeraskepalaan” untuk memperjuangkan impiannya membuat Steve Jobs menjadi salah satu tokoh terbesar di bidang teknologi.

Berbeda dengan film mengenai Steve Jobs (dan Bill Gates) sebelumnya, Pirates of Sillicon Valley (1999) yang menceritakan tentang bagaimana Steve Jobs berjuang dari nol bersama temannya, Steve Wozniak, untuk menciptakan komputer yang ringan dan bisa digunakan masyarakat awam (di era di mana komputer masih merupakan barang elektronik raksasa yang hanya bisa digunakan oleh kalangan tertentu) hingga mencapai kesuksesan besar melalui perusahaan yang mereka dirikan, Apple Inc., film ini “hanya” berfokus pada beberapa titik penting dalam hidup Steve Jobs ketika berada di puncak kesuksesannya bersama perusahaan yang kini terkenal dengan produk iPhone, iPad dan iPod-nya itu. Film ini adalah tentang bagaimana pria kelahiran San Fransisco ini gigih memperjuangkan idealisme dan impiannya di tengah gempuran masalah dengan berbagai pihak, termasuk keluarganya.

Mungkin jika Anda mendengar tentang film tokoh-tokoh yang memperjuangkan impian-impiannya, Anda sudah bisa membayangkan bagaimana alur ceritanya. Mengingat sebagian besar film-film Hollywood memang memiliki premis kisah tentang pencapaian impian. Sayangnya (atau untungnya?), film biografi mini Steve Jobs ini tidak sesederhana kisah tentang impian pada umumnya yang biasanya diawali dengan kegembiraan lalu didera konflik hingga sang tokoh utama benar-benar merasa terpuruk tapi kemudian bangkit lagi hingga menemukan cara untuk mencapai impiannya.

Sedari awal hingga akhir, emosi penonton terus digenjot tinggi dan bertubi-tubi. Sedikit sekali penonton diberikan ruang untuk bernapas lega atas alur cerita yang terus-menerus “serius” dan tegang. Meski tidak terjebak menjadi film thriller, film ini membuat nafas kita terus memburu sembari mengikuti emosi Steve Jobs (diperankan oleh Michael Fassbender) yang terus-terusan mengejar apa yang dia mau agar pasti terlaksana. Di film ini digambarkan bahwa Steve Jobs adalah orang yang pantang kalah, dia ingin selalu menang walau untungnya tidak sampai membuat dia terlihat arogan atau jahat seperti umumnya penggambaran tokoh antagonis. Steve Jobs digambarkan tetap sosok seorang ayah yang peduli pada anaknya (yang pada awalnya dia tolak) seperti menanyakan lagu apa yang sedang dia dengar hingga janjinya untuk menciptakan gadget yang bakal menggantikan keberadaan Walkman yang selalu dijinjing oleh putri satu-satunya itu (kelak gadget ini dikenal dengan nama iPod).

Begitu intens dan bertubi-tubinya ketegangan emosi yang dibangun oleh film ini, tak ayal film sempat terasa begitu menjenuhkan khususnya di setengah bagian awal, ditambah lagi banyak adegan yang berbicara mengenai istilah-istilah yang lebih dipahami oleh para penggila komputer serta kalangan yang berkecimpung dalam hal bisnis dan manajemen perusahaan. Mungkin sang pembuat film sengaja mengatur tensi emosi sedemikian rupa untuk menggambarkan betapa gigih dan trengginasnya karakter tokoh yang menutup usia pada tahun 2011 lalu ini.

Apakah film ini inspiratif seperti umumnya film-film yang bercerita tentang pencapaian impian yang lain? Hmm…kalau menurut saya tergantung bagaimana Anda mampu meletakkan persepsi Anda. Bagi penonton awam, film ini mungkin tidak serta merta mampu menggugah semangat Anda untuk bangkit memperjuangkan apa yang menjadi impian Anda seperti film-film bertema impian lainnya. Meski digambarkan bahwa Steve Jobs memang selalu ingin menciptakan inovasi yang senantiasa berpihak pada kenyamanan masyarakat awam (di luar harga produk-produknya yang bagi penduduk negara tertentu, termasuk Indonesia, terhitung tidak terlalu bersahabat), impian-impian itu terkesan hanya selintas, tidak benar-benar menjadi premis utama film produksi tahun 2015 ini.

Tidak harus benar-benar menjadi penggemar produk-produk Apple jika Anda ingin jenak menikmati film ini. Jika Anda ingin menikmati film tentang pencapaian impian dalam bentuk yang berbeda, film ini layak untuk dipirsa.

Yogyakarta, 23 Januari 2017
Menjelang Ashar.

sumber gambar: sini

Advertisements

One thought on “Film tentang Mimpi yang Lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s