Ulasan atas film “Istirahatlah Kata-Kata”

“Aku ingin kamu pulang. Tapi aku juga tidak ingin kamu pulang. Aku hanya ingin kamu ada.” (dialog Sipon, istri Wiji Thukul).

Sepasang suami istri menjumputi semut-semut yang mengotori segelas air putih yang mereka reguk sembari sesekali menertawakan keadaan mereka. Sesekali sang suami harus meludah karena semut-semut yang terteguk, sedangkan sang istri hanya tersenyum penuh makna karena kerinduan yang akhirnya tertuntaskan.

Jujur, bagi saya film ini benar-benar kurang ajar!! Film yang berjudulkan kata-kata yang harus beristirahat dengan eksekusi yang memang benar-benar minim kata-kata tapi di saat yang sama membuat saya juga ingin berkata sebanyak-banyaknya namun akhirnya yang keluar malah kehabisan kata-kata. Sungguh kurang ajar!!!!!

Jarang sekali saya terpikat oleh film Indonesia. Saya akui saya memang sempat cukup berkecil hati dengan perkembangan film karya anak negeri. Bisa jadi karena saya yang memang jarang mengonsumsi film lokal ditambah lagi sekalinya saya menjajal, yang ada hanyalah film berkualitas abal-abal yang hanya bisa bikin hati kesal. Kalau sudah begitu, saya akan jaga betul saya punya finansial agar tidak asal bayar film yang memang hanya bisa bikin sebal.

Tapi film arahan sutradara Yosep Anggi Noen ini benar-benar memberikan kesan yang mendalam buat saya. Silahkan bilang saya lebay atau mungkin latah memberikan ulasan yang serba “wah” atas film ini, tapi saya akui film ini memang benar-benar memikat. Bercerita tentang fragmen hidup Wiji Thukul, penyair dengan puisi-puisi yang membakar semangat para demonstran untuk menggulingkan rezim Orde Baru, ketika melakukan pelarian ke Pontianak, Kalimantan Barat, sekitar tahun 1996 (setahun sebelum dia dinyatakan hilang dengan dugaan diculik aparat militer suruhan pemerintah Orde Baru).

Setia pada judul, film ini memang tidak cerewet dengan dialog-dialog yang serba puitis atau bahkan dengan gambar-gambar yang genit bersemiotis. Perpaduan antara minimnya dialog dengan jeda panjang shoot ruang-ruang kosong yang bertaburan cukup banyak di film ini mampu menciptakan kesunyian yang “riuh”. Yosep Anggi Noen cakap betul dalam menggambarkan pelarian Wiji Thukul yang harus bersembunyi dalam sunyi tapi sekaligus mendebar-debarkan.

Istimewanya, betapapun legendarisnya perjuangan Wiji Thukul dalam melawan tirani rezim Soeharto itu, film ini tidak berusaha untuk mendramatisir kesan heroik dari penyair asli Sorogenen, Solo, Jawa Tengah itu. Wiji Thukul digambarkan sebagai manusia biasa yang tetap bisa ketakutan  berpapasan dengan orang gila, membawa pulang kacang rebus dan sabun hotel untuk oleh-oleh anaknya, hingga takjub pada dua orang ibu-ibu yang menghibur bayi yang takut akan gelap karena pemadaman listrik dengan menyalakan sepeda motor hanya untuk menerangi sang bayi dengan lampu motor.

Kesunyian memang selalu membawa nuansa magis. Dalam kesunyian kita mampu menemukan kedirian. Dalam kesunyian kita mampu mencapai pemahaman. Dalam kesunyian pula kita mampu menggerakkan diri untuk melawan ketidakbenaran!

Film yang wajib Anda tonton!!

Yogyakarta, 19 Januari 2017

Hari pertama pemutaran film Istirahatlah Kata-Kata di beberapa kota di Indonesia.

sumber gambar: sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s