Seorang wanita berusia tengah lima puluhan terduduk nyaman di depan pintu samping rumahnya, tawa kecil dan sesekali geleng kepala menyertai aktifitas tangannya yang mulai lincah mengusap layar handphone, barusan saja si wanita mendapat “lungsuran” android dari anaknya, dan segera saja takjub dengan kecanggihan benda datar yang mampu memangkas jarak dan waktu tersebut.

Melihat foto lama, ngobrol dengan teman yang dulu entah berada di antah berantah, bertatap muka dan bercakap lewat layar datar, sungguh luar biasa. Kemudian mampirlah beliau di sebuah media sosial yang memuat segala berita dan apa saja, segala status dan gambar. Asli boleh, yang palsu sekalipun tak haram diunggah.

Artikel mulai dibaca dengan seksama satu persatu, mengenai lele yang menyimpan sejumlah sel kanker, mulai membuatnya takut bahwa selama ini lele adalah hewan favoritnya. Kemudian ada artikel bahaya kopi, dia beralih ke teh, teh terlalu banyak kafein membuatnya hanya minum air putih, dan dia menemukan artikel selama ini caranya minum air putih salah.

Pening dia dibuatnya, belum lagi ternyata ada harga yang harus dibayar buat segala percakapan virtualnya selama ini dengan sesuatu yang dinamakan kuota, dan yang membuatnya tak habis pikir, memasak, membersihkan rumah pun mencuci bisa tersisihkan sementara jika beliau sudah berasik masyuk dengan si layar datar. Baru saja, seorang lagi melangkahkan kaki melewati pintu dunia barunya.

Seorang remaja menjelang pubertas melangkah tanpa pikir panjang melewati pintu dunia barunya, bapak ibunya sendiri yang membangunkan pintu beserta kuncinya dan dirupakan dalam wujud smartphone pada putranya. Segala hal tampak menggiurkan di dunia barunya, membuat kepalanya enggan menunduk malah makin mendongak ke atas.

Paha dan dada wanita bukan lagi gambar langka untuk dicari, motor gede lambang gaul tak luput jadi ajang persaingan, nongkrong di kafe sana sini tanpa lupa cekrak cekrek berswafoto. Seorang lagi telah menelan kunci pintunya sendiri, tak membiarkan orang lain atau bahkan orang tuanya sendiri mengusik dunia barunya, mengurung diri dalam kamar, dengan jiwa yang mengelana entah kemana.

Seorang wanita karir, tak asing lagi dengan segala gadget dan kemodernan. Belanja tinggal klik, berita selalu update, membaca segala jenis ilmu parenting dkk tapi terlalu sibuk menerapkannya tapi selalu bersemangat untuk bahan debat dengan ibunya tentang betapa kuno pola asuh dan didik orang tuanya dulu. Dunia baru menuntutnya aktif memberikan kabar terbaru suasana hatinya, dunia dan seluruh umat manusia sepertinya harus tahu dia wanita yang tampak paling bahagia. Pintu dunia baru lebih indah untuknya, tak ada omelan tetangga, rengek anak ataupun keluh kesah suami.

Seorang nenek nampak termenung di depan warung. Si anak tadi menyerahkan uang lima puluh ribuan padanya buat beli pulsa, ada setengah jam berlalu sejak beliau menyerahkan sobekan kertas bertulis angka beserta uang pulsa, namun yang namanya pulsa itu belum diberikan oleh si penjual.

Nenek memberanikan diri bertanya mana nih pulsanya? Pulsa itu apa guedhe banget wujudnya sampe susah bungkusnya? Rupa pulsa itu seperti apa kok sampe mahal harganya? Si penjual hanya tersenyum dan bilang “sudah masuk mbah”. Nenek pulang kebingungan, takut dimarahi anaknya, karena pergi membawa uang, pulang tak membawa apa-apa, duh..dunia baru terlalu rumit ya nek.

Masih banyak dan tak terhitung lagi berapa jumlah mereka yang membuka pintu dunia barunya. Makin banyak manusia yang berpijak di bumi tapi jiwa beserta lamunan melayang entah kemana.

Internet adalah pembuka dunia baru, segala pengetahuan, ilmu, berita bisa dengan mudah didapat, tanpa bisa memilih dan memilah mana yang bermanfaat mana yang tidak, mana yang berbahaya mana yang netral, mana yang curhat mana yang aib, semua campur aduk di sana. Yang diperlukan adalah kebijakan dalam membuka pintu ini, bukan hanya memilih mana yang patut dibuka, tapi bijak dalam menentukan waktu, kapan harus menutup pintu itu.

Kadang mengintip dunia lewat jendela lebih aman, tapi mana nilai petualangannya kalo gak nyoba sendiri? Iya gak?

Jangan lupa bahagia dan jangan lupa pulang ya 🙂

Jmb160117

Advertisements

4 thoughts on “​Buku adalah jendela dunia, sedangkan internet ibarat pintu membuka dunia baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s