Ulasan atas film “Arrival”

 “Jika kau diberi kesempatan mengetahui kehidupanmu dari awal hingga akhir, apa yang akan kau lakukan?” (Louis Banks – Arrival)

Jujur saya tidak tahu harus dari mana memulai mengulas film ini. Film pertama yang saya tonton di awal 2017 ini memiliki lapisan-lapisan yang sungguh memikat. Saya takut jika saya salah memberikan ulasan malah akan terlalu jauh pada spoilering alias pembocoran plot. Tapi baiklah, seperti ulasan saya yang sudah-sudah, saya tidak akan memberikan ulasan seperti ulasan-ulasan pada umumnya, saya hanya akan memberikan sedikit pemikiran yang terbersit pasca dan tatkala menonton film ini. Btw, Anda bisa menghitung ada berapa banyak kata “ulasan” di kalimat sebelum ini sebagai selingan saja hehe.

Apakah “Asing” itu?

Keterasingan itu hanyalah masalah perspektif ataukah memang permasalahan perbedaan eksistensial? Setiap orang memiliki cara masing-masing dalam menyikapi hal yang asing atau keterasingan. Ada yang menganggap keterasingan sebagai hal yang mengancam, ada pula yang menganggap itu adalah bagian dari diri kita yang kita belum benar-benar memahaminya.

Film ini berbicara tentang bagaimana memaknai keterasingan. Di sini keterasingan bukan hanya masalah sesuatu yang baru atau berbeda sama sekali tapi juga bagaimana memaknai apa yang kita sebut sebagai asing. Kita diminta mempertanyakan manakah yang bakal kita asingkan atau bagaimana kita menganggap sesuatu menjadi asing.

Kedatangan benda asing berbentuk “pisang molen abu-abu” raksasa di bumi yang tersebar di 12 negara yang berbeda-beda itu memancing naluri manusia untuk mempertanyakan eksistensi mereka: kenapa mereka datang kemari?

Ada yang menganggap benda-benda asing itu adalah pesawat alien yang berencana menyerang bumi, hingga ada yang berpikiran bahwa “mereka” hadir di sini untuk memberikan pencerahan. Seperti halnya sebuah teks yang sangat leluasa untuk dimaknai apapun, kehadiran ke-12 benda asing itu menciptakan polemik yang bahkan mampu menciptakan konflik fisik kekerasan.

Ketakutan selalu akan menjadi lebih besar daripada apa yang ditakutkan. Begitulah manusia. Beberapa penganut paham skeptis yang menganggap kedatangan ke-12 benda asing itu sebagai ancaman akhirnya menciptakan suasana yang chaos, baku hantam bahkan hingga peperangan. Jenakanya, ke-12 benda itu padahal tidak melakukan apapun, mereka hanya terbang melayang sekitar beberapa puluh meter di atas bumi. Tidak bereaksi apapun. Seperti batu yang damai di tengah karpet masjid yang jarang dikunjungi orang dan hanya diramaikan saat sholat jum’at atau sholat ied.

Namun begitulah manusia, selalu mudah bereaksi berlebihan terhadap hal-hal yang belum dipahaminya. Seringkali seseorang mudah sekali untuk men-judge sesuatu walau belum benar-benar memahami dan mendalami apalagi mengalaminya. Kita hidup di jaman yang serba mudah: mudah mengakses informasi tapi juga mudah untuk menelan mentah-mentah segala informasi yang ditawarkan media tanpa ada keinginan untuk mendalami dan menyelidiki pokok permasalahannya dulu.

Kalau sudah begitu kita patut mempertanyakan: mana yang sebenarnya lebih asing, sesuatu yang kita anggap asing itu ataukah kita memperlakukannya sebagai sesuatu yang asing? Kalau sudah begitu, yakinkah Anda tidak asing terhadap diri Anda sendiri?

Film ini lebih dari sekedar film sci-fi biasa. Ada banyak lapisan yang bisa dijadikan bahan kontemplasi. Patut diapresiasi!

 

Yogyakarta, 14 Januari 2017
Sore hujan.

sumber gambar: sini

 

Advertisements

2 thoughts on “Mempertanyakan Keterasingan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s