Ulasan atas film animasi “Sing”.

 “Kau tahu apa yang mengasyikkan dari jatuh terpuruk? Karena hanya akan ada satu arah yang bisa kau tuju, dan arah itu adalah ke atas!” – (Buster Moon)

 Entah kenapa tahun 2016 kemarin dipenuhi film-film animasi yang bertemakan binatang (fabel). Mulai dari Zootopia, The Secret Life of Pets, Finding Dory, hingga yang menjadi penutup tahun kemarin, Sing. Ada apa dengan dunia binatang di jagat perfilman animasi?

Sing adalah film terakhir yang saya tonton di tahun 2016. Film ini dirilis kurang lebih seminggu sebelum tahun 2016 berakhir. Film produksi Ilumination Entertainment (IE) ini digarap cukup baik dan menghibur, setidaknya upaya IE untuk keluar dari ikonisitas para Minions yang tidak lagi lucu itu cukup bisa diapresiasi dengan baik. Walau di awal credit film, makhluk-makhluk kuning yang mulai menjemukan itu muncul juga barang sejenak bersamaan dengan judul rumah produksinya.

Hampir sama dengan Zootopia, film ini juga menceritakan tentang sebuah peradaban dunia binatang yang memetaforakan kehidupan manusia. Bedanya, premis yang ditawarkan Sing tidak se-“berat” Zootopia yang berbicara tentang intrik politik hingga pengucilan kaum minoritas. Sing berbicara tentang seekor (atau seorang?) Koala bernama Buster Moon yang berusaha untuk menghidupkan kembali gedung teater warisan keluarganya yang meredup karena dipandang tidak mampu lagi menawarkan kebaruan. Dengan mengadakan kontes menyanyi ala American Idol, X-Factor, atau The Voice, Buster Moon memikat ribuan masyarakat untuk berbondong-bondong mendaftarkan diri sebagai peserta kontes gara-gara kesalahan pencetakan poster hadiah kontes yang seharusnya hanya $ 1,000 menjadi $ 100,000 yang jika dirupiahkan dalam kurs mata uang saat tulisan ini dibuat berkisar dari 13 juta rupiah menjadi 1,3 milyar rupiah!

Seperti tulisan saya yang sudah-sudah, saya tidak akan berbicara banyak tentang ulasan atau bahkan kritikan akan film ini. Anda bisa menemukan puluhan tulisan yang jauh lebih baik dan kompeten dalam mengritik film ini melalui situs pencarian. Yang membuat saya tertarik adalah tentang bagaimana film ini (sebagai mana dua film lain tentang hewan yang sudah saya sebutkan sebelumnya) menyentil perilaku kita sebagai manusia.

Manusia adalah makhluk yang serakah dan selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Tidak peduli akan perasaan orang lain. Selama kebutuhan diri tercapai, habis perkara. Premis ini akan terus berlangsung selama manusia masih ada. Ada sisi kebinatangan dalam diri manusia yang seringkali membuat kita saling menjatuhkan dan memburu demi memenuhi kebutuhan dasar (atau bahkan sekunder) masing-masing.

Film ini memetaforakan masalah klasik manusia itu. Film ini menceritakan tentang profesi terkejam yang pernah ada: dunia hiburan. Kenapa terkejam? Bukankah dunia hiburan adalah dunia yang penuh kegembiraan, tawa, hingar-bingar, dan warna? Itulah masalahnya. Manusia adalah makhluk yang selalu terpikat pada kebaruan. Dunia hiburan selalu menuntut para pelakunya untuk mampu menawarkan kebaruan-kebaruan. Mengingat manusia mudah sekali berganti selera dan mengejar hal-hal yang lebih berkilau.

Kebangkrutan gedung teater milik keluarga Buster Moon ini adalah salah satu buktinya. Karena tidak lagi mampu menawarkan kebaruan, maka masyarakat memilih media lain yang lebih mampu menawarkan variasi-variasi yang lebih penuh warna. Parahnya, kebangkrutan ini malah disiasati dengan cara yang tidak kalah “kapitalis”nya: kontes menyanyi.

Sekarang coba Anda pikirkan, dari ratusan peserta kontes menyanyi yang digelar di televisi, mana yang benar-benar mampu bisa bertahan atau setidaknya diingat sampai sekarang? Apakah Anda masih ingat Ferry, sang juara pertama kontes menyanyi AFI (Akademi Fantasi Indosiar) yang sempat sangat booming di awal-awal millennium itu? Atau Joy Tobing sang pemenang Indonesian Idol 1 (yang kemudian digantikan oleh Delon karena permasalahan pelanggaran kontrak) yang waktunya hampir berbarengan dengan AFI 1 itu? Atau Siti pemenang Kontes Dangdut Indonesia (KDI) pertama?

Manusia memang makhluk yang tidak pernah kapok untuk mengulangi kesalahan yang sama. Seolah tidak pernah belajar dari sejarah kontes-kontes menyanyi yang sudah saya sebutkan sebelumnya, kini televisi kembali digempur oleh acara yang bertemakan sama: Dangdut Akademi. Hampir setiap hari televisi disesaki acara yang sebenarnya lebih menyorot tingkah polah para MC dan Juri yang sangat-sangat menyedot durasi itu. Meski digempur tiap hari, apakah Anda masih ingat siapa saja pemenangnya? Saya pribadi tidak, selain karena saya memang tidak punya TV di Jogja ini, ada TV pun saya enggan menontonnya.

Tentu karena ditujukan untuk segmen keluarga, premis kejamnya dunia entertainment itu tidak dibahas lebih mendalam di film Sing ini. Seperti halnya film-film keluarga Hollywood pada umumnya, premis utama film ini adalah tentang bagaimana kita bangkit dari keterpurukan. Kisah tentang hewan yang menyentil kehidupan manusia yang makin kehewanan.

Anyway, film ini tetap layak untuk disimak. Dengan taburan lagu-lagu pop yang sudah terkenal sebelumnya macam Bad Romance (Lady Gaga), Fireworks (Katty Perry), Stay with Me (Sam Smith) dan lain sebagainya, film ini cukuplah menghibur. Ditambah lagi adegan dan dialog-dialog dengan kejenakaan yang bagi saya cukup pas tanpa tendensi melucu-lucukan seperti film Illumination Entertainment lainnya yang saya yakin Anda tahu yang mana maksud saya.

Dengan pengisi suara para aktor tenar, Anda akan terpesona oleh sisi lain para aktor Hollywood yang ternyata juga cakap dalam bernyanyi macam Matthew McConaughey (yang saya akui agak pangling dengan suara khasnya yang biasanya terkesan macho dan ke-koboi-koboian), si seksi Scarlett Johansson, Reese Witherspoon dan lain sebagainya.

Semoga film binatang ini bisa memanusiakan kembali kita. Amin.

Yogyakarta, 13 Januari 2017
Jum’ah barokah.

sumber gambar: sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s