Sudah berapa kali Anda naik kendaraan umum, khususnya angkot? Sudah berapa line yang pernah Anda lewati? Akronim apa saja yang paling melekat diingatan Anda? Sudah dua tahun ini saya kemana-mana pake angkot, terutama saat pergi dan pulang dari kantor. Angkoters, itu sebutan orang2 bagi pengguna angkot. Sempat beberapa tahun seliweran pake motor di Malang (walaupun tanpa SIM), hingga akhirnya sekarang saya kembali menjadi angkoters selepas hijrah ke Surabaya (tenang… saya sekarang udah punya SIM kok)

Setelah beberapa kali naik angkot dan setelah melalui berbagai macam peristiwa nge-tem, serkong (geser bokong) dan uyel-uyelan, akhirnya saya mendapatkan ilham perihal pemilihan posisi dalam angkot. Berikut hasil temuan saya :

  1. Posisi samping supir/kursi depan

Penumpang yang memilih posisi ini merupakan orang yang gak mau repot dan sangat menjunjung tinggi kebebasan. Iya, karena orang yang mendapat tempat duduk ini akan merasakan kemerdakan selama di angkot. Di posisi ini penumpang tidak perlu geser-geser tempat duduk jika ada penumpang lain yang akan naik angkot. Selain itu, posisi ini sangat cocok untuk orang yang sering mabuk kendaraan. Posisi yang menghadap depan bisa mengurangi rasa mual saat naik kendaraan. Katanya…

Keuntungan lain dari posisi ini adalah pandangan yang luas menghadap jendela depan tanpa terganggu oleh penumpang lain. Posisi ini juga cocok untuk orang yang sedang cari alamat, jadi bisa tanya langsung sama pak sopir. Selain itu, kita juga bisa ngobrol langsung sama sopir angkot, hitung-hitung sebagai pengalihan rasa penat di jalanan. Namun, tidak jarang juga, kita jadi tempat curhat pak sopir. Hehehe..

Namun, pada saat jam sibuk, posisi ini tidak terlalu menawarkan privilege, karena jika bagian belakang angkot sudah penuh, maka posisi sebelah angkot ini akan diisi 2 penumpang. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana rasanya harus berbagi tempat yang tidak begitu luas itu. Apalagi jika penumpang memiliki badan alias bokong yang sedikit lebar. Walhasil penumpang yang sebelah kiri harus mepet ke pintu sedangkan penumpang satunya harus ekstra kerja keras biar dengkul atau paha gak nyenggol persneling mobil.

Sempat saya mendapat tempat duduk ini, dan waktu itu jalanan agak lengang. Wah enak nih, bisa santai kaya di pantai… batin saya. Ndilalah pak supir memutuskan untuk ngetes daya pacu tunggangannya ini. Walhasil jantung ini ikut-ikutan terpacu, karena acap kali angkot hampir nyundul kendaraan lain di depannya. Alhamdulillah, mungkin berkat jam terbang tinggi, pak supir sudah sangat lihai memainkan gas dan rem (main????) dan sepertinya belio juga sudah pandai mengukur jarak maksimum sebelum nutul truk di depannya. Alhamdulillah juga jantung saya masih dikasi kuat sama Yang Maha Kuasa.

 

  1. Posisi belakang supir

Posisinya memang mojok, dan penumpang bisa bersandar di bahu jok sopir dan juga bodi mobil. Selain itu, posisi ini juga memberikan kemudahan tersendiri bagi penumpang angkot.

Pertama: mudah berkomunikasi dengan sopir, karena mulut penumpang berada dekat dengan telinga sopir. Jika penumpang mau turun, gampang saja. Tinggal pilih : mau mbisik mesra “Kiri, Pak…” atau mau teriak “Kiri Pak!!! Pak, kiriiiii, kiriiiiiiik”, itu terserah Anda.

Kedua : Mau turun, tinggal lompat saja, karena pintu angkot berada di depan penumpang.Namun, terkadang ada saja sopir jahanam yang menaruh aki di bawah jok di posisi ini. Efeknya, pantat dan kaki lama-kelamaan akan terasa panas. Jika keadaan sedang ramai, penumpang di posisi ini terpaksa ndempis di belakang supir. Ditambah lagi jika pantat dan kaki panas karena aki yang ada di bawah kursi. Saat turun angkot, penumpang akan sedikit kesusahan untuk berdiri, karena posisinya yang terjepit di pojokan.

 

  1. Posisi belakang sopir, hadap belakang

Jadi begini. Posisi ini berada di samping pintu penumpang, di belakang jok pengemudi, dan penumpang yang duduk di posisi ini harus menghadap ke belakang. Saya agak kesusahan dalam menamai posisi ini. Ada ide? Yah, pokoknya saya harap Anda paham posisi mana yang saya maksudkan.

Di kota Surabaya yang terkenal panas ini, posisi duduk ini menjadi favorit di antara angkoters. Bagaimana tidak?  Sepanjang perjalanan Anda akan dibuai dengan hembusan angin sepoi-sepoi. Sungguh surga sebelum surga sebenarnya.

Tapi jangan salah… Posisi ini juga jadi posisi nomor 1 paling dibenci oleh angkoters lain yang tidak duduk di posisi tersebut. Why oh why? Sekarang coba Anda bayangkan. Pagi hari pukul 09.00, matahari sudah bersinar menyengat. Jalanan penuh dengan berbagai macam jenis kendaraan. Suhu udara pun sudah mencapai antara 27-32 derajat. dan di dalam angkot sudah penuh sesak ibu-ibu berangkat kerja, atau pulang dari pasar. Ketika itu, muncullah bulir-bulir keringat di dahi, di atas bibir, dan di ketiak. Jendela angkot tidak dibuka terlalu lebar, karena asap knalpot bis bagong bisa menyeruak ke dalam angkot. Harapan satu-satunya hanyalah pintu penumpang yang memang selalu terbuka lebar untuk siapa saja, termasuk angin yang kali itu berhembus dengan sejuknya. Alhamdulillah… batal bedak ini luntur di tengah perjalanan kerja.

Namun, semua itu berubah, ketika negara api menyerang. Akhirnya dengan merasa sama sekali tidak berdosa, duduklah penumpang laknat itu di dekat pintu. Tidaaaak!! Jangan kau halangi sumber kesejukan kamii!!! Ingin sekali kami berteriak seperti itu padanya. Bulir-belir peluh ini semakin deras mengalir, di pelipis, di punggung, bahkan di antara buah dada (bagi yang punya).

Padahal duduk di posisi menghadap belakang ini juga tidak terlalu nyaman. Biasanya dudukan bangku tidak begitu stabil alias hoyag-hoyag. Tidak jarang penumpang kehilangan keseimbangan. Ketika sopir mendadak mengerem angkot, penumpang terkadang merasa hampir njungkel. Dan posisi ini sangat tidak disarankan untuk penderita mabuk kendaraan. You know why

 

  1. Posisi kernet

Angkot di Surabaya, jarang yang pasang posisi kernet. Kalau di Malang, saya rasa masih banyak. Supir biasanya menyediakan kursi kecil panjang, yang diletakkan di bawah kursi penumpang sisi pintu belakang. Jika kursi empuk sudah terisi penuh, maka kursi ‘mungil’ ini akan dikeluarkan dari tempat persembunyiannya. Jika hanya satu orang yang duduk, penumpang bisa menghadap depan, searah dengan laju kendaraan. Lumayan, sambil ngangkot, sambil merasakan semilir angin, sambil menikmati pemandangan yang ada di pinggir jalan. Jika ada 2 orang yang menempati kursi ini, salah satu bisa menghadap ke dalam angkot, atau keduanya sama-sama duduk bersebelahan sambil berpegangan tangan menghadap keluar. Biasanya penumpang wanita lebih memilih menghadap ke dalam karena alasan keselamatan. Tapi penumpang pria lebih suka menghadap keluar, lebih bebas dan lebih fleksibel bergerak jika ada penumpang lain yang hendak turun dari angkot.

Selain bisa merasakan hembusan angin sepoi-sepoi, seperti tidak ada lagi kelebihan yang bisa ditawarkan posisi ini. Karena sebenarnya posisi ini agak berbahaya juga, karena jika tidak hati-hati, bisa-bisa penumpang malah njlungup dari posisinya.

 

  1. Posisi mojok di bagian belakang angkot.

Posisi ini, baik yang sebelah kiri maupun kanan, menjadi favorit saya. Dulu ketika masih sekolah di Malang, bersama seorang teman, kami kerap memilih duduk paling mojok. Jarak antara pangkalan angkot dan rumah kami yang lumayan jauh, jadi pertimbangan kami. Jika kami duduk di pojok, kami tidak perlu lagi repot-repot geser bokong. Jadi kami bisa leluasa ngobrol tanpa terganggu.

Alasan lain yang membuat posisi ini nyaman adalah karena penumpang bisa bersandar pada bagian belakang angkot. Bahkan tak jarang pula sambil tiduran, dan akhirnya bablas tidur beneran.

Namun, persoalan menjadi sedikit rumit saat akan turun angkot. Pertama: jika di angkot tidak disediakan tombol penanda turun, maka penumpang harus teriak “Kiri!!” agak keras hingga terdengar oleh sopir.  Tak jarang, sopir tidak ngeh sama teriakan kita, karena bisingnya suara dari luar, atau dari dalam angkot, di mana banyak penumpang lain yang juga heboh ngobrol sama tetangganya. Sialnya lagi, banyak penumpang yang tidak begitu kooperatif, sehingga mereka cuek saja walupun kita harus teriak beberapa kali. Sampai akhirnya kita turun kebablasan.

Permasalahan kedua: karena posisi yang mojok di belakang, ketika turun, kita harus membungkuk melewati jutaan penumpang yang lain. Dan jika keadaan angkot penuh sesak, yah… dengan terpaksa kami harus sesekali menginjak kaki penumpang lain. Bagi yang sudah kenal saya, tentu tau bentuk body saya yang agak-agak sexy semlohay unyu-unyu melambai ini. Beberapa kali bokong saya memakan korban, karena nggak sengaja nyundul kepala orang yang kurang waspada ketika saya turun dari angkot.

 

  1. Posisi standard

Selain posisi-posisi yang sudah disebutkan di atas, ada tempat duduk standard untuk penumpang angkot. Di sisi kanan dan kiri angkot terdapat deretan bangku empuk untuk penumpang. Di sisi pintu belakang, bisa ditempati 3 orang plus 1 tempat di pojok. Di sisi lain bisa ditempati 4 orang, plus 1 di belakang supir, dan 1 tempat di pojokan. Posisi standar yang dimaksud adalah tempat duduk untuk 3 orang di kiri dan 4 orang di kanan angkot ini.

Namanya posisi standar, ya standar-standar aja tempatnya. Kalau angkot sedang kosong, penumpang bisa leluasa duduk di tempat yang ada. Tapi, jika keadaan sedang ramai, penumpang harus rela berhimpit-himpitan dengan tetangga. Namanya juga angkutan rakyat dan ekonomis, jadi penumpang juga harus guyup rukun  kepada sesame penumpang. Kalo lagi PMS dan lagi mode senggol bacok, saya sarankan untuk ndak naik angkot. Takutnya nanti ada pembantaian massal di dalam angkot. Bukan yang lagi PMS yang mbantai, tapi justru dia jadi sasaran pembantaian penumpang angkot lain, karena kemenyek gak mau disenggol orang lain. Hehehe

 

Jadi begitulah Saudara sekalian, penjelasan saya mengenai risalah posisi dalam angkot. Semoga bisa menjadi masukan pertimbangan Kawan-kawan sekalian dalam memilih tempat duduk sehingga perjalanan akan terasa lebih nyaman. Namun, yang paling utama tetap perhatikan keselamatan dan keamanan. Selalu waspada jika ada penumpang yang mencurigakan, terutama jika ternyata ada tetangga yang mau nagih hutang. Segeralah pindah ke hati lain.

 

Mbok Saminten menek klopo, dodolan lepet ning Pasar Oro-oro Ombo

Cekap semanten atur kulo, menawi lepat kulo nyuwun sepuro

 

Surabaya, 11 Januari 2017

Gambar featur nyomot dari sini: https://i.ytimg.com/vi/np9Q_g78pMY/maxresdefault.jpg

 

Advertisements

9 thoughts on “Risalah Ngangkot

  1. Bikin kangen ngangkot lagi, sayang di Jogja adanya bis kota dan trans Jogja, jelas beda sensasi. Segala deskripsi yang rekan Rodokrono ungkapkan benar-benar melambungkan nostalgia kitorang buat ngangkot.

    Btw tulisan rekan Rodokrono semakin matang saja, lebih panjang dan bahasa yang lebih asyik, walau tetap dengan ciri khas dicampur kosa kata bahasa Jawa Timuran yang belum tentu semua pembaca paham hahaha. Saran sis, mbok dikasih keterangan tambahan kata-kata yang “njawani” itu, itung-itung teman-teman non-Jawa bisa belajar bahasa Jawa juga dikit-dikit.

    Btw lagi, poin ketiga paragraf keempat kalimat terakhir itu kata-katanya cukup “Harlequin” sekali ya, disambut lagi di paragraf berikutnya dengan kata “hoyag-hoyag” semangking membuat kitorang bijimane gitu. Hahaha.

    Liked by 1 person

    1. hahaha.. yo ndang kono Mas golek angkot di kota sebelah lek onok, cek iso nostalgia titik. Tengkyu sekali untuk semua saran yang membangun, sangat bermanfaat untuk perkembangan kualitas tulisan saya kelak..Aamiin.. Boljug tuh idenya buat kasi keterangan kata2 ‘asing’… kalo yg ‘Harlequin’ itu, aslie gak bermaksud membuat bijimane2, lha kan hoyag2 iku goyang2 to.. hahaha.. eniway, terima kasih banyak untuk apresiasinyaaaa 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s