Bisa jadi Anda membaca tulisan ini ketika sudah memasuki beberapa hari (atau bahkan bulan) di penghujung awal tahun 2017, tidak mengapa, toh tulisan ini hanya rekan berbincang, bukan petuah, alih-alih kontemplasi.

Banyak sekali peristiwa terjadi di tahun 2016 ini. Baik itu menyenangkan atau menyedihkan atau bahkan biasa-biasa saja seperti tahun-tahun sebelumnya. Kebaikan atau kesedihan adalah sebuah keniscayaan. Mana pengalaman yang baik atau buruk hanyalah masalah perspektif, tergantung bagaimana kita membacanya.

Ada yang merasa impian-impiannya tercapai, ada yang impiannya hancur lebur, atau bahkan yang tidak memiliki impian. Tercapai, tidak tercapai, atau bahkan tanpa pencapaian adalah pengalaman yang berharga. Tidak ada pengalaman yang lebih berharga dari pengalaman lain. Semua pengalaman sama berharganya. Yang membedakan hanyalah bagaimana kita menyikapinya kemudian melakukan tindakan lanjutan dari peristiwa yang kita alami itu.

Apalah arti menjelajah tempat-tempat baru, bertemu dengan orang-orang baru, mencoba hal-hal baru tanpa sikap yang juga baru? Sama halnya dengan apa ruginya memiliki pengalaman buruk, kegagalan, kepedihan, hingga kehilangan jika kita mampu menemukan kebahagiaan di baliknya, menemukan kebaruan yang mampu membangkitkan semangat dalam diri kita untuk menjalani hari-hari berikutnya?

Setiap pengalaman itu berharga. Bahkan pengalaman yang biasa-biasa saja hingga “tak ada pengalaman” juga berharga. Yang kita butuhkan bukan hal-hal baru, penjelajahan tempat-tempat baru, bertemu dengan orang-orang baru dan kebaruan-kebaruan lainnya. Yang kita butuhkan adalah keinginan untuk selalu memperbarui kebaikan dalam diri kita. Hasrat untuk selalu menemukan kebaikan yang baru dalam diri orang lain. Upaya untuk menemukan kebaikan dari segala yang kita dapatkan dan alami.

Saya harap Anda tidak salah paham menanggapi kebaruan ini. Tidak ada salahnya untuk mengalami atau memiliki hal-hal baru. Bahkan kita harus selalu mencoba hal baru dalam setiap langkah kita. Hidup terlalu singkat untuk mencoba hal-hal yang itu saja, bukan? Namun apalah arti mengalami kebaruan jika kita hanya terus berkutat pada hal-hal buruknya. Apalah artinya bertemu dengan orang-orang baru jika kita hanya terus berusaha mencari kesalahan dan keburukan-keburukannya? Apalah artinya menjelajah banyak tempat baru jika kita tidak bisa menemukan kebaikan dalam diri kita sendiri?

Saya tahu, hal-hal baru bisa memantik pengalaman yang baru pula, bahkan bisa membantu kita menemukan kebaikan dari diri kita yang selama ini tidak bisa kita temukan dari mengalami rutinitas yang begitu-begitu saja. Terkadang kita memang membutuhkan keterasingan untuk menemukan apa yang sebenarnya kita miliki.

Tapi kita tidak harus selalu kehilangan terlebih dahulu untuk menyadari apa yang seharusnya kita punyai, bukan?

Membuka kesadaran saja tidak cukup. Kesadaran haruslah diarahkan pada kebaikan. Perspektif kita akan segala peristiwa di hidup ini sebaiknya dituntun pada menemukan kebaikan dari segala hal. Hidup terlalu singkat untuk terus mengumpati keadaan. Hidup terlalu pendek untuk tidak dinikmati.

Selamat menyongsong tahun baru. Meski setiap hari adalah hari yang baru. Setiap detik adalah kesempatan untuk memulai kehidupan yang baru. Mari temukan kebaikan dari setiap hal. Mari menemukan kebaruan dalam setiap peristiwa. Mari memperbarui kesadaran! Mari memperbarui kebaikan!

Yogyakarta, 31 Desember 2016

Subuh.

sumber gambar fitur: dimari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s