Ulasan atas pertunjukan “Lena Tak Pulang” oleh Teater Hampa Indonesia.

 Sepasang cowok dan cewek datang dan menyambut penonton layaknya pembawa acara konvensional setelah dirasa penonton sudah cukup memenuhi sebagian besar kursi yang disediakan. Namun saya agak curiga pada sang cewek, sebab kostum dan tata rias yang dia gunakan tampak sedikit lebih “berkarakter” dari sang cowok. Saya menduga si cewek ini juga merangkap sebagai aktor dari pertunjukan ini. Berbeda dengan si cowok yang kostum dan tata riasnya lebih formal layaknya pembawa acara pada umumnya.

Benarlah dugaan saya, pasca membacakan beberapa nama pihak sponsor, mereka berusaha mempertemukan penonton dengan kisah yang disampaikan dengan cara berpura-pura ingin mengenali properti dan setting apa saja yang digunakan di panggung. Alih-alih melantangkan ucapan “Selamat menyaksikan!” sebagai pertanda dimulainya pertunjukan, dialog sepasang cewek dan cowok ini mendadak berubah menjadi dialog sepasang suami istri yang mempertanyakan keberadaan anak tunggal mereka, Lena, yang sudah beberapa hari tidak pulang. Sontak penonton mulai menyadari bahwa mereka tidak lagi menyaksikan sepasang cowok dan cewek yang sedang membawakan acara tapi dua aktor yang mulai menghidupkan cerita.

Pertunjukan “Lena Tak Pulang” yang digelar oleh Teater Hampa Indonesia pada 8 Desember 2016 malam di gedung Sasana Budaya Universitas Negeri Malang itu menjadi pengobat kerinduan saya untuk menyaksikan pertunjukan teater dari kota apel ini. Meski lahir dan dibesarkan di sini, tapi sudah bertahun-tahun lamanya saya tidak lagi bergulat di dunia perteateran Malang karena harus hijrah ke Yogyakarta sejak tahun 2009 untuk melanjutkan studi.

Ini adalah kali kedua saya menyaksikan pertunjukan yang diangkat dari naskah karya Muram Batubara ini. Sebelumnya saya menyaksikan pertunjukan ini dibawakan oleh mahasiswa jurusan Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta angkatan 2010 dalam rangka Pentas Perdana sebagai syarat “formalitas” diresmikannya mahasiswa baru jurusan Teater ISI Yogyakarta itu. Tanpa bermaksud untuk membanding-bandingkan, niat saya menyaksikan pengejawantahan naskah yang memenangkan Juara 1 Penulisan Naskah Teater Remaja Taman Budaya Jawa Timur tahun 2006 oleh Teater Hampa itu tidak lain tidak bukan hanyalah untuk mengobati kerinduan akan pertunjukan teater dari Malang.

Harus saya akui, saya wajib mengacungkan jempol untuk tim artistiknya yang mampu menghadirkan suasana dalam rumah yang benar-benar realistik. Walau memang patut disayangkan posisi dua tiang penyangga tata lampu yang berada di sisi kanan kiri depan panggung cukup mengganggu keutuhan pemandangan, utamanya bagi penonton yang duduk di depan panggung yang tidak bisa menyaksikan adegan yang terjadi di pintu dengan baik sebab pintu diletakkan sejajar dengan tiang. Meski tempat duduk penonton diatur berbentuk tapal kuda (U-form), tapi sebagian besar penonton lebih memilih duduk di depan panggung layaknya panggung proscenium konvensional.

Sayangnya kemegahan penataan ruang yang apik ini tidak diimbangi pemeranan yang baik oleh aktor-aktornya. Kurang adanya chemistry di antara pemain, dialog-dialog yang terdengar kaku karena belum menyatu benar dengan diri sang aktor sehingga terkesan hafalan, hingga ansambel permainan antar aktor yang agak berantakan yang menyebabkan beberapa tabrakan dialog hingga gimmick-gimmick adegan yang terasa gagal dieksekusi dengan baik.

Cara para aktor melafalkan kata-katanya itu sendiri terasa sekali berusaha untuk selalu diproyeksikan langsung ke penonton, padahal mereka sedang berdialog dengan aktor yang lain. Akibatnya interaksi antar aktor tidak terbangun dengan baik. Para aktor kurang mampu membangun peristiwa dengan baik. Para aktor terlalu tergesa-gesa untuk langsung membangun peristiwa dengan penonton tapi lupa untuk membangun peristiwa dengan sesame aktor. Padahal peristiwa dalam sebuah pertunjukan teater terlahir dari interaksi antar aktor yang didukung oleh tata panggung dan artistik yang memadai yang kemudian hasil dari semua itu dikomunikasikan pada penonton.

Ada lagi satu hal yang nampaknya sepele namun agak mengganggu saya yakni saat adanya adegan menonton televisi. Suara yang keluar dari televisi tidaklah langsung keluar dari pesawat televisinya melainkan keluar melalui tata suara gedung. Akibatnya, suara dialog antar pemain dikaburkan dengan suara berita televisi yang memenuhi seluruh dalam ruangan. Kenapa tidak langsung dari pesawat televisi saja? Meski mungkin tujuan dari mengapa suaranya harus keluar dari speaker ruangan adalah agar penonton bisa mendengar isi berita yang disiarkan. Masalahnya, isi berita itu di dalam cerita hanyalah menjadi selingan dan bukanlah masalah utama.

Adanya salah satu karakter tokoh yang polah tingkahnya cenderung karikatural (teman Lena 1) disandingkan dengan karakter lain yang cenderung realis juga agak mengganggu kenikmatan saya dalam menonton pertunjukan ini. Hal ini juga sempat ditanyakan oleh salah satu penonton ketika diskusi pasca pertunjukan berlangsung. Meski tidak ada yang salah dengan itu. Seorang sutradara berhak untuk menganyam pertunjukannya sebebas mungkin dan seorang aktor juga berhak untuk menginterpretasi karakter tokoh sekreatif yang dia mampu. Yang menjadi masalah adalah adanya ketimpangan kekuatan karakteristik yang cukup signifikan antara karakter karikatural tersebut dengan karakter realis lainnya. Penghadiran karakter karikatural tersebut saya rasakan jauh lebih kuat dibandingkan karakter yang lain. Ini terlihat dari porsi penggarapan musik untuk adegan tokoh ini yang agaknya lebih besar, belum lagi polah tingkah tokoh karikatural tersebut dalam merespon segala peristiwa di panggung yang bagi saya agak dibesar-besarkan, kemudian dipungkasi suara sang tokoh yang meledak-ledak seperti orang yang melulu marah–meski adegannya tidak sedang marah.

Dalam hidup sehari-hari, tokoh seperti ini memang ada. Masalahnya, ketika sudah diletakkan di bingkai pertunjukan, ada makna keutuhan yang perlu digarap dengan baik. Sebuah pertunjukan teater ibarat sebuah masakan. Sang koki berhak untuk memasukkan bahan apa saja ke dalamnya tapi tetap harus ada kenikmatan masakan secara utuh dan bukan hanya pada salah satu atau beberapa bahan.

Saya sepakat bahwa hidup ini pada dasarnya absurd. Tidak semua hal mampu berjalan secara linear dan mulus seperti yang diinginkan. Hidup selalu memiliki lapisan dan dimensi yang beragam. Tidak ada yang pasti di dunia ini, satu-satunya kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri. Meski demikian, bukan berarti kita harus larut dalam ketidakpastian, justru kita harus mampu memastikan apa yang ingin kita capai. Hidup haruslah bertujuan. Pun dengan teater. Teater berasal dari hidup dan sepatutnya dia mengenai hidup.

Jadi, pulang ke mana teater?

 Malang, 8 Desember 2016

Menjelang tengah malam.

Gambar fitur adalah koleksi pribadi penulis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s