Ulasan atas film 2001: A Space Odyssey arahan sutradara Stanley Kubrick

Apa yang paling mencekam dalam hidup Anda? Laba-laba? Ular? Ketinggian? Hantu? Peperangan? Kematian? Ketidaktahuan? Ataukah kesendirian?

Tanpa bermaksud sok tahu, tapi saya yakin sebagian besar orang takut akan kesendirian, sebab seberapa lamapun seseorang hidup sendiri, baik tanpa pasangan, keluarga, atau teman, pasti dia pernah merasakan betapa kuatnya cengkeraman rasa sepi ditinggal sendiri, terlebih lagi jika kita lebih tidak mengenal diri kita sendiri.

Jika Anda dimarahi oleh seseorang yang Anda cintai, entah orangtua atau siapapun itu, mana yang lebih menakutkan antara dicaci maki atau diam saja tanpa kata-kata untuk beberapa waktu lamanya? Sekali lagi tanpa bermaksud sok pintar, saya yakin jawaban kedua adalah yang paling mencekam. Kesunyian akan selalu lebih mencekam dibandingkan suara yang paling bising sekalipun.

Prinsip inilah yang agaknya dipatuhi benar oleh Stanley Kubrick dalam membangun ketegangan dari salah satu film besarnya, 2001: A Space Odyssey. Kesendirian dan kesunyian adalah dua hal yang pekat sekali digambarkan dalam film terbitan tahun 1968 ini. Sebagai salah satu sutradara visioner dan berpengaruh di abad 20, Kubrick mengajak kita untuk terus menerka-nerka apa yang ada di sebalik kesunyian-kesunyian yang banyak di hadirkan di film ini.

Sejak awal film diputar, penonton sudah diteror dengan nuansa yang cukup mencekam. Saya saja yang menonton film ini di laptop dirundung kegelisahan yang luar biasa tatkala harus disodori layar yang hitam belaka di awal film tanpa gambar atau tulisan sekalipun dengan musik orchestra gelap sebagai penambah ketercekaman suasana selama 3 menit lamanya!! Tidak bisa saya bayangkan bagaimana perasaan para penonton di era itu harus disekap di gedung bioskop dengan suasana semacam itu. Kubrick pandai betul membangun rasa klaustrophobia, ketakutan akan ruang sempit. Barulah ketika memasuki menit ketiga, muncul logo Production House yang memproduksi film ini, MGM Studios, perasaan saya jadi sedikit lega, ibarat menemukan swalayan Indom**et di tengah-tengah hutan yang luas luar biasa. Sungguh perumpamaan yang endorsing sekali hehe.

Saya tidak akan memberikan kritikan atau bahkan ulasan lengkap dari film ini, Anda bisa mendapatkan ratusan ulasan maupun kritikan mengenai film ini melalui situs pencari favorit Anda. Saya hanya akan menulis mengenai apa yang saya rasakan atau nilai apa yang bisa saya bawa pulang—walaupun saya menontonnya sudah di rumah—dari menonton film ini.

Berbeda dengan film-film horror saat ini yang lebih banyak mengandalkan adegan-adegan jump scared seperti hantu yang tiba-tiba muncul di layar atau musik yang tiba-tiba menghentak, serta penggunaan efek visual horror yang bahkan cenderung menjijikkan, belum lagi ditambah dengan adegan penuh darah dan daging yang berserakan, ketegangan film ini dibangun hanya dengan kesunyian yang terasa hampir di setiap adegannya. Alih-alih mengagetkan penonton dengan kehadiran hantu yang muncul tiba-tiba seperti film horror saat ini, setiap kesunyian dalam film ini tidak dipungkasi dengan kejutan-kejutan picisan semacam itu, sebaliknya, kita sendirilah yang membangun ketegangan-ketegangan itu.Belum lagi kegilaan Kubrick untuk menggunakan frame-frame yang lebar, menambah pekat kesunyian itu sendiri. Kesunyian yang “istiqomah” ini perlahan menggerogoti keberanian kita untuk mempertanyakan adegan apa yang bakal terjadi selanjutnya, bahkan hingga mempertanyakan eksistensi kita sendiri!

Bagi beberapa orang, film ini mungkin terasa “berat” atau bahkan “aneh”. Keterkaitan antara bagian awal, tengah, maupun film bisa dibilang tidaklah benar-benar linear. Walaupun makna dari “linear” itu masih bisa diperdebatkan lagi. Dari sudut yang berbeda, Anda bisa saja menganggap film ini adalah perpaduan antara tiga film yang berbeda. Satu-satunya perekat ketiga bagian film yang “berbeda-beda” ini adalah adanya seonggok papan baja raksasa di ketiga bagian film ini.

Tidak diterangkan secara gamblang apa makna dari papan besi hitam raksasa ini. Anda bisa saja memaknainya secara harafiah sebagai sebuah hasil teknologi Alien yang penuh misteri atau makna konotasi lain yang memiliki referensi makna tak terbatas. Dari beberapa sumber yang saya dapatkan di internet, benda ini dinamai Monolith. Anda bisa membaca lebih lengkap lagi definisi benda ini di internet.

Tapi justru itulah kehebatan Kubrick, dia sengaja menempatkan ketidakjelasan dalam alur kisah cukup mengalir (pada awalnya, hingga akhirnya Anda akan dibuat bertanya-tanya akan maksud dari adegan-adegan yang ditampilkan berikutnya). Seorang seniman yang baik tidak mendikte penikmat karyanya untuk mampu memaknai karya seninya selayak yang dia mau. Seniman yang baik hanya akan memberikan ruang bagi penikmat karyanya agar mampu menjelajahi sendiri kedalaman diri masing-masing. Setiap orang berhak untuk menginterpretasi sebuah karya seni sekreatif mungkin sesuai kemampuannya masing-masing.

Sebuah masterpiece yang patut Anda tengok!

Yogyakarta, 6 Desember 2016

Maghrib, hujan baru reda.

sumber foto fitur: sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s