Ini adalah salah satu dari beberapa film yang memberi saya banyak pencerahan. Terutama karena saya waktu itu memang berkecimpung di media. Jadi, rasanya kurang afdol kalau belum nonton film yang diangkat dari kisah nyata tersebut. Atas jerih payahnya, tim Spotlight yang dikisahkan dalam film ini sempat diganjar penghargaan Pulitzer untuk kategori Pelayanan Publik pada 2003 silam.

Jujur, walaupun saya ini bukan jurnalis sehebat Mbak Najwa apalagi Pak Elyas, bekerja selama 3,5 tahun di media, membuat saya setidaknya mengetahui dan menyadari beberapa hal. Sekali lagi, saya ini bukan apa-apa. Jurnalis? Ya elah, cuma kerja 3,5 tahun doang gaes. Saya mah hanya remahan kripik lumba-lumba saja. 😛

Pertama, pers adalah teropongnya masyarakat untuk melihat lebih jauh ke dalam suatu kasus. Di sisi lain, pers juga bisa menjelma jadi pedang bermata dua, yang membungkam kebenaran dan membenarkan kebathilan. Meminjam kata-kata bos saya dulu, media itu seperti  bazooka, kamu harus hati-hati menggunakannya.

Jangan asal tembak, karena kalau salah sasaran nasib seorang, dua orang, atau sekelompok manusia dipertaruhkan. Namun, bukankah segala hal yang hadir di dunia ini memang memiliki dua sisi. Jadi tergantung kita mau mengambil sisi yang mana.

Mengulas film Spotlight yang begitu mengena di hati saya. Dalam film tersebut, diceritakan bahwa sebuah tim jurnalis bernama Spotlight berusaha mengungkap kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum pemuka agama. Oke, saya sudah pakai kata oknum lo ya. Nanti dikira menggeneralisasi.

Ketika kasus yang ditangani tim Spotlight terkuak, korban pelecehan yang sebagian besar anak-anak itu sudah beranjak dewasa. Bahkan, ada yang sudah menikah dan punya anak juga lho. Itu artinya, kasus ini sudah bergulir lamaaaaa sekali. Memang ada semacam pembiaran karena pelakunya dari kalangan agamis.

Film itu juga menggambarkan bagaimana orang-orang yang berusaha mencari keadilan, dianggap akan membuka aib golongan tertentu. Alhasil, banyak umat yang ingin mereka bungkam dan diam saja. Intinya, diam lebih baik daripada membuka aib. Kemudian saya berpikir, kenapa mereka sebut itu aib? Sampailah saya pada satu kesimpulan, mereka merasa bahwa laporan itu akan mencoreng agama mereka.

Padahal saya yakin, kita semua sepakat bahwa itu hanya perilaku segelintir oknum. Agamanya tetap tegak, tetap diimani. Lantas, kenapa mereka bilang itu aib? Kemudian saya menganalogikan kasus itu seperti sebuah keluarga yang hendak menikahkan putrinya. Misalnya, calon mantu mereka ternyata kepergok selingkuh dengan dua wanita atau lebih, tapi karena undangan sudah disebar. Ya mau gimana lagi. Mereka tetap ngotot menikahkan putri mereka, meski sudah tahu busuknya si calon mantu.

Alasannya simpel, mereka takut nama keluarga mereka rusak. Takut diperolok orang lain dan lain sebagainya. Aib itu kemudian ditutupi dan diabaikan begitu saja. “Sedikit berkorban tak apa-apalah, demi kebaikan bersama”. Kok egois sekali yah. Berkorban sedikit? Lha, yang akan jadi korban di kasus itu kan cuma satu orang saja. Bukan bersama. Beda lagi kalau semua anggota keluarga mau dinikahi oleh si calon mantu busuk itu. Nah, itu baru adil. 🙂

Kemudian saya berpikir kembali. Kira-kira apa ya kata yang tepat untuk kasus semacam itu. Yap, “munafik”, rasanya tepat sekali. Meminjam kata-kata dari seorang teman, ketika agama diperlakukan seperti baju yang menempel di tubuh. Sesuatu yang kasat mata dan bisa dipegang. Mereka akan malu ketika baju itu kotor atau terciprat air comberan. 

Dari sinilah, definisi kemunafikan itu kemudian terbangun. Tapi kalau itu diperlakukan seperti jantung, ada di dalam, tidak kelihatan, tapi selalu berdetak dan memberi kehidupan. Kita akan senantiasa merasa terikat dan tidak terdorong untuk mempertontonkannya. Ya iyalah, masak situ mau narik jantungnya keluar terus ditunjuk-tunjukin ke orang lain. “Lihat nih, jantungku merah lho, sehat lho, nggak ada timbunan kolesterolnya lho”,

Kebenaran tetaplah kebenaran. Jangan anggap itu sebagai aib, hanya karena takut dilihat jelek oleh golongan lain. Jika ketakutan semacam itu membuat kebenaran harus dibungkam, apalagi hanya karena ingin melindungi citra publik saja, saya kira ini yang lebih pantas disebut aib. Aib besar bagi golongan itu. Bagaimana mungkin, mereka bisa beribadah dengan tenang, sementara ada di antara mereka, yang menangis setiap malam.

Terima kasih tim Spotlight. Kalian sudah membuat nama pers harum. Jika di antara kalian masih ada yang membenci pers, merasa beritanya tendensius atau memihak golongan tertentu, monggo dilaporkan ke Dewan Pers. Debatnya di situ saja, jangan di jalanan, apalagi sampai mengeluarkan kata-kata kasar dan memperlakukan para pewarta dengan semena-mena.

Advertisements

One thought on “Benar-Benar Belajar Dari Film Spotlight

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s