Untuk almarhumah ibuku yang sedang memasakkan masakan favoritku di sana dan menantiku pulang “sekolah”.

***

Syukur dan “Lebih Baik” adalah dua hal yang selalu dianggap saling tindih-menindih, saling menindas, berseberangan, saling mematikan.

Ketidakbersyukuran biasanya lahir dari keinginan untuk mendapatkan hal-hal yang lebih baik sehingga melupakan apa yang sudah dimiliki. Apa yang sudah didapat.

Manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang sudah didapatkannya.
Berbicara tentang sesuatu yang lebih baik tidak akan ada habisnya. Selalu saja ada yang lebih baik di dunia ini. Selalu ada yang lebih menarik, menantang, membuat kita penasaran, menggelitik kita untuk mendekati dan memiliki, menggoda kita untuk meninggalkan apa yang sudah dipunya untuk menjajal yang lebih memikat.

Ketidakpuasan bukanlah dosa. Itu manusiawi. Tapi bukan berarti pula harus dituruti.

Ibarat anak kecil yang terus merengek meminta jajanan yang lebih enak dan berwarna-warni walaupun ibunya telah memasakkannya masakan yang sehat dan bergizi. Sang ibu pun tahu kalau makanan yang direngeki oleh anaknya itu memang enak, tapi itu juga tidak baik jika dikonsumsi terus-menerus.

Ya, satu sisi Anda bisa saja bilang: kenapa sang ibu tidak memasakkan masakan yang bergizi itu dengan tampilan yang lebih menarik atau mungkin dengan bumbu yang lebih menggugah selera?

Well, benar juga. Tapi bagaimana jika sang ibu memang memiliki keterbatasan estetika yang mampu menyulap makanan menjadi sedap dipandang dan bahkan tidak mampu membeli banyak bumbu untuk membuat rasa masakan itu menjadi lebih pekat dan membuat lidah terpikat?

Sang ibu memang bisa belajar dan mencicil untuk membuat masakannya lebih baik, tapi apakah dengan demikian sang anak harus menunggu ibu selesai menguasai keterampilan menghias dan mengolah makanan hingga membuat sang anak kembali terpikat pada masakan ibunya? Lalu kapan makannya???

Bagaimana pula jika pencapaian yang dilakukan oleh ibu itu hanya mampu memikat sang anak beberapa masa saja dan ketika sang anak sudah mulai bosan, dia akan kembali penasaran mencari jajanan yang penuh kemilau tapi tidak menyehatkan itu?

Ini memang proses pembelajaran bagi sang ibu untuk terus belajar membuat sang anak bertahan di rumah dan menyantap sajian apapun yang disodorkannya. Tapi ini pula pembelajaran bagi sang anak untuk mampu memahami esensi: makan.

Sang anak mungkin memang belum pernah merasakan masa di mana betapa sulitnya mencari uang untuk sekedar mampu mengganjal perut barang sesuap dua suap. Masa dimana apapun bakal disantap selama bisa menunda rasa lapar.

Tapi ada tawaran yang tak kalah menarik dari kisah ibu, anak, dan masakan ini: memasak bersama.

Betapapun tidak karuannya hasil masakan sang ibu dan anak kelak, proses memasak bersama itulah yang jauh lebih lezat dibanding masakan itu sendiri. Sang anak akan lebih menghargai masakan yang dibuatnya bersama ibunya sendiri. Sang anak bisa merasakan betapa susahnya meracik bumbu, mengolah adonan, baju dan badan belepotan oleh tepung atau saos, dan lain sebagainya.

Pun dengan rasa syukur. Rasa syukur bukanlah anugerah dari Ilahi yang serta merta kita dapatkan. Rasa syukur adalah pencarian. Pencarian yang hanya mampu didapatkan dengan kesadaran. Kesadaran akan apa yang sudah didapatkan, kesadaran akan esensi apa yang sebenarnya kita butuhkan, dan kesadaran untuk terus berproses mencari apa yang kita butuhkan dengan apa yang sudah kita miliki.

So, mari memasak syukur…..

 

Yogyakarta, 28 September 2016
Pagi yang riuh dengan dera hujan deras dari semalam. Dan aku rindu masakan ibu 😦

Sumber gambar fitur: ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s