Jika beberapa waktu lalu aku membaca status media sosial seperti di atas, maka pasti aku kabur dan menjauh. Berpikir bahwa pria yang menulis itu adalah kaum pluralisme bahkan yang terekstrim adalah athesis. Wajar saja, menjelang pertengahan masa kuliah hingga lulus aku dalam tahap pencarian jati diri dalam hal spiritual, mempertanyakan keberadaan, Tuhan dan agama. Menggugat ini itu, ikut perkumpulan sana sini, belajar di masjid ini ikut pengajian itu, menyanjung filsafat dan logika. Biasalah…anak muda dan pencariannya. Aku tidak takut mencari, karena seorang rekan pernah berkata, ” carilah Tuhan, pun ketika kamu tersesat dalam pencarianmu, Tuhan pula yang akan menyentilmu”. Aku haus akan pencarian, kupuaskan dahagaku dengan memasuki segala tempat ibadah, merasakan segala hawa merinding atau damai yang bersinggungan, semua kusesap rasanya. Hingga pada suatu titik aku menyimpulkan bahwa aku seorang atheis, percaya Tuhan tapi tak yakin ada agama yang mampu mewadahi pemahamanku. Ditahun yang sama pula, dalam pencarian yang kukira sudah menemukan titik temunya malah berbalik arah. Diantara segala kemapanan dan kebebasan aku merasa hampa, dalam pikiranku membuahkan imajinasi, hidup seliar apapun tak akan membahagiakanku. Ada takaran ilahi dalam diri ini bernama nurani yang membimbingku kembali merumuskan bahwa aku butuh agama untuk mengaturku, mengendalikan hidupku dan apresiasi wujud terima kasihku untuk Ilahi. Aku mulai jadi makhluk beragama dan belajar lagi dari awal. Maka jelas dong saking sakleknya pola pikirku kala itu, aku males aja lewat jalur pacaran gak jelas, mauku nikah lalu pacaran. Kaya gak penting apalagi tampan, yang jelas kriterianya harus agamis, membimbingku dunia akhirat lah…kurang lebih begitulah aku dan cara pandangku beberapa tahun yang lalu, merasa paling benar beragama dan berTuhan, jadi wajar dong liat status di atas aku ogah banget.

Lucunya beberapa tahun kemudian Tuhan menjadikan si penulis status sebagai suamiku. Sungguh cara yang unik, disaat aku membutuhkan pendamping hidup agamis sebagai suami, aku menemukan sosok pluralisme tadi sebagai patner nyamanku. Hal yang sama juga terjadi pada suamiku, beliau kala itu “anti” banget ama wanita berjilbab dan gak taunya dia malah dengan mudah menerima keberadaanku yang pake jilbab. Aneh kan? Tuhan menyandingkan kami untuk belajar bertoleransi dan memahami. Tentu saja konflik batin selalu terjadi padaku, suamiku kala itu lebih liberal dan mengalir aja, aku yang sedari awal ngotot dengan kekakuanku akhirnya menyerah pada hati. Pernikahan dan kasih sayang sebagai puncak kasih berspiritual dan jalan pembukannya adalah hati. Maka akan percuma sekali jika aku mencari lelaki agamis secara kemasan tapi hatiku tak ikhlas menikahinya, buat apa jika nantinya segala kepatuhan karena keterpaksaan digaungi kata dosa.

Setelah pertimbangan alot dan konflik batin di setiap likunya, kami memutuskan untuk menikah. Sungguh pernikahan yang mengajarkan betapa indahnya demokrasi dalam berkeluarga, tidak memaksakan kehendak dan saling menghormati , berdasar kemauan untuk saling belajar dan membahagiakan satu sama lain. Pinginku sih setelah menemukan pria yang tepat langsung menikah saja, tanggal pernikahan sudah ditentukan. Sayangnya Tuhan lagi asyik membuat kami rajin belajar, dikarenakan meninggalnya bapak dan ibu suamiku di tahun yang sama, atas dasar pertimbangan budaya pernikahan kami diundur. Sekali lagi kami harus berkompromi dengan keadaan, akhirnya aku harus mencicipi juga yang namanya pacaran, walau jarak jauh. Pesta pernikahanku juga berasas demokrasi hehe..melibatkan banyak orang, banyak ide dan banyak kepentingan yang harus dipuaskan dan diselaraskan.

Tak terasa hampir dua tahun aku menikah dengan si penulis status dan kami sebisa mungkin menyelaraskan langkah untuk berdemokrasi. Ingat, berbeda belum tentu tak bisa berjalan bersama, cuma pelu mengayuhkan langkah bersama agar bisa beriringan. Karena tak selalu apa yang kau mau diberikan untukmu. Bersiaplah untuk berdamai dalam segala keadaan, karena yang terberi adalah yang terbaik dari Tuhan.

Berbahagialah dengan pilihanmu 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s