Saya marah? Iya
Menulis ini dengan emosi? Agak
Apakah banyak orang yang mengalami kejadian seperti ya? Mungkin iya, yang jelas saya gak sendiri.

Ini tentang apa tho? Ini tentang bagaimana menjadi orang yang tertib di negara kita tercinta, bagaimana sebuah kepatuhan menjadi pil pahit yang tertelan ketika jadi mahluk aneh diantara keluwesan dan kongkalikong sana sini.

Tulisan ini adalah akumulasi segala kepatuhan tata tertib yang kulakukan ternyata kadang  terkesan aneh dan tak berguna di negara bimsalabim ini. Aku pernah protes saat dibonceng sepeda sama adikku yang menggunakan headset saat berkendara, dia sih cuek aja kala itu. Suamiku yang hobby banget menerobos lampu merah juga sering kucubit kecil, bahaya banget kan? Baik buat kami maupun pengendara lain. Tapi dia asyik aja tuh, alasannya karena lampu merahnya terlalu lama. Suatu hari dia kena dampaknya kala nyelonong lampu merah dan dihadang pak polisi di depan. Suamiku kapok? Nggak tuh. Ini dari orang terdekat lho ya, dengan orang lainpun saya juga nyinyir peraturan. Sebagai pejalan kaki yang tangguh (maklum aja gak bisa naik motor hehe) saya pernah bersitegang dengan petugas parkir di salah satu toko penjual boneka, alasannya dikarenakan trotoar yang biasanya saya lewati habis buat parkir sepeda, terus saya harus lewat mana? Menepi sambil miring nempel tembok? Jadilah saya protes ke bapak tersebut dan bilang trotoar adalah hak pejalan kaki, sambil tak lupa saya sok potret sana sini dan sambil berjalan saya ngedumel kalo mau laporkan aja ke jasa marga, padahal sih mana tau saya prosedurnya. Besoknya trotoar tersebut bersih, beserta petugas parkirnya juga gak ada hehe

Mengapa saya seperti ini? Apa dari dulu saya seperti ini? Sebenarnya tidak, tapi saya berkesempatan mempelajari sebuah bahasa dimana masyarakatnya memiliki dedikasi tinggi penganut peraturan dan disiplin. Baik itu waktu, cara kerja dan bermasyarakat. Jadi tak heran nilai – nilai kedisiplinan itu memukau saya. Jika kita patuh akan peraturan, maka dampak baiklah yang akan kita terima. Kemudian tanpa sadar saya mengikuti alur kedisiplinan mereka yang tak pernah buang sampah sembarangan, mereka akan menyimpan sampah mereka sebelum menemukan tempat sampah. Di negeriku tercinta dengan gampang jalanan, sungai bahkan selokan jadi tempat pembuangan, jadi jika didekatku, walau cuma sebungkus permen kecil yang kau buang, pasti akan kupelototi.

Sempat saya pertanyakan, apakah budaya santai tanpa kepatuhan itu adalah ulah kita sendiri? Jangan-jangan kita sendiri yang sudah membudayakan dan membiasakannya. Contoh kecil saja ketika kami mengurus KTP dan KK, jelas tertulis dengan huruf kapital ” TANPA DIPUNGUT BIAYA” tentu saja aku nurut tak mau mengeluarkan uang sedikitpun, bukannya pelit, tapi untuk kedisiplinan bersama. Makanya aku sewot ketika suamiku sedikit-sedikit memberi uang tips buat ambil KTPlah, KK lah, nyari surat kematianlah, dkk..nah kan…kita yang membiasakan, lagi- lagi pak suami berdalih, biar cepat prosesnya. Nyatanya uang tips tak mempengaruhi kinerja, sama aja banyak salah ketik sana- sini, bolak balik nunggu lagi, makan tuh uang tips. Belum lagi celotehan para calo di tempat persidangan SIM, ” tinggal bayar 80 ribu aja dan tunggu beberapa menit tau beres deh, dari pada sidang, malah ruwet. Mumpung di sini masih ada budaya seperti ini mending dimanfatkan hehe”. Woooo manfaatkan mbahmu iku..
Belum lagi masalah parkiran, saya mana rela membayar jika emang gak diminta atau tukang parkirnya baru muncul ketika kita hendak beranjak pergi. Gitu kok ya ada yang ngasih uang walau tukang parkirnya tidak memberi karcis atau menjaga, itu akan membiasakan mereka menerima upah tanpa bekerja. Nantinya kalo marak parkiran liar dan kebiasaan meminta uang dimana-mana malah kewalahan sendiri. Toh juga mereka sendiri yang membudayakan hal tersebut.

Susahnya menjadi saya, tapi saya tetap optimis kok, banyak yang masih berpendapat kita bisa mendisiplinkan diri demi kenyamanan bersama. Tidak ada yang tidak mungkin, buktinya PT KAI sudah membuktikan, bagaimana memberantas calo dan penumpang berlebihan, dampak nyata sudah kita rasakan berupa pelayanan maksimal dan fasilitas kereta memuaskan, dan untuk sebuah kenyamanan kita tak keberatan membayar harganya.
Seperti kejadian yang barusan saya alami, saya didzolimi karena Iphone kiriman opa ditukar jadi LG dengan LCD pecah entah oleh pihak mana, bisa pos, bea cukai atau manapun. Saya pesimis saja kala itu, masak iya mereka mau mengusut barang tak seberapa itu. Tapi saya tak boleh pesimis, tak mau saya membudayakan budaya cuek demi kinerja yang lebih baik untuk jasa pengiriman Indonesia, hal ini dikarenakan banyak juga rekan- rekan yang mengalami kejadian serupa tapi mereka legowo mengandung sebal merelakannya. Makanya aku ngotot menelusuri hak milikku ke kantor pos dan syukurlah mendapat respon positif dan menunggu balasan klaim dari Jakarta. Apapun hasilnya nanti, saya sudah merasa lega, tidak membudayakan budaya cuek demi kenyamanan bersama kedepannya nanti.

Semangaaaaat…Indonesia nyaman,tertib dan disiplin bukan hal yang mustahil kok saya rasa. Asal ya balik lagi, kita stop membiasakan dan membudayakan hal- hal negatif. Minimal dimulai dari diri kita sendiri.

Chayo dan jangan lupa bahagia. 🙂

(Sumber gambar dicomot dari http://www.kaskus.co.id)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s