Salah satu kunci kebahagiaan paling hakiki adalah rasa syukur. Apapun yang diberikan pada kita merupakan pemberian terbaik yang pernah ada. Bahkan pada hal-hal yang kita anggap sebagai aib atau momok dalam sejarah hidup kita adalah bagian terbaik dari hidup itu sendiri. Syukur bukan hanya masalah perspektif tapi dia menyangkut keikhlasan untuk menyadari betapa indahnya hidup ini.

Seringkali rasa syukur dihubungkan dengan dikaitkan dengan kenikmatan benda-benda fisik, kesehatan, atau situasi/keadaan diri. Namun jarang sekali yang menyangkutkan betapa pentingnya menyematkan rasa syukur pada berkembangnya informasi yang terus kita konsumsi setiap hari. Jarang kita menyadari bahwa perspektif yang kita gunakan untuk mensyukuri segala macam benda-benda, situasi, hingga kesehatan itu merupakan hasil kolektivitas informasi yang terus bertambah setiap waktunya. Jarang kita mensyukuri betapa nikmatnya mampu mengakses informasi, sekecil dan se-“tidakberguna” apapun itu.

Pengetahuan tidak harus menjadi monopoli pendidikan formal. Mengetahui bahwa ada lubang baru di pojokan dinding rumah kita yang menjadi sumber akses masuknya semut-semut ke dalam rumah juga merupakan pengetahuan, mengetahui bahwa ada komedo yang susah untuk dicungkil dengan tangan kosong di sudut hidung kita juga merupakan pengetahuan, mengetahui betapa menjemukannya rutinitas keseharian kita yang itu-itu saja tanpa ada tantangan juga merupakan pengetahuan. Dan masih banyak lagi pengetahuan yang mampu terus kita akses dan koleksi setiap harinya.

Anda boleh saja menyebutnya sebagai kesadaran. Tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai pengetahuan. Karena selama “hal-hal baru” itu memberikan pendapat atau pertimbangan baru bagi Anda, yang entah apakah nantinya berujung pada aksi atau hanya pemakluman tanpa perubahan sikap, tetap mampu dianggap sebagai pengetahuan.

Tidak perlulah muluk-muluk membandingkan betapa kita harus bersyukur karena masih banyak anak-anak yang tidak mampu untuk mengecap bangku pendidikan formal bahkan yang mampu hingga jenjang tertinggi. Dengan menyadari bahwa kita masih diberikan kesempatan untuk mengakses berbagai macam “hal baru” di sekitar kita merupakan rasa syukur yang tidak terhingga terhadap pengetahuan.

Nah, sekarang tinggal masalahnya: pengetahuan itu dimanfaatkan untuk apa?

Syukur bukan hanya menyadari, syukur itu beraksi.

 

Yogyakarta, 29 Agustus 2016

Menjelang jam 7 pagi.

Advertisements

3 thoughts on “Mensyukuri Pengetahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s