Adakah kau pernah mendengar cerita tentang seseorang yang memanggul batu kemanapun dia pergi. Jika belum beginilah kurang lebih cerita ini berawal. Kisah ini berawal ketika seorang pengelana melakukan sebuah perjalanan. Tibalah dia di sebuah desa yang seluruh penduduknya pelit dan tidak ramah, tak seorangpun menegur ataupun memberinya barang seteguk air untuk minum. Dia begitu dendam pada penduduk di desa tersebut dan memutuskan untuk menyimpan emosinya dengan mengambil sebuah batu. Batu tersebut sebagai pengingat, betapa menyakitkannya perbuatan penduduk tersebut kepadanya.

Rupanya dia menjadi terbiasa untuk mengambil sebuah batu sebagai penanda emosi. Semakin jauh perjalanan yang dia tempuh, makin berat dan banyak pula batu yang dia angkut, bahkan dia masih bisa membedakan dengan jelas batu ini ketika dia berada dimana atau rasa sakit apa yang dia ingat ketika menggenggam sebuah batu. Hingga pada akhirnya pria tersebut mati karena tertimpa batu-batuan yang begitu banyaknya dia panggul selama ini.

Aku mendengar kisah ini di suatu malam dari seorang guru nan jauh di sana. Kenapa cerita ini memiliki relasi tersendiri untukku? Berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu adalah PR terbesar untuk seorang melankolis seperti diriku. Mungkin di mulut bisa saja berucap “oke”, ” fine”, “aku maafkan”, tapi emosi iti masih tertata rapi bagai api dalam sekam, siap berkobar dan menghanguskan kapanpun. Dampak paling berbahaya jika itu terus menerus menumpuk maka akan menggerus kesehatan fisik karena benturan hormonal dari dalam tubuh.

Kenangan tak mungkin bisa dilupakan, karena itu adalah bagian dari diri kita dan membentuk kita menjadi pribadi seperti sekarang ini. Baik kenangan pahit ataupun manis sama berharganya. Tapi yang berbahaya adalah, ketika menghadirkan kenangan kita masih memiliki emosi negatif yang timbul. Entah itu sedih, jengkel, marah. Tidak semua orang dianugerahi kemudahan untuk berdamai dengan emosi dan menjinakkannya, memang tidak mudah, tapi tidak mustahil pula untuk dilakukan. Walaupun terdengar retoris tapi kunci untuk melakukannya adalah dengan terua menerus berlatih untuk ikhlas dan bersyukur. Terus dan terus berlatih melepas dan membuang segala bebatuan yang dipikul, maka hidup akan lebih ringan melangkah, lebih positif dan memperbaiki hubungan kita dengan lingkungan sekitar.

Latihan secara terus menerus untuk merelakan hati berbuat ikhlas dan bersyukur atas segala yang ada tak akan membuat kita menoleh dan meruntuk lagi pada kegagalan masa lalu, tapi kita akan tegap memandang masa depan. Tak akan ada lagi rasa mellow ketika mendengar lagu, karena akan tergantikan dengan nada harmoni yang dulu pernah terdengar apik di telinga. Ketika berpapasan di wall medsos dengan mantan atau musuh lama, maka takkan ada desir-desir dendam, yang ada adalah rasa syukur, karena merekalah kita sekarang ada menjadi pribadi yang lebih kuat.

Buang perlahan batu di pundakmu dan tanpa sadar kau akan mampu berlari melesat mengiringi langkah ringan tubuhmu. Stop simpan batu-batuan dalam hidupmu.

Jangan lupa bahagia.

(Gambar dicomot dari dosa-dosa kecil redsuitee.wordpress.com i

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s