Setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa paling mubadzir dalam hidupnya. Masa-masa di mana waktu, tenaga, uang, kesempatan, bahkan kepercayaan orang lain tersia-sia begitu saja. Sejarah selalu berulang pada setiap manusia, walau kontennya saja yang berbeda-beda. Selalu ada bagian dalam hidup yang enggan untuk dialami kembali.

Lalu apa yang akan kita lakukan dengan sejarah hidup yang mungkin bagi kita tak layak untuk diingat-ingat lagi itu? Apakah kita akan terus berkubang pada penyesalan atau bahkan menolak sama sekali adanya rasa sesal tersebut?

Jika Anda pernah membaca postingan-postingan saya sebelumnya, di sana saya pernah berbincang tentang ketidakberdayaan manusia untuk mengatur apa yang bakal dia rasakan. Hanya Tuhanlah Yang Maha Pembolak-balik hati. Satu-satunya yang mampu kita lakukan adalah menentukan sikap atas perasaan yang kita dapatkan itu.

Tapi bagaimana dengan sesal?
Apakah penyesalan itu dikategorikan perasaan ataukah sikap?

Tanpa perlu bantuan kamus tulisan alm. JS Badudu, saya yakin Anda pasti paham apa arti dari sesal itu sendiri.
Bagi saya, sesal atau penyesalan adalah sikap yang dipilih oleh seseorang ketika dia merasa kecewa akan harapan yang tidak tercapai. Harapan tidak harus selalu berkenaan dengan masa depan atau masa kini tapi juga masa lalu. Ketika seseorang berharap hidupnya akan lancar-lancar saja dan waktunya termanfaatkan dengan maksimal, tapi kenyataannya tidak, itu juga bisa dikategorikan kekecewaan.

Namun apakah penyesalan adalah sesuatu yang patut dinafikan begitu saja? Acapkali penyesalan dijadikan kambing hitam tatkala seseorang enggan move on dari kekecewaan hidupnya. Penyesalan seringkali dibiangkerokkan atas keberkubangan seseorang dalam penyalahan diri yang berlebihan akibat kegagalan mewujudkan harapan.

Saya pun sering mengalami hal sedemikian. Seringkali penyesalan saya jadikan perhentian terakhir tatkala mengalami kegagalan-kegagalan dalam hidup. Penyesalan yang seharusnya hanya mampir dan menyapa kita untuk mengingatkan bahwa kita harus terus berjuang dan berusaha malah saya jadikan tempat mengadu bahkan selimut yang tebal di tengah derasnya hujan kekecewaan yang meremas tulang dan menusuk kulit. Kenapa jadi lebay gini bahasanya?

Tapi saya juga menyadari bahwa rasa sesal adalah salah satu pengingat terampuh yang pernah saya miliki. Tidak ada motivator yang lebih baik dari kesadaran akan kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan.

Menyesallah jika engkau berkenan, tapi tak perlulah itu dijadikan perhentian.
Setidaknya bersyukurlah masih diberikan rasa sesal di dunia, sebab ada rasa sesal yang mau tidak mau menjadi pilihan: sesal di kehidupan berikutnya. Nau’dzubillah…

*ya kalau Anda percaya akan adanya Afterlife 🙂

Yogyakarta, 18 Agustus 2016
Perpustakaan UGM, mendung keabu-abuan di Jogja.

sumber gambar fitur: sentuh aku, bang!

Advertisements

One thought on “Tak Perlu Kesal Pada Sesal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s