Hayo jujur, siapa yang udah gede gini masih kebiasaan nutup mata kalau liat adegan ciuman di film yang ditonton? Wajar saja kalau memang merasa risih sama adegan ciuman, apalagi nontonnya sama orang tua..waduh, bisa mati gaya sendiri deh. Tapi banyak juga lho yang sambil menutup mata tapi penasaran juga seperti apa rasanya. Bagi orang yang dibesarkan dengan bentuk didikan penuh kata tabu untuk beberapa bentuk kontak fisik memang akan terasa janggal jika harus melihat adegan seperti ciuman, berpelukan ataupun adegan ranjang di film atau di tempat umum.

Tidak ada yang salah dengan semua itu, tapi ada potensi  berbahaya jika penerapan kata tabu tersebut tidak diiringi dengan edukasi seksual yang benar dan disertai sentuhan kasih sayang. Kenapa saya bilang berbahaya? Mari kita coba mengejawantahkan bersama. Kebanyakan orang tua mewarisi pola asuh tradisional yang menganggap segala sesuatu yang berbau seksual itu merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan, dipertanyakan dan diskusikan. Tak heran pola asuh orang tua seperti ini kelak banyak menghasilkan generasi ekstrim secara terselubung dalam hal seksual. Bagaimana bisa ? Sudah kodrat alami manusia untuk mempertanyakan hal sekitar dan mencari tahu akan segala hal di sekelilingnya, bayangkan saja semisal seorang anak kecil dengan kepolosannya bertanya kepada orang tua dengan pola asuh seperti di atas mengenai kenapa alat kelaminnya berbeda dengan punya ayah atau bundanya, atau bertanya ini itu yang agak nyrempet-nyrempet hal tabu, maka kebanyakan akan dijawab dengan “huuuush…gak sopan itu! Sudah, ” itu” gak boleh dipegang”, bahkan kalau yang lebih ekstrim untuk anak perempuan banyak sekali kata “jangan” yang diancamkan secak kecil. Jangan ini nanti bisa hamil!, jangan cium bibir nanti bisa batuk! Jangan pegang ini nanti begitu! dan jangan-jangan yang lainnya.

Dampak yang bisa dirasakan adalah anak tersebut takut akan tubuhnya sendiri, takut menyentuh dan tersentuh atau dampak  lain akan tampak jika anak tersebut penuh rasa ingin tahu. Banyak sekali anak yang mendapatkan informasi seksual dari luar, bukannya dari orang tua mereka. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena mereka kapok bertanya kepada orang tuanya. Bisa bahaya lho anak dibesarkan dan diedukasi seksual oleh internet dan teknologi.

Saya adalah prodak hasil didikan orang tua dengan pola asuh tradisional dan dampak yang bisa saya rasakan adalah kehati-hatian berlebih pada tubuh saya. Ibarat kata sebuah keperawanan dan kemurnian layaknya telur rapuh yang mudah rusak karena sentuhan atau benturan. Saya jadi sangat amat ekstrim membatasi kontak fisik dengan lawan jenis, termasuk bapak saya. Saya tidak mau pegangan ketika berboncengan sepeda, saya merasa risih menerima pelukan bapak dan hebatnya saya kelu membeku menerima pelukan lelaki asing. Oh jangan salah arti dulu, orang asing pertama yang memberikan saya pelukan benar-benar orang asing, kala itu saya berkesempatan tinggal di keluarga Winter di kota Bad Toelz, Jerman. Di sana pula saya berkenalan dengan Opa Winter, beliau juga yang nantinya mengajarkan saya arti sentuhan dan kasih sayang.

Hari pertama saya tiba di rumah itu, saya mematung di depan pintu ketika disambut pelukan hangat dari Opa, bukan karena jengkel atau merasa dilecehkan, bukan itu. Saya mematung karena saya tidak terbiasa dan dibiasakan menerima pelukan, jadi reaksi pertama saya menerima pelukan adalah menjadi patung. Keluarga Winter adalah keluarga yang hangat, terdiri dari ayah, ibu, seorang putra dan putri beserta Opa (Oma baru saja meninggal kala itu). Di sanalah hati dingin saya yang beku dengan segala jenis interaksi fisik dan sentuhan mulai meleleh melihat segala kontak fisik yang terjadi. Ayah tak segan mencium dan memeluk sayang putrinya, bahkan putrinya pun tak segan mengecup bibir sang ayah ketika berpamitan, si kecil yang lelaki pun demikian adanya. Dia akan memeluk siapapun di dekatnya dengan manja dan memberi ciuman (dia hanya memberi saya ciuman di pipi, masih malu memberi ciuman di bibir). Dari keluarga inilah saya belajar, bahwa kontak fisik sebagai wujud kasih sayang bukanlah hal yang tabu. Pelukan dan sentuhan mutlak diperlukan untuk menunjukkan rasa dan perhatian. Dampak positif yang bisa saya rasakan adalah anak-anak kecil disana tak menganggap adegan pelukan maupun ciuman di televisi sebagai hal yang porno dan tabu, karena mereka dibiasakan menunjukkan kasih sayang lewat tindakan.Pendidikan seksual sesuai usia juga diterapkan disana, mereka diajarkan menjaga diri dan membedakan mana sentuhan nyaman dan tidak.

Akupun belajar untuk lebih mengekspresikan perasaan lewat sentuhan, tak segan memeluk untuk ungkapan terima kasih, senyuman beserta cium pipi untuk kangen dan sayang.sebelum pulang aku yang memeluk Opa, kucium pipi kanan dan kiri, aku berhasil mengungkapkan rasa sayang dan terima kasihku untuk Opa. Payahnya kebiasaan itu berlangsung hingga pulang, begitu bertemu teman-temanku ingin kupeluk dan kucium mereka satu persatu saking kangpersatu baik cewek maupun cowok. Wah…bahaya ini…dikiranya aku jadi wanita liar hehe, di rumah ibukku jadi sering menyerngit jika aku tiba-tiba memberi pelukan dan bilang “aku sayang ibuk…”, awalnya ibuk tampak risih karena tidak biasa hehehe tak mengapa, cuma perlu pembiasaan. Adikku yang paling kecil kubiasakan belajar mengungkapkan sayang lewat ciuman dan pelukan (dengan catatan dia bisa memilih dan memilah siapa yang memberi ciuman), dan terakhir bapakku, harus dibiasakan dengan pelukan nih, lebaran kemarin tanpa banyak bicara kuberikan pelukan untuk bapak ketika sungkeman, banyak rasa yang tertuang disana, bapak menangis dan akupun demikian.

Di sini saya mengajak untuk memberikan sentuhan dan kontak fisik kepada orang-orang tersayang di sekitar kita. Bukankah aneh ketika di rumah anak-anak tak pernah melihat orang tuanya saling memberi pelukan,ciuman dan kasih sayang ataupun bermesraan (bukan dalam konteks seksual lho ya!), kan aneh ketika bertengkar di hadapan anak dianggap wajar, tapi berkasih sayang malah ditabukan.
Bagi yang memiliki anak ataupun kerabat yang masih kecil coba dibiasakan diberikan kasih sayang dan jangan lupa disertai pendidikan seksual sesuai usia.

Nah bagi yang punya pasangan, coba berlatihlah mengungkapkan rasa lewat sentuhan, jangan hanya kata atau materi saja. Pelukan ringan, pegangan tangan, ataupun pandangan mata bisa terasa ketulusannya jika dibiasakan. Tak akan ada lagi senyum dan pelukan pencitraan antar pasangan jika memang dibiasakan. Nah…terakhir tentu saja persembahkan pelukan kasihmu untuk orang tua, jika belum pernah sama sekali maka cobalah, walau kaku pada awalnya, tapi pasti ada yang meleleh diantara pelukan dan sentuhan itu. Jaga hatimu dan sampaikan peluk cium untuk semua orang terkasih disekelilingmu

Advertisements

4 thoughts on “Sentuh aku!

  1. di rumah, dari kecil saya punya kebiasaan kalo mau kemana2 kudu pamit ke bapak emak, cium tangan, lalu mereka cium pipi saya 2 kali (kanan, kiri, kanan lagi, kiri lagi). Bahkan sampe sekarang kalo meu kemana2 mesti kaya gitu, walaupun di rumah sedang ada tamu atau ketika saya mau keluar sama mas pacar. Saya cuek aja diliatin orang2 itu, tapi lama2 bapak sama emak agak sungkan diliat orag.. hihihihi.. babahin aja!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s