Salah satu tugas saya di pagi hari adalah mencari berita terbaru yang berhubungan dengan bidang ekonomi dan bisnis di Jawa Timur. Jangan heran jika pagi-pagi kebetulan seliweran dekat desk saya dan melihat saya lagi manggut-manggut ato malah mencureng di depan layar laptop. Ya, itu karena saya juga masih awam dengan hal-hal berbau Wirtschaft und Finanzen. Tapi ya bagaimana lagi, itu salah satu bagian dari pekerjaan saya.

Tugas tersebut membuat saya jadi sedikit familiar dengan situs berita online baik regional maupun nasional. Yah… lumayanlah… Saya jadi tahu sedikit mengenai keadaan Jawa Timur. Terkadang saya pun menengok ke rubrik-rubrik lain misalnya kabar Jatim, Surabaya, Malang, pariwisata Jatim, Facebook (eh..), Twitter (lho…), Gulung Kuming (wajib!) dan medsos lainnya (walaaaah..). Salah satu rubrik yang sering jadi tempat persinggahan saya adalah Kelana Kota, yang ada di website radio kebanggaan masyarakat Surabaya. Berbagai macam berita diunggah di bagian ini, misalnya berita kecelakaan, pencurian, kemacetan, kebijakan pemkot, harga bahan pokok, demonstrasi di depan gubernuran, bahkan berita orang hilang.

Hari ini pun saya tak absen menilik situs ini. Saya menemukan ada rubrik baru di sana. Terdapat kumpulan artikel dan berita orang hilang yang dirangkum dalam judul “Ibu, Ayah… Tersayang”. Menurut prolog berita tersebut, 50 % laporan orang hilang dan ditemukan yang mengudara di radio tersebut adalah orang tua. Berdasarkan data Research and Development media tersebut, ada sebanyak 22 orang dilaporkan hilang dan ditemukan sejak Januari hingga Juli 2016. Separuhnya, berusia di atas 50 tahun.

Ada komentar?

Setiap saya membaca berita kehilangan anggota keluarga atau berita penemuan orang, hampir semuanya memang orang-orang tua. Yang langsung ada di pikiran saya : “Kok bisa? Di mana keluarganya? Di mana anak-anaknya??” Memang, ada banyak alasan kenapa para orang tua itu bisa terpisah dari keluarganya. Lanjutan dari data di atas, ada beberapa penyebab hilangnya para orang tua ini, antara lain karena mencari alamat anaknya, pikun, kabur dari rumah, serta tidak tahu jalan pulang atau lupa alamat rumahnya. Tapi, tetap saja, saya tidak habis pikir, bagaimana mereka bisa sampai luput dari pengawasan keluarga terutama anak-anaknya.

Iya.. dalam kasus ini saya memang lebih menyoroti anak. Iya.. mungkin saja beberapa dari orang tua itu memang tidak memiliki anak. Tapi, bukankah mereka memiliki saudara. Jika tidak, lalu siapa yang membuat laporan orang hilang ke stasiun radio itu? Tetangganya? Tukang sayur langganannya? Mbok jamu yang biasanya mampir ke rumahnya? Saya kira kok ya bukan..

Mungkin budaya perkotaan yang hektik dan semua orang serba sibuk bisa menjadi salah satu faktor kelalaian tersebut. Tuntutan kebutuhan hidup perkotaan yang semakin tinggi mengharuskan setiap orang, suami – istri,  untuk sama-sama bekerja dan harus sedikit mengesampingkan tugas mereka sebagai anak, yaitu merawat orang tua. Mengurus anak sendiri saja sudah repot, apalagi mengurusi orang tua. Tentu akan sangat menyita waktu mereka.

Lho alah… Kok ya saya ini gampang sekali men-judge bahwa itu semua kesalahan anak semata. Yah.. Saya kutipkan lagi ya lanjutan prolog yang ada di kumpulan artikel “ Ibu, Ayah… Tersayang” : “Kontrol keluarga terhadap orang tua seringkali rendah karena kesibukan aktivitas anak-anak mereka yang begitu produktif.” Menurut saya sudah jelas sih memang siapa yang lalai.

Dengan alasan terlalu sibuk sehingga tidak ada waktu untuk mengurus orang tua, akhirnya para anak ini memutuskan meminta bantuan pengasuh khusus untuk merawat orangtuanya. Menurut mereka cara ini merupakan bentuk perhatian dan kepedulian mereka terhadap orang tua. Iya, itu menurut mereka yang dulunya juga diasuh baby-sitter ketika masih kecil. Jika mereka dulu diasuh oleh orang tuanya sendiri, saya rasa mereka tidak akan tega untuk menyerahkan orang tua kepada caregiver. Saya yakin tidak ada orang tua yang mau merepotkan anaknya. Tapi bukankan berbakti dengan cara merawat orang tua sendiri merupakan bagian tanggung jawab kita?

Menurut saya, manusia itu baru benar-benar melaksanakan tugasnya sebagai anak, saat orang tuanya sudah tidak bisa mandiri lagi dan butuh perhatian dan perawatan dari anak. Ketika muda, kita berada di posisi sebagai anak yang dicurahi rasa kasih sayang dari orang tua. Beranjak remaja, kita terlalu sibuk untuk menggapai mimpi dan cita-cita, sampai makan pun kadang masih minta disuapi mama. Dengan bertambahnya usia, bertambah pula tuntutan dalam hidup kita, seperti menyelesaikan studi, mencari kerja, dan mencoba hidup lebih mandiri. Hingga kita akhirnya menikah dan disibukkan dengan urusan keluarga dan anak-anak sendiri. Sudah tidak ada waktu lagi bagi kita untuk peduli dengan orang tua. Namun, justru disaat seperti inilah kadar kebaktian kita kepada orang tua benar-benar diuji.

Well… Saya memang belum merasakan bagaimana repotnya mengurusi keluarga sendiri ditambah harus juga merawat orang tua yang sudah renta. Alhamdulillah bapak emak saya masih sehat wal’afiat dan apa-apa masih bisa sendiri.  Justru saya ini sedang iri kepada orang-orang  yang diberi kesempatan untuk berbakti kepada orang tua, yang diberi kesempatan untuk bisa dekat dengan orang tua.

Akhir-akhir ini saya kok merasa kurang perhatian sama orang tua. Saya anak terakhir dari 6 bersaudara. Ketika memiliki saya, orang tua tidak lagi bisa disebut muda, dan mereka sendiri sudah repot dengan banyaknya pekerjaan di sawah.Namun, dari dulu mereka selalu mengusahakan yang terbaik untuk saya. Tak pernah saya diminta untuk bantu-bantu matun  atau nggeblog pari  di sawah apalagi angon kebo. Mereka membiarkan saya berkutat dengan mimpi dan cita-cita, dan berusaha sekuat tenaga untuk mendukung saya. Saya bersekolah di sekolah yang bagus. Saya diberi kesempatan untuk kuliah dan mengambil jurusan pilihan. Emak bapak bilang, saya fokus saja sama pendidikan. Selesai kuliah saya diberi ijin ke Jerman selama setahun dan selepas itu sering bekerja full time, dan bahkan sekarang saya ada di luar kota. Entah mengapa, rasanya waktu saya kurang untuk mereka.

Jadi saya itu ya sering merasa eman-eman sama orang yang menyia-nyiakan kesempatan untuk berbakti dengan orang. Memang bentuk bakti tidak hanya dengan merawat dan menjaga mereka di kala mereka sudah tua. Hanya saja, ya itu tadi, saya gondok banget kalo ada berita kehilangan orang tua!

Haaalaaahh.. gombal banget!! Lha wong saban Minggu saja saya masih suka nggrundel kalo pagi-pagi disuruh anter beli pakan ayam di Pasar Blimbing! Owalah, Nok!

 

Featured image nyomot dari sini niiich!!

Advertisements

One thought on “Mereka tanggung jawab siapa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s