Ini mungkin adalah judul terpanjang yang pernah kubuat, tematik dari tulisan ini akan mengerucut pada kata pernikahan. Alasan dasar memunculkan tema ini dalam sebuah tulisan bukan karena secara kebetulan aku ditunjuk sebagai duta kawin oleh KUA setempat..bukan..bukan itu. Lahirnya tulisan nakal ini dikarenakan telepon dari adikku nan jauh di Jakarta beberapa Minggu yang lalu, berikut kira-kira celoteh kami kala itu,-
“Di (Didi itu sapaanku di rumah), mama kayaknya udah dapet tanggal buat nikahannya ayuk”.
” oh ya?!kapan nuk ?”(nah..kalo adikku yang bernama ayu ini disapa lenuk)
“Katanya sih gak jadi Oktober tapi Mei…”
Hening sesaat…
“Wah…bentar lagi dong..cepet lho itu  walau rasanya masih tahun depan”
“Iya se…tapi..Ayuk takut di…”
Heem…disinilah inti cerita dimulai. Karena capek bikin dialog selanjutnya aku persingkat dengan paragraf saja ya 🙂

Menikahlah, karena sesiap apapun orang tersebut, sejatinya dia tidak akan benar-benar siap untuk menikah. Jika ditunggu benar-benar siap, maka tak kan seorangpun yang menikah. Seperti layaknya ujian skripsi, pasti tahu dong rasanya dag-dig-dug mau ujian, sebelum hari H kita bisa tanya sana sini masalah soal, guru penguji, bahan ujian dkk, tapi di ruang sidang dan disertai persiapan sematang apapun tetep aja bikin deg-degan. Selain itu di ruang sidang pasti pertanyaan yang diujikan bakal berbeda antara satu dengan yang lain.

Nah..sudah bisa ditarik benang merah apa belum antara pernikahan dan ruang sidang skripsi? Jadi keduanya sama-sama menawarkan hal yang berbeda untuk dihadapi setiap individu, baik dengan persiapan matang ataupun tidak. Kita memang bisa meminta saran dan latihan sebelum menghadapinya, menelaah soal yang akan muncul dan cara handlingnya, tapi jika sidang telah berlangsung, tidak ada cara lain yang dilakukan selain maju dan berusaha bertahan dari gempuran para penguji. Seorang Tante dari temanku pernah berkata ” sebelum menikah buka mata dan telingamu lebar-lebar mengenai calon pasanganmu, tapi setelah menikahinya tutup mata dan telingamu, fokuslah padanya”

Aku sampaikan pada adikku, bahwasanya wajar-wajar saja mengalami ketakutan menjelang pernikahan…FYI dia sudah pacaran empat tahun lebih dengan calon suaminya, bukankah seharusnya dia bahagia akhirnya hubungan itu bermuara pada sebuah pernikahan? Ah inilah wanita, mahluk yang penuh kepastian namun diiringi keraguan. Aku telisik lagi, apa yang membuatnya takut untuk menikah?apakah mengenai pesta pernikahan? Ah..bukan rahasia umum lagi sebuah pesta mampu menyedot biaya yang jika dikalkulasi mampu digunakan buat DP rumah hehe. Kubilang ke adikku, sebanyak apapun uang yang dimiliki, pasti tak akan pernah cukup jika menuruti sebuah pesta pernikahan. Orang sekaya apapun pasti pusing mengatur pesta pernikahan, apalagi orang miskin. Gitu kok ya masih buanyaaaaak orang yang memaksakan sebuah pernikahan yang wah. In the name of tradisi katanya. Jadi untuk masalah pesta pernikahan bukanlah hal yang patut ditakutkan, karena hal ini bisa dirundingkan dan dibicarakan oleh kedua belah pihak.

Nah…aku curiga ketakutan adikku mengarah pada pertanyaanku selanjutnya, apakah kehidupan setelah pernikahan yang dia takutkan? apa karena tidak bisa memasak? Hehe .

Aku berbagi pengalaman dengannya disini, bukannya menggurui, toh aku menikah juga masih seumuran jagung yang sudah dipanen 5 kali :-). Dulu aku adalah wanita dengan kemampuan memasak dibawah standart, tapi aku tetap PD menikah dengan segala label ketakutan akan pertanyaan-pertanyaanku sendiri

“Nanti suamiku kuberikan makan apa?”, atau ” bisakah aku membuat masakan yang manusiawi?”. Awal menikah masakanku amburadul, tapi aku tetap belajar dan belajar hingga seiring berjalannya waktu aku bisa memasak makanan kesukaan suamiku dan melihatnya lahap menyantap masakanku adalah prestasi dan kebanggan tersendiri buatku. Jadi jika ada kemauan belajar segala hal akan menemukan jalan keluarnya.

Selain pentingnya sebuah KOMITMEN untuk mengikat rasa sayang dan cinta yang seringnya timbul tenggelam dalam pernikahan, dibutuhkan pula keberanian diri untuk telanjang. Ya, siap menikah berarti siap menelanjangi dirimu sendiri, bersikap tanpa tabir dan tendensi penuh make up pada pasanganmu, tak takut menunjukkan larik luka di tiap jengkal tubuhmu, siap membuka lemah dan rapuhmu. Sudahkah kau berani adikku sayang?

Kata terakhir yang paling penting untuk menikah adalah BELAJAR, ya kemauan untuk belajar satu sama lain, belajar untuk mengupgrade rasa, belajar saling memahami dan mengenali, belajar berdamai dengan ego dan belajar untuk menghormati.

Jadi…tak usahlah takut. Menikahlah..

Advertisements

8 thoughts on “Menikahlah…karena sesiap apapun tak akan benar-benar siap

    1. Yup…cowok trnyata lebih complicated dibanding cewek, cewek cenderung tegas diawal mikir belakangan lha kalo cowok kebanyakan lemot diawal tak tergoyahkan akhirnya…iku biasanya lhooo

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s