Dalam tulisan kali ini saya hendak menyinggung lagi pelajaran PPKn. Babnya mengenai kerukunan antar tetangga. Yup! Bukankah kerukunan antar tetangga itu bisa terjalin jika kita saling menghormati satu sama lain? Termasuk meghormati privasi tetangga dan privasi diri sendiri tentunya. Nah, hal yang belakangan disebutkan sepertinya sering diabaikan oleh masyarakat saat ini. Korban yang sering dijadikan sasaran bully-an mengenai privasi sendiri adalah remaja atau anak-anak kekinian.

Sebut saja nama kondang Awkarin. Tak perlu googling, pasti kamu tahu kan selebgram yang satu ini? Belum tahu? Yawes googling o! Saya kasih sedikit bocoran, dedek gemes satu ini belakangan semakin hits lantaran video patah hati yang diunggahnya ke YouTube. Plus lagi foto-fotonya di Instagram yang seronok tentu membuat mereka yang besar di era 90 an dan era-era sebelumnya makin bangga karena tak punya generasi seperti Awkarin. Yakin? Aw! Saya sih enggak.

Buktinya barusan, tetangga saya. Blio ini sudah berumur, sudah bercucu dan mungkin bercicit. Rivalnya pun sudah ibu-ibu, sudah beranak, pastinya bersuami, dan gemar memelihara kucing eksotis dengan perawatan apa adanya. Yang penting dirawatlah.

Alkisah, ibu-ibu ini sedang bertandang ke rumah mertua saya, membeli kebutuhan rumah tangga. Pas enak-enaknya ngobrol terdengar teriakan.

“Nu, Anu,” panggil mbah-mbah itu.

Merasa bermasalah utang piutang dengan Mbah Itu, Mbak Anu terang saja mengabaikan panggilan tersebut sembari berbicara pada mertua saya.

“Lho Mbak Bos, Mbah Itu panggil-panggil aku. Duh males,” keluhnya.

Tiba-tiba Mbah Itu sudah ada di depan rumah.

“Nu, ke mana aja to gak pernah kelihatan? Sini duduk-duduk,” ajaknya.

Asem! Dari sini darah saya naik. Tak terpikir trik dari Mbak Didischreibt untuk diam dan segera mengambil alat tulis. Wes kadung panas. Dengan santainya mereka membahas utang piutang tersebut.

Saya? Nggak tinggal diam dong! Dengan dongkol dan muka yang ditekuk, saya riwa-riwi di depan mereka. Tiba-tiba rajin bersih-bersih ruang tamu sambil banting sana banting sini. Hasilnya? Aw! Mereka tetap bercengkrama layaknya duduk di teras rumah sendiri.

Akhirnya saya menyerah, masuk kamar. Udah gitu aja? Bukan saya kalau nggak ngotot. Di kamar, saya setel lagu Adele dimulai dari Hello. Semoga mereka mengerti ke-hello an perilaku mereka. Terus piye piye? Tetep cyin! Malah saya sendiri yang akhirnya terhibur dan melupakan dua insan yang syahdu membahas utang piutang.

Aw! Jadi bagaimana? Melihat perilaku dua orang dewasa tersebut, apakah kaum yang (merasa) berumur tak perlu menghormati di bawahnya? Lalu, apakah perilaku saya masih bisa membanggakan generasi 90 an? Aw! Jawab sendiri deh.

Advertisements

2 thoughts on “Generasi jadul nggak kayak Awkarin? Aw, yakin?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s