Pernahkah kau akhir-akhir ini ingin sekali membungkam mulut orang yang pedas omongannya  dengan tamparan tangan? Tapi sayangnya yang bisa kau lakukan hanyalah tersenyum kelu sambil memberi sorotan mata “awas ya…emang belum pernah dirajam ini orang!”. Bila yang ekspresif dengan level kesabaran medium mungkin bisa membalas balik dengan kata-kata sarkartis, atau paling banter dicuekin aja. Ngapain juga di peduliin?

Nah masalahnya, jika kata-kata pedas itu muncul setiap waktu dan dengan didukung situasi emosional yang tidak tepat, sesabar-sabarnya orang pastilah memiliki titik ledak emosional.Di sini saya tidaklah mengajarkan untuk meluapkan emosi, karena kata-kata yang keluar di kala kita emosi biasanya banyak yang merugikan diri kita sendiri, tapi memeram emosi di dalam hati juga berbahaya, karena bukan rahasia umum lagi jika penyebab utama terjadinya penyakit kritis seperti kanker atau stroke dikarenakan manajemen emosi yang buruk dan menyebabkan stress. Stress inilah yang menyebabkan kacaunya sistem hormonal tubuh dan memicu timbulnya penyakit. Nah…sayang kan kalau kita jadi sakit dan stress cuma karena dampak omongan si mulut pedas. Apalagi yang bermulut pedas adalah orang dengan strata lebih tinggi, seperti atasan kita atau saudara-saudara tua.

Tiap orang pasti punya cara yang berbeda dalam menanggapi omongan yang pedas, tentunya ini disesuaikan dengan tingkatan usia dan kecerdasan emosional masing-masing. Bagi yang mengalami kesulitan untuk menyalurkan kejengkelan akibat efek lambe tersebut bisa mencoba salah satu cara yang saya gunakan. Sebagai info saya adalah pribadi yang reaktif, setiap ada aksi berupa omongan, baik itu menyakitkan atau tidak saya akan dengan mudah bisa menjawabnya, dengan sesuatu yang lebih menyakitkan tentunya. Apakah saya puas? Kala itu iya, tapi dampak jangka panjang membentuk saya menjadi pribadi yang sarkartis dan tanpa sadar mulut saya terlatih menjadi lebih pedas dari mereka. Hal ini adalah dampak meluapkan emosi tanpa berfikir terlebih dahulu. Layaknya sebuah hubungan arus pendek yang berpotensi menyebabkan kebakaran, maka sekring punya tugas dahsyat untuk memutuskan aliran dan mencegah kebakaran.

Sebuah penelitian pernah menyebutkan, cara paling mudah dan tercepat untuk menghilangkan rasa pedas di mulut adalah dengan minum susu, nah…ibarat susu dan contoh sekering seperti di atas layaknya sebuah rem pemicu peledakan diri sendiri. Dalam kasus saya yang reaktif butuh latihan bertahap dan tidak bisa spontan berbalik sikap. Cara yang saya gunakan adalah mengatupkan mulutnya rapat-rapat ketika mendengar kata-kata yang sengak , tersenyum dan tarik nafas perlahan dan berdialog dengan otak sebelum membuka mulut. Diam sesaat kemudian ambilah kertas dan bolpoin. Yup…mulailah menulis…tulis apapun itu. Atau kalau tak menemukan alat tulis ambillah hape atau apapun itu untuk menulis. Ternyata menatap layar putih atau kertas putih yang seputih susu mampu menetralisir emosi dan menulis adalah salah cara positif untuk menuangkan emosi tanpa menyakiti siapapun.

So guys…menuliskan! Biarkan lambe-lambe di luar sana bergema sendiri dan memacu otakmu lebih keras memerah kata-kata.

Sebagai closing…bagi yang suka makan pedas, jangan lupa mimik susu ya . Oo pantesan suami saya suka minum susu, karena mungkin mulut saya pedasnya sama dengan mie setan level sepuluh 🙂

Jangan lupa bahagia!

Advertisements

3 thoughts on “Lambe a.ka bibir alias cucuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s