Dihormati karena berilmu itu biasa.

Disanjung karena bergelar tinggi itu lumrah.

Dipuji karena banyak mengetahui itu tidak istimewa.

Tapi adakah yang menghargai ketidaktahuan?

 

***

 

Beberapa tempo yang lalu saya dan seorang rekan menonton bersama film “Rudy Habibie (Habibie dan Ainun 2)”. Itu adalah kali kedua saya menonton film ini, sebelumnya saya sudah menonton sendirian beberapa hari pasca pemutaran perdana sekitar sebulan yang lalu. Kemudian rekan saya meminta tolong saya untuk menemaninya menonton film perjalanan hidup presiden Indonesia ketiga itu dalam masa-masa perkuliahannya di Jerman.

Dengan mengesampingkan keheranan saya akan film ini yang bisa bertahan di bioskop selama lebih dari tiga pekan—tidak seperti pada umumnya film Indonesia lain yang biasanya mampu bertengger di sinema selama tidak lebih dari dua minggu, serta tanpa bermaksud untuk memberikan ulasan maupun kritikan akan film ini, saya akui film ini tetap memberikan daya gedor yang luar biasa bagi saya, betapapun sudah dua kali saya menontonnya. Padahal biasanya saya enggan sekali untuk menonton sebuah film untuk yang kedua kalinya, khususnya di bioskop. Tentu saya akan lebih memilih untuk menggunakan uang saya untuk keperluan yang lain, atau kalaupun harus tetap menonton film di bioskop, saya lebih memilih menonton film lain, walau mungkin film itu tidak terlalu saya kenal—atau mendapatkan review yang cukup buruk.

Ada satu adegan yang bagi saya cukup inspiratif. Tanpa bermaksud memberikan bocoran, ada sebuah adegan di saat Rudy (Habibie kecil) harus susah payah bertaruh dengan nyawa kembali ke rumah untuk mengambil buku dan replika pesawat kesayangannya saat pesawat tempur Jepang memborbardir kampung halamannya. Begitu cintanya beliau terhadap ilmu pengetahuan, sampai-sampai beliau tidak menghiraukan bahaya yang bahkan bisa menghilangkan nyawanya.

Tentu itu bukanlah satu-satunya adegan yang memikat saya, terlebih lagi adegan yang menunjukkan betapa cintanya pria asal Parepare, Sulawesi Selatan, itu terhadap ilmu pengetahuan. Bahkan ada salah satu adegan jenaka lain di mana saking inginnya Rudy untuk mempelajari mekanisme penerbangan, sampai-sampai dia menyuruh teman-temannya untuk berkeliling mencari balon—karena dia diceritakan belum pernah melihat balon secara langsung sebelumnya, hanya lewat buku—yang kemudian berujung pada penemuan kondom bekas yang kemudian dikira balon.

Saya yakin, kecintaan akan ilmu pengetahuan bukan melulu monopoli BJ Habibie. Setiap manusia pasti haus akan menguasai hal-hal baru. Sudah fitrah manusia untuk selalu tertarik terhadap variasi, tapi tidak banyak orang yang cukup tekun untuk mendalami. Ketekunan inilah yang kemudian menempatkan seseorang untuk dipandang “lebih baik” dibanding yang lain. Rasa penasaran haruslah diselesaikan, seperti kerinduan yang harus segera dituntaskan. Asek.

Dari adegan film yang telah saya celetukkan sebelumnya, saya kemudian berpikir tentang bagaimana orang dulu begitu besar rasa penghargaannya terhadap ilmu pengetahuan. Keterbatasan membuat orang lebih menghargai apapun yang dimiliki. Seperti slogan blog ini: keterpojokan membuat kita makin “beringas” untuk terus mencari.

Saya tiba-tiba teringat pada Tony Blank. Dia adalah orang yang memiliki keterbatasan kesehatan mental tidak seperti orang pada umumnya dan sempat viral di dunia maya beberapa tahun lampau karena kejenakaannya dalam mumbling (menggerutu, menceletuk) apapun dengan kata-kata yang bisa dibilang “canggih” atau pada umumnya digunakan dalam bahasa penulisan karya-karya ilmiah. Kejenakaannya terletak pada bagaimana dia seolah-olah asal mencomot kata-kata canggih tertentu lalu menyusunnya dalam sebuah kalimat yang kemudian tidak bermakna wajar (atau mungkin kurang lumrah dipahami oleh orang awam seperti kita).

Padahal pada umumnya orang “luar biasa” seperti Tony Blank dikenal memiliki keterbatasan kosakata atau bahkan hanya mengulang-ulang kata-kata atau kalimat tertentu yang merupakan cerminan dari ketertekanan batin dan psikologis di masa lampau yang membuat orang-orang seperti itu mengalami depresi dan hidup dalam kesadaran yang berbeda dengan orang-orang “awam”. Namun Tony Blank berbeda, meski kondisi mentalnya “berbeda”, namun dia memiliki perbendaharaan kosa kata yang bisa dibilang melebihi orang lain. Dalam tataran tertentu, Tony Blank bisa dibilang lebih cerdas dari orang-orang yang tidak se-“berbeda” dia.

Dari informasi yang pernah saya dapatkan, salah satu yang membuat dia memiliki begitu banyak perbendaharaan kosa kata adalah karena kecintaannya untuk membaca media apapun yang memiliki tulisan di dalamnya. “Profesi”nya yang menuntutnya mengais-ngais makanan dari tumpukan sampah menuntunnya pada penemuan akan sobekan-sobekan koran bekas atau majalah yang kemudian dijadikannya sebagai bahan bacaan yang lezat. Bacaan apapun dilahapnya dengan membabi buta. Mungkin ini yang dinamakan dengan “gila (-) baca”.

Tapi di sini saya tidak akan membahas tentang kepentingan atau manfaat dari membaca. Tulisan itu bisa Anda baca di artikel saya yang lain, “Terjebak”. Yang kemudian menjadi onak dalam pikiran saya adalah tentang bagaimana begitu mudahnya kita saat ini untuk mengakses berbagai macam informasi. Melalui media internet, setiap detik, berjuta fakta baru bermunculan dan bisa kita unduh dari mana saja dan kapan saja. Mulai dari permasalahan remeh temeh hingga isu-isu besar yang menyangkut kemanusiaan universal. Mengonsumsi informasi dan pengetahuan semakin mudah saja saat ini.

Namun di sisi lain, kemudahan ini pun tidak melulu memberikan nilai positif. Selain informasi-informasi yang berfaedah terhadap pengembangan diri maupun kebaikan bersama, informasi yang provokatif, sesat, atau tercela juga mudah untuk diakses dan dikonsumsi siapa saja. Selain itu, begitu banyaknya informasi yang harus dikonsumsi dalam waktu yang bersamaan membuat pikiran kita menjadi terlalu hingar bingar (hectic) sehingga kita bingung untuk menentukan prioritas informasi mana yang layak (atau memang kita butuhkan) untuk dikonsumsi dan mana yang tidak perlu diketahui. Kemudahan sekaligus kehingarbingaran akses informasi ini yang kemudian berujung pada berkuranganya penghargaan kita terhadap pendalaman sebuah disiplin ilmu pengetahuan atau informasi.

Kemudahan kita dalam mengakses berbagai macam informasi saat ini membuat kita lupa akan pentingnya mengendapkan informasi-informasi yang benar-benar kita butuhkan dan berkenan untuk diaplikasikan. Terlebih lagi untuk memilih informasi mana yang benar-benar akan kita dalami. Kesetiaan kita akan disiplin ilmu tertentu diuji. Loyalitas kita akan pembatasan diri akan informasi-informasi yang bisa mengaburkan pemahaman mendalam akan informasi yang benar-benar kita butuhkan dipertanyakan.

Salah satu yang hilang dari adanya berbagai kemudahan dalam mengakses informasi ini adalah penghargaan atas ketidaktahuan.

Ketidaktahuan?

Apa yang bisa dibanggakan dari ketidaktahuan? Apa istimewanya?

Ketidaktahuan sejajar posisinya dengan kehilangan. Ada hal yang perlu digali dan dicari di sana. Namun ketidaktahuan di sini lebih dari sekedar keengganan untuk memahami lebih jauh, tapi penerimaan akan keterbatasan dan kekurangan diri sendiri maupun orang lain. Memahami dan menerima bahwa tidak semua pengetahuan mampu kita monopoli sendiri, ada orang lain yang juga membutuhkan mengakses ilmu yang kita miliki, tidak semua orang menguasai informasi yang kita miliki sebanyak informasi tertentu yang lebih dipahami oleh orang lain.

Kapankah kita terakhir kali berbincang dengan orang lain sebagai orang yang sama-sama tidak mengetahui? Kapankah kita terakhir saling berbagi ketidaktahuan dan bukannya mendominasi kekurangan orang lain dalam mengakses informasi-informasi yang biasa kita konsumsi? Pernahkah kita tidak mencela ketidaktahuan orang lain akan informasi tertentu yang konon sangat lekat dengan keseharian kita?

Kapankah kita duduk bersama untuk saling menghargai ketidaktahuan masing-masing lalu bersama-sama menertawakan kesalahpahaman yang terjadi karena kurangnya informasi?

Mungkin itulah yang memicu begitu banyaknya pertikaian yang terjadi antara pihak satu dengan pihak lain karena salah satu pihak menganggap lebih “tahu” dibanding pihak yang lain. Kalau memang “lebih tahu”, kenapa tidak memberi tahu pada yang belum tahu? Apakah ketidaktahuan adalah pilihan?

Apakah kita cukup bersahaja dalam memahami dan menerima ketidaktahuan orang lain? Apakah ilmu pengetahuan yang kita miliki justru semakin membuat kita jumawa dan merasa superior dibanding orang lain? Apakah ratusan buku yang kita baca membuat kita lebih mulia dari orang yang tidak memiliki kesempatan (atau mungkin minat) sebesar yang kita miliki dalam mengakses buku-buku tersebut? Apakah pengetahuan yang kita kuasai cukup membuat kita memahami pengetahuan sederhana tentang hal-hal yang ada di sekitar kita?

Apakah pengetahuanmu tentang lezatnya sepotong Pizza yang disajikan di tepian sungai Italia di senja hari membuatmu cukup untuk menghargai kebersahajaan sepotong pisang goreng setengah gosong di atas piring seng yang pudar warnanya dengan segelas teh yang agak apak karena terlalu lama dibiarkan terbuka di dapur yang bercampur dengan bumbu-bumbu berarorama tajam dengan dinding-dindingnya yang legam berminyak akibat percikan sisa gorengan yang dinikmati di pekarangan rumah sembari ditemani aroma bebakaran sampah tetangga sebelah yang anaknya selalu merengek minta dibuatkan nasi goreng telur selepas subuh?

Ketidaktahuan bukanlah dosa. Tapi menuntut ilmu adalah kewajiban. Namun yang tak kalah pentingnya adalah kebersahajaan untuk menghargai ketidaktahuan, baik ketidaktahuan diri sendiri maupun orang lain yang bermuara pada kebahagiaan bersama, kesadaran akan keharmonisan diri dan alam sekitar yang merupakan anugerah dari-Nya yang tak patut didustakan.

Jadi, seberapa tidak tahu kita?

 

Yogyakarta, 29 Juli 2016

Jum’at mubarok yang penuh kerinduan dan ketidaktahuan.

Gambar feature dicomot dari: pencet aku mas pencet

Advertisements

3 thoughts on “Menghargai Ketidaktahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s