Listen to your heart, there’s nothing else you can do

I don’t know where you’re going and I don’t know why,

But listen to your heart…

 (Roxette – Listen to Your Heart)

 ***

 Banyak orang mengatakan bahwa mengikuti kata hati adalah tindakan yang paling mulia, paling hakiki, sesuatu yang mampu dianggap sebagai kebenaran.

Bagiku tidak.

Tidak semua yang dibisikkan oleh hati adalah kebenaran. Bisa jadi dia telah tercampur nafsu tertentu. Tidak semua yang dirasakan oleh hati merupakan tolok ukur kebaikan. Bisa jadi dia hanyalah letupan rasa tertentu yang lahir dari beberapa peristiwa yang kita alami dan bercampur dengan kebiasaan kita dalam memandang peristiwa tersebut dari kaca mata pengalaman, harapan, pengetahuan, dan kebudayaan yang kita miliki. Berbagai macam jenis “kaca mata” inilah yang kemudian membentuk tolok ukur penilaian dalam hati kita untuk melabeli peristiwa ini dan itu sebagai hal-hal yang baik atau buruk , menyenangkan atau tidak menyenangkan, patut diperjuangkan atau diabaikan dan lain sebagainya. Label-label inilah yang kemudian menjadi bahan dasar kita dalam menentukan sikap. Masalahnya, tidak semua sikap-sikap tersebut akan mampu memberikan pemecahan akan sebuah masalah atau jawaban atas pertanyaan tertentu, bisa jadi dia hanyalah pemuasan rasa tertentu yang tak jarang bisa menyesatkan.

Ambil kata dendam. Merasa dikecewakan dan dikhianati akan selalu mampu memantik amarah yang kemudian menuntun kita untuk memilih dendam sebagai pemuas kekecewaan dan amarah yang kita miliki. Menjadi marah itu pasti, tapi melakukan balas dendam itu pilihan. Kita tidak bisa menentukan apa yang akan kita rasakan tapi kita bisa menentukan sikap apa yang akan kita ambil atas perasaan itu. Lagipula, adakah dendam yang benar-benar impas? Tidak. Tidak ada balas dendam yang benar-benar impas sesuai apa yang orang lain telah perlakukan pada kita. Balas dendam akan selalu meminta balasan yang lebih besar, lebih kejam, lebih keji, lebih buruk dan lebih-lebih negatif lainnya. Banyak sekali kisah balas dendam yang berakibat jauh lebih fatal dari perbuatan yang telah dilakukan oleh orang yang dibalasi dendam. Seperti adanya kasus pemerkosaan dan pembunuhan sadis terhadap seorang gadis hanya gara-gara gadis itu pernah menolak cinta sang pelaku. Atau kasus Adolf Hitler yang membantai jutaan Yahudi hanya gara-gara semasa kecil, dia pernah dicemooh oleh bakal calon guru seninya yang Yahudi.

Lalu bagaimana caranya membedakan mana kata hati yang lahir dari kehakikian fitrah manusia dalam mencari kebenaran dan mana yang merupakan bisikan nafsu sesaat yang menyesatkan?

Gampang-gampang susah sebenarnya. Tapi bagi saya, sederhana saja: logika. Jika perasaan itu menuntun kita untuk melakukan perbuatan tertentu yang berakibat pada hal-hal baik atau setidaknya “aman”, berarti itu adalah kebenaran. Sebaliknya, jika perbuatan yang mengikuti perasaan itu bakal membawa kita pada keburukan atau penyesalan kelak, maka itu adalah nafsu.

Tentu masalah mana baik mana buruk masih bisa diperdebatkan lagi. Tapi saya yakin, setiap orang pasti bisa jujur menentukan mana perbuatan-perbuatan yang mampu memberikan kebaikan bersama ataukah hanya kebaikan pribadi. Kebaikan pribadi inilah yang seringkali mengaburkan makna kebaikan itu sendiri.

Salah satu faktor yang menentukan seberapa dewasa seseorang adalah dari bagaimana dia bijaksana dalam menentukan pilihan. Saya selalu yakin, seberapa muda atau tuapun seseorang, mereka memiliki kemampuan merasakan yang sama. Terlebih lagi jika dihadapkan pada sebuah peristiwa yang sama, taruhlah peristiwa yang menggoncangkan jiwa seperti bencana alam atau hingar bingar lainnya. Namun betapapun samanya apa yang dirasakan, yang membedakan seseorang dengan yang lain adalah dari bagaimana dia menyikapi perasaannya itu. Merasa pedih, sedih, marah, kecewa, gembira, menyesal merupakan perasaan-perasaan yang lumrah dan dimiliki oleh semua orang. Tapi membalas dendam, menyakiti, membunuh, mengkhianati, menjatuhkan orang lain adalah pilihan.

Dan ingat. Perasaan kita memang hak pribadi kita, kita bebas untuk merasakan apa saja tapi bukan berarti semua orang harus selalu tahu apa yang kita rasakan. Orang lain atau bahkan kita sendiri tidak berhak untuk saling menyalahkan perasaan, perasaan adalah anugerah, dia muncul begitu saja tanpa diminta. Tapi tidak semua orang bakal saling menerima berbagai perbedaan rasa tersebut. Meski hakiki dan murni, tapi memaksakan orang lain untuk mengetahui dan menerima apa yang kita rasakan terkadang menimbulkan ketidaknyamanan atau bahkan sakit hati pada orang tersebut.

Terlebih lagi di era kemudahan berbagi akses informasi saat ini. Media sosial memberikan fasilitas bagi kita untuk mengungkapkan perasaan sebebas-bebasnya tanpa adanya filter yang mengekang. Setiap orang yang memiliki akun media sosial tertentu bebas menggunakan media tersebut untuk memuntahkan segala perasaannya sebebas-bebasnya bahkan hingga mereka lupa bahwa pihak tertentu bakal merasa tersinggung dengan apa yang kita rasakan, terlebih lagi jika kita mengungkapkannya dengan cara yang tidak tepat.

Itulah mengapa akhir-akhir ini saya agak takut untuk terlalu sering membuka media sosial yang saya miliki. Entah itu Facebook, Twitter, Instagram, bahkan media sosial hiburan macam Smule atau 9gag. Bukannya saya abai terhadap apa yang orang lain rasakan. Tapi cara mereka mengungkapkan perasaan itulah yang tidak selalu mampu membuat saya nyaman. Mengungkapkan perasaan adalah hak, tapi menjaga perasaan orang lain adalah kewajiban.

Jadi maaf, Roxette, kalau situ bilang “Listen to your heart, there’s nothing else you can do…”, saya harus menolak. You do can do something! Heart can lie!!

Mari bijaksana dengan hati.

 

Yogyakarta, 30 Juli 2016

Ba’da subuh.

Sumber gambar feature: degupku di sini, dek!

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Listen to Your Heart (?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s