Dulu ketika awal punya pacar, betapa sangat bahagianya. Seperti semuanya mau dilakukan dan diberikan cuma buat si dia seorang: perhatian, waktu, kasih sayang dan juga pengertian. Saya yang saat itu notabene masih jadi gadis sok rebel dan kelamaan single, menganggap hal yang paling merepotkan dalam berhubungan adalah memberikan PENGERTIAN. Hidup sebagai single menjadikan saya manusia praktis yang sering kali memilih tidak mengindahkan pendapat orang lain dan peduli apa dengan perasaan orang sekitar. Pada satu titik tentu saja malah bagusnya seperti itu, tapi disatu sisi kebiasaan ini menjadikan saya manusia yang susah untuk menjadi sosok yang pengertian. Berasal dari kata dasar erti – Pengertian memiliki makna “kesanggupan inteligensi untuk menangkap makna suatu situasi atau perbuatan” kalau ditilik di kamus besar bahasa Indonesia. Sungguh bukan hal yang mudah dan sepele. Dibutuhkan intelejensia untuk menangkap makna situasi, dalam ranah “berhubungan” bisa juga diartikan menjadi situasi hati partner ataupun situasi kehidupan partner. Dan saya saat itu kurang memiliki intelejensia dalam hal ini. Nggak tau juga sih sekarang, hehe.

Bersyukurlah saya yang punya partner sabar dan pengertian yang mengajarkan saya arti pengertian lewat segala tindak tanduknya. Membuat saya tersadar betapa pentingnya sikap ngerti-i ini. Lewat usaha kita untuk mampu memahami makna dari sikap seseorang, kitapun jadi belajar menempatkan diri kita di posisi orang lain, dan berusaha tidak bersikap menghakimi ketika berhadapan dengan sebuah fenomena ataupun situasi. Sikap pengertian menjadikan kita manusia yang lebih peka untuk berhati nurani dan memandang sesuatu hal dengan lebih menyeluruh. Awal pengaplikasian sikap pengertian saya ini terbatas pada legowonya hati melepas sang pacar pergi walau sebenarnya masih ingin bersama, demi berusaha memikirkan dia yang masih harus berkendara pulang kerumah ditengah malam buta. Makin lama makin berusaha dinaikkan levelnya, sudah mulai terbuka untuk saling menerima perbedaan prinsip mengenai beberapa hal serius seperti halnya pembagian kerja dapur dan cuci piring ketika kita sudah menikah. Ini sungguhan hal serius, mengingat kita sama sama manusia pemalas.

Sayangnya, bersikap pengertian ini biasanya – meskipun tidak selalu- direalisasikan dalam hubungan laki laki- perempuan dalam judul “percintaan”. Entah itu masih tahap PDKT, pacaran ataupun pasangan yang sudah menikah. Kita, atau lebih tepatnya saya, suka lupa kalau semua hubungan antar manusia juga membutuhkan sikap saling pengertian, tidak peduli itu hubungan orangtua- anak, bos- karyawan, guru-murid, sesama tetangga, sesama pekerja, sesama umat beragama, sesama MANUSIA. Pengertian adalah kado luxus yang khusus kita persembahkan untuk pacar saja, sampai lupa bahwa bapak ibu kita juga butuh sikap pengertian kita ketika perbedaan generasi dan pendidikan menjadikan kita makhluk asing di hadapan mereka. Sampai lupa kalau karyawan yang sering kita minta lembur itu sesungguhnya sudah kepingin banget uyel uyel anaknya. Sampai lupa bahwa murid yang sedang kita ajar dikelas adalah makhluk2 yang tidak mengalami apa yang kita alami dan menganggap sikap keras kita adalah upaya mengintimidasi mereka. Saya masih sering lupa untuk ngerti-i posisi dan pikiran mereka. Saya lupa untuk “pacaran” juga sama mereka.

 

Surabaya, 28 Juli 2016

Advertisements

3 thoughts on “PACARAN YUUUK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s