No body’s perfect.

Really?

 ***

 Seorang maestro pasti tahu benar apapun yang sedang dikerjakannya. Setiap karya yang diciptakannya adalah karya terbaik—setidaknya dari upaya yang dilakukan oleh sang maestro untuk menemukan hasil yang paling maksimal. Bahkan hal-hal yang bagi orang awam disebut sebagai “kegagalan”, jika itu merupakan hasil proses kreasi sang maestro, apapun itu akan tetap dipandang sebagai masterpiece yang memukau. Ambil contoh sketsa-sketsa Da Vinci yang belum sempat diwujudkan dalam bentuk benda fisik, di sana tampak sekali pemikiran sang maestro yang benar-benar beyond eranya, seperti sketsa tentang mekanisme dasar pesawat terbang dan helicopter. Setidaknya yang membuat seorang maestro terlihat “maestro” adalah dari bagaimana dia menyikapi pemikirannya sendiri sebagai sebuah proses pencarian hal-hal terbaik. Keterbaikan itu sendiri sudah bermula dari upaya diri.

Lalu bagaimana dengan manusia?

Adakah manusia yang layak disebut dengan “produk gagal”?

Adakah manusia yang tidak layak untuk disebut sebagai “manusia”?

Adakah manusia yang tidak sempurna?

Jika dianalogikan dengan segala apapun yang dikreasikan oleh seorang maestro bisa kita anggap sebagai masterpiece, mengingat pemikirannya yang memang selalu melampaui apa yang mampu kita gapai saat ini, lalu bagaimana dengan “Maestro Yang Sempurna”? Tentu karya cipta apapun yang diciptakannya pun sempurna bukan? Betapapun mungkin bagi beberapa orang ciptaannya itu tidak seperti yang diinginkan, tapi Sang Maestro tahu benar apa yang sedang atau sudah diciptakannya. Bahkan sesuatu yang tampak gagal bagi beberapa orang merupakan bagian dari rancangan “Maha Beyond” dari Sang Maestro. Kegagalan itu sendiri merupakan sebuah kesempurnaan.

Jika Anda percaya bahwa manusia diciptakan oleh Sang Maha Maestro, Sang Maha Sempurna, masihkah kita bisa berkata bahwa apapun yang diciptakan-Nya itu ada yang tidak sempurna? Adakah “produk gagal” dari Sesuatu yang paham benar kenapa dia menciptakan “kegagalan” itu sendiri?

Tentu jika berbicara mengenai standar diri dan terlebih lagi jika ditautkan dengan universalitas, ada hal-hal yang akan memicu kita untuk melabeli ini dan itu sebagai yang sempurna atau tidak sempurna. Kesempurnaan atau tidak adalah mengenai bagaimana harapan-harapan dan keinginan kita bisa terwujud dengan utuh. Bagaimana cita-cita kita bisa diejawantahkan dengan lancar dan mudah.

Masalahnya, setiap manusia memiliki keinginan, harapan dan pencapaian yang berbeda-beda. Bahkan tidak hanya berbeda, bisa jadi setiap keinginan itu malah saling “mematikan”. Ambil contoh, Indonesia berkeinginan untuk menjadi negara Adi Daya, namun di sisi lain, sudah ada Amerika yang lama dikenal sebagai negara Super Power. Untuk menjadi sesuatu yang “Ter…” tentu harus saling melemahkan, tidak ada “Ter…” yang lebih dari satu.

Keinginan untuk menjadi ter-ini atau ter-itu seringkali membuat kita lupa untuk memafhumi keunikan masing-masing. Terlalu fokus pada apa yang ingin kita capai sendiri membuat kita lupa bahwa setiap orang memiliki hak untuk mewujudkan keinginanannya masing-masing. Hidup memang tentang perjuangan, tapi bukan berarti kita harus selalu saling mematikan.

Lalu bagaimana?

Pada dasarnya, manusia selalu memiliki satu keinginan yang paling mendasar dan purba: bahagia. Kebahagiaan memang relatif tapi dia juga merupakan pilihan. Menjadi bahagia adalah niatan, bukan pemberian. Dengan menyadari bahwa pada dasarnya semua orang memiliki hak untuk berbahagia, insyaallah keinginan untuk saling mematikan dan menjadikan diri sebagai yang ter-ini atau ter-itu akan lebih bisa dikondisikan.

Sudahkah kita semua berpihak pada hak untuk berbahagia?

Sudahkah kita semua beraliansi dengan penghargaan atas keragaman?

Sudahkah kita memahami bahwa segala yang terhidang di muka bumi adalah kesempurnaan?

Dia menciptakan perbedaan bukan untuk saling mencela ketidaksempurnaan, justru perbedaan-perbedaan itulah yang saling menyempurnakan.

Jika kita mengamini apa yang didendangkan oleh Andra and The Backbone dalam memandang satu sama lain: “Di mataku kau begitu indah…..” (Andra and The Backbone – Sempurna), insyaallah kita semua bisa saling menguatkan dan tidak akan saling meninggalkan.

Janganlah kau tinggalkan diriku, takkan mampu menghadapi semua…

Yogyakarta, 28 Juli 2016
Jam 6 pagi yang berkabut

Sumber gambar feature: demok sini

Advertisements

One thought on “Ter-ini dan Ter-itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s