Beberapa waktu yang lalu saya menyempatkan diri ngobrol dengan saudara yang pernah merasakan tinggal di negara tetangga dan betapa kagetnya saya begitu tahu bahwa kebiasaan tinggal bersama sebelum menikah di sana bukanlah hal yang tabu dan jadi sesuatu yang lumrah.
Beda dengan di sini, walaupun sudah banyak yang melakukan tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan, tapi para pelaku di sini tak akan berani blak-blakan dan masih mikir-mikir dulu, masih ada lah dikit-dikit kultur ketimuran.
Nah, Ketimuran seperti apa nih yang dimaksud? Aku jadi berpikir ulang, ketimuran kita itu sebetulnya ketimuran yang bagaimana? Yang selalu ramah, sopan santun dan bermoralkan maksudnya? Ataukah kepatuhan tiada batas, diam dalam berteriak dan dan meng”iya”kan dalam segala keseganan? Hem..alau kita mulai usil dan menyentil pola seks bebas yang konon katanya merupakan budaya barat, aku jadi mempertanyakan lagi apakah pola hidup bebas seperti ini baru terjadi akhir-akhir ini saja di sini? ah..tentu saja tidak. Dari pitutur kakek nenek dulu, sewaktu perang berlangsung sudah muncul seks premarried, cuma bedanya dulu dilakukan terselubung dan segan untuk mengakuinya, pun lumayan berat pula hukuman bagi para pelakunya.
Lambat laun seiring punahnya polisi sosial dan para penegak norma, mulailah celah kebebasan tersebut mendapat angin segar, hingga yang paling kini munculnya dogma “perawan itu gak keren” atau ujilah kesetiaan dan kesungguhan pasanganmu sebelum menikah dengan melakukan seks premarried.
Nah satu lagi, kultur ketimuran tak lepas dari kata keperawanan. Kenapa keperawanan dijadikan tolak ukur beradabnya seorang perempuan di negeri yang berkultur timur ini? Jika mau lebih ekstrim lagi akan muncul pernyataan, bukankah keperawanan itu adalah hak setiap wanita?,bukan kewajiban untuk menjaganya. Di sinilah ironi mulai tumbuh, bahwa tak perawan sama artinya dengan tak bermoral. Bagaimana jika keperawanan mereka dihilangkan dengan paksa atau tak sengaja? akankah mereka juga dikenai sangsi moral dari masyarakat? Pun jika banyak wanita yang memutuskan melepaskan keperawanan sebelum menikah, apakah mereka senista itu di hadapan masyarakat? Bagaimana dengan patner seks mereka?

Seperti halnya kebebasan beragama, saya pribadi memandang keperawanan sebagai hak setiap wanita. Mereka berhak mendapatkan kebebasan dalam keperawanan mereka. Mereka boleh mengagungkan, melepaskan ataukah menyimpan untuk yang tergabung seorang.Masalah mulai timbul ketika sebagian khalayak begitu mengagungkan keperawanan itu sendiri, jadi kebanyakan para gadis yang kehilangan keperawanan di usia belia merasa masa depannya sudah hancur dan merasa tak berharga lagi, hal ini juga menjadi salah satu pelecut meningkatnya gaya hidup seks bebas di kawula muda.

Ketimuran bagi saya adalah wujud busana bernama ” malu”, rasa malu ketika merasakan apa yang kita lakukan bertentangan dengan hati nurani. Karena pada dasarnya orang timur, barat, Utara atau yang di kolong jembatan sekalipun, masih dibekali yang namanya hati nurani oleh Tuhan. Ini ketimuran sepenangkapan saya,menurut Anda?!

Advertisements

3 thoughts on “TIMURNYA TIMUR

  1. Mungkin, MUNGKIN, semua berawal dari penyeberan informasi mengenai dosa dosa manusia, yang seharusnya tidak dilakukan. Dosa dosa ini akan membakar kita nanti, pembelajaran berlandaskan ketakutan akan menciptakan umat yang judgmental, dalam rangka “menyelamatkan” saudara, maka mereka harus “mengingatkan”, dengan berbagai macam cara, termasuk di dalamnya adalah cemoohan, yang ironisnya membuat orang lupa bahwasanya masalah keperawanan dan keperjakaan adalah urusan horizontal (itupun kalo si bersangkutan menganggap urusan horizontal) dan urusan si empunya kelamin dengan diri dan hatinya sendiri. Tapi yahhhh manusia, kan tempatnya salah dan LUPA…

    Liked by 1 person

  2. Timur dan (vs) Barat sebenarnya sudah tidak lagi berlaku di era kemudahan informasi yang menebarkan nilai kebudayaan tertentu ke kebudayaan lain saat ini. Kita adalah generasi globalisasi. Kebudayaan masing-masing saat ini hanya menjadi eksotisme warisan nenek moyang yang kita sendiri lupa atau tidak tahu apa sebenarnya nilai yang terpendam di dalamnya. Satu-satunya yang bisa kita perjuangkan saat ini adalah, seperti katamu, hati nurani. Baik atau buruk bukan lagi ditentukan apa kita ini Barat atau Timur, tapi bagaimana kita bersikap terhadap diri sendiri, orang lain, dan tentu saja pertanggungjawaban pada-Nya.
    wallahu’alam bisshawaab.

    Liked by 2 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s