Pride. Sebuah kata dalam bahasa Inggris yang berarti kebanggaan. Ya, dalam hidup kita harus bangga dengan apa pun yang kita lakukan. Selama itu baik dan tak merugikan orang lain, nggak ada salahnya kita berbangga. Salah satunya adalah menjadi berbeda.

Pride. Juga nama sebuah parade yang kerap dilakukan oleh mereka yang berorientasi seksual menyukai sesama jenis. Singkatnya LGBT. Parade yang setiap tahun dilakukan oleh kaum liyan ini, bertujuan untuk menumbuhkan kebanggaan akan diri mereka. Fuck the world, I’m different and I’m proud!

Dalam parade yang selalu berhias bendera pelangi ini, mereka all out menjadi diri sendiri. Saling peluk, saling cium, saling mengungkapkan rasa sayang pada pasangan yang selama ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Bagi mereka yang sudah terbiasa dengan public display of affection sesama jenis, mereka akan biasa-biasa saja melihat pertunjukkan romantisme ini. Namun, bagi kita orang timur ada rasa tabu atau bahkan jijik melihatnya.

So, bagi saya sendiri pemandangan sesama jenis yang saling bermesraan tak begitu mengganggu. Setiap orang yang sedang jatuh cinta berhak kok mengungkapkan rasa cinta mereka, baik di area pribadi maupun di tempat umum. Asalkan tak berlebihan. Tapi belakangan ini, saya agak bergidik ngeri melihat pemandangan yang terjadi saat parade Pride ini berlangsung.

Tentunya saya nggak menyaksikan parade ini di Indonesia. Parade Pride di Indonesia keberadaannya seperti kecoa yang tiba-tiba terbang di depan kita. Bikin histeris dan menumbuhkan hasrat ingin membunuh. Padahal sang kecoak cuma numpang lewat doang dan kemudian melanjutkan hidup. Saya pun nggak langsung terbang ke negara penyelenggara demi menyaksikan langsung parade Pride ini. Duit dari mana? Saya cuma menyaksikan pagelaran kebanggaan ini melalui internet.

Dari yang dapat saya tangkap di internet, Pride adalah sebuah parade yang penuh warna. Beragam warna yang mencolok kita temui di sana. Mirip seperti semburan tepung berwarna-warni di festival Holi, India. Tapi, warna mencolok juga kadang tak selalu nyaman dipandang lama-lama. Kadang bikin mata pedih.

‘Warna’ yang bikin mata pedih pada parade Pride ini adalah pameran aurat yang overdose. Di mana-mana bisa kita lihat lelaki berbaju minim, tak jarang yang menampilkan ke-bohaia-an pantatnya dan jendolan anunya. Wanita yang memakai underwear  setengah jadi pun terlihat bangga memamerkan payudara yang bergoyang ke sana-sini saking ‘bangganya’ ia menjadi berbeda.

Ditambah lagi pameran kemesraan yang berlebihan. Get a room please! Padahal itu semua dilakukan di tempat umum dan saya yakin, pasti juga ada penonton di bawah umur alias anak-anak. Saya yakin pula, anak-anak di Amerika atau negara bebas lainnya pasti juga belum waktunya menyaksikan adegan penuh nafsu tersebut.

Nggak heran kalau image masyarakat mengenai kaum liyan ini semakin miring. Selain semakin miring, dari segi keamanan, apakah Pride ini harmless untuk diselenggarakan? Lha wong sembunyi-sembunyi dan bertujuan baik saja bisa diserang, apalagi kalau blak-blakan dan nggak begitu penting?

Akhirul kalam, saya hendak bertanya. Apakah sejatinya esensi kebanggan itu? Apakah perlu dipamer-pamerkan? Apa nggak ada cara lain untuk menunjukkan kebanggan tanpa membuat orang lain muak? Ah, pada akhirnya hanya waktu yang bisa menjawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s