“Tuhan takkan meninggalkanmu sendirian di bumiNya, beserta kelahiranmu dikirimNya juga bidadari dan malaikat untukmu, yakni bapak ibumu”

Bolehkah aku mengajukan pertanyaan untukmu? Jika bermain ke rumah temanmu, siapakah sosok yang paling kau takuti di rumahnya? Bapak temanmu ataukah ibu temanmu? Pasti kebanyakan akan menjawab bapaknya kan? Nah beranjak ke pertanyaan kedua, ketika kau menginjak masa puber, siapakah yang kau anggap sebagai musuh paling sengit di rumahmu? Sosok yang seolah tak pernah paham apa ingin dan maumu, apakah bapak juga jawabannya? Jadi sudahkah kau mulai menebak ke mana cerita ini akan berakar mulai? Mari… kuperkenalkan lagi dengan salah satu sosok bapak, bapak kebanggaanku.

Sosok bapak di trah ketimuran memang identik dengan si tangan besi dalam rumah tangga yang tiap perintah dan katanya seolah sabda, sosok yang terlihat jarang becanda karena pundaknya bertanggung jawab akan keberlangsungan hidup anak istrinya, sosok yang selalu letih dan bernada keras jika meminta. Itulah kebanyakan sosok bapak jaman dahulu, nah kalau sekarang ini sudah banyak bapak yang mengenal ilmu parenting, sehingga mereka tak segan turun tangan mendekatkan hati dan emosionalnya untuk anak dan keluarganya.

Permasalahnnya adalah bagaimana menghadapi bapak yang memiliki warisan kejadulan tersebut? Bapak dengan kedekatan emosional yang minim  dengan anak-anaknya? Adakah kau amati sosok kesepian bapakmu ketika melihatmu erat tersenyum dalam dekapan ibumu? Jika kau sangat dekat dan memuja bapakmu, menyayanginya dengan segenap hati, dan beliau masih bisa kaujamah dan peluk, maka beruntung adalah kata yang tepat untukmu. Karena tak semua anak mampu memahami kehadiran malaikat tersebut dalam     hidupnya.

Contohnya saja aku.. Setelah hampir 30 tahun hidupku, baru saja aku merasakan betapa bangga dan sayangnya aku pada sosok bapak. Aku menyadari perasaan itu setelah jauh dari rumah, jauh darinya..ah aku lupa..mundur menjauh memang membuat kita melihat segalanya menjadi lebih jelas. Bapakku bekerja di jalan sebagai pengemudi trailer, jadi wajarlah jika beliau kadang tempramental dan emosional. Aku sendiri sudah merasa jenuh jika terjebak macet beberapa jam di jalanan, jadi bisa dibayangkan berapa jam kemacetan yang menanti bapakku di jalan. Jika malam menjelang, inilah kesempatan beliau untuk lebih cepat melaju kendaraannya, sedang kami bisa lelap tertidur di balik selimut. Belum lagi jika ban bocor, mogok di tengah hutan, menerjang banjir, berhari-hari barang dibongkar, tidur di emperan toko ketika menunggu giliran. Ah sudahlah.. mungkin agak tampak berlebihan, tapi luar biasanya.. Bapak tak sekalipun berkeluh kesah pada kami tentang betapa berat pekerjaannya, dia cuma bilang butuh tidur dan pijitan anak-anaknya untuk memulihkan tenaganya. Tak jarang bapak baru datang semalam dan harus berangkat lagi keesokan     petangnya. Bapak tak pernah mengeluh, tapi dari banyak noda oli di bajunya aku tau betapa berat harinya, dari kasar dan legam tangannya aku tau betapa berjuangnya dia, dari helai rambut putih yang mulai tampak, baru aku sadari, betapa aku selama ini tak memperhatikan keberadaanya. Bahwa selama ini, sosok bapakku rela berjauhan dari keluarga demi bekerja, bapak yang belajar mengenali anak-anaknya lewat guyonan sarkartis tapi malah berakhir dengan tangis, bapak yang kalau dirumah membuat kami merasa terusir dari ruang TV karena acara pilihannya selalu membosankan, maklumlah.. Hiburan bapak dijalan ya cuma telepon istri dan anak-anaknya, itupun biasanya mendapat jawaban yang ogah-ogahan jika kami sedang sok sibuk. Biasanya bapak berakhir di ruang TV sendirian bersama ibuk yang terkantuk-kantuk memijat bapak.

Kala itu aku adalah sosok tinggi hati yang tak mau bersusah payah memahami dan mengenali sosok bapak, bagiku beliau ada atau tidak sama saja, ada ibuk yang menemaniku. Padahal bapak, yang dengan segala usahanya membuat aku dan adik-adikku bisa menikmati apa itu pendidikan, bapaklah sosok yang ingin berucap sepi kala anak-anaknya lebih asyik dalam kamar ditemani smartphone dan laptop yang dibelikannya, bapaklah malaikat yang memotong sayapnya itu. Tak minta dipuja, tak minta dielu-elukan, yang diminta hanya sekecap perhatian dan pengertian untuknya. Jika kau berprestasi, maka itu bisa membuat lelahnya sirna seketika, jika kau bersabar atas segala inginmu, maka akan ringan langkahnya untuk mengais rejeki, jika kau mengiyakan tanpa bantah pintanya, cukuplah dia jadi bapak yang paling bahagia.

Walau terlambat menyadari malaikatku itu, tapi disisa kesadaran ini aku ingin kembali mencantumkan namamu dalam mimpiku, memeluk bapak dalam doa dan tiap pertemuan yang ada.

Buat anak yang masih memiliki bapak di luaran sana, bapakmu yang masih berjibaku bekerja untukmu, dan ternyata kau masih bisa melihat kilat mata kesepian itu, maukah kau, mewakilkan pelukanku untuknya? Untuk malaikat-malaikat kesepian yang luar biasa.

Terima kasih untuk para bapak yang luar biasa, surga memang berada di telapak kaki ibumu, tapi kuncinya tergenggam di hati bapakmu.

Advertisements

2 thoughts on “Malaikat yang memotong sayapnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s