Ketika mudik dijadikan sarana untuk mempererat tali silaturahmi, maka gak ada salahnya jika moment lebaran digunakan sebagai sarana untuk menepati janji. Janji untuk bersua.

Cerita ini diawali dengan kisah sepasang pemudik yang bermodal uang pas-pas an dan kebulatan tekad untuk mengunjungi kakak nan rumahnya jauuuuuuuuuuuuh dilereng gunung.Bisa dihitung kan berapa banyak huruf “u” untuk menggambarkan betapa jauh letaknya daerah bernama “Tempur Sari” itu. Sebagai gambaran awal, sepasang pemudik itu berangkat dari kabupaten Malang menuju Jember dengan sepeda motor plus-plus sebagai tumpangannya.


Kok bisa plus-plus? Yup hal ini dikarenakan…plus rak kayu sederhana buat penyangga tas ransel di bagian belakang,plus bagasi yang dijejali sepatu dan jas hujan,tak luput di bagian depan plus tas plastik penuh bekal makanan nangkring cantik berjejalan dengan air  minum. Efek dramatis khas kendaraan pemudik akan tampak jika kendaraan itu dipotret… tampak merana,belum lagi yang mengendarai dan dibonceng adalah generasi makanan cepat saji yang dipastikan… tentu saja… overweight hehe… Yah tau kan sekarang siapa kedua pemudik itu?! Yup..aku dan suamiku.

mb candra 2
Alat tempur! (Foto: Koleksi pribadi)

Kami start berangkat dari Malang ketika jarum jam menunjukkan arah menuju 8 pagi. Nah… masih dengan semangat, kami menempuh perjalanan hingga Ampelgading dengan syubidubiducuap alias santai nan ceria. Ampelgading adalah daerah perbatasan antara Malang dan Lumajang. Santailah kami berhenti di pinggiran jalan, mencari tempat nyaman untuk menikmati makan (menuju) siang,  masih menunjukkan pukul 10. Tujuan akhir kami memang Jember,tapi sebelumnya kami punya tugas mulia menunaikan janji di Tempur Sari.

Bagi yang belum tau dimana Tempur Sari berada,silahkan Googling dan carilah di Google map, tapi bagi yang terlanjur asyik membaca dan malas Googling disini akan kuberikan gambaran mendekati fakta mengenai kecamatan Tempur Sari tersebut. Tempur Sari berada di kabupaten Lumajang, jika dari arah Malang maka akan terlihat plang tanda belok kanan lewat Pronojiwo. Suamiku terakhir lewat kesana 10 tahun yang lalu, ketika jalanan masih berupa tanah dengan jalur berkelok-kelok.

Aah ya… FYI… Bayangkan sebuah mangkuk dan kecamatan Tempursari adalah dasar dari mangkuk tersebut. Jika hujan turun di bagian atas pegunungan, maka alamat banjir akan menggenangi dasar mangkuk si Tempur Sari. Jadi untuk mencapai daerah ini harus menuruni kelokan curam, pun untuk keluar dari sana hari melampaui tanjakan curam. Seperempat jalan menuju kesana aku terkantuk-kantuk dalam boncengan, mungkin karena efek kenyang ditambah suasana sejuk dan jalanan yang sudah mulus beraspal. Jalanan yang turun menukik serasa bagai buaian yang asyik bagiku, jalannya asyik sambil dimanjakan tebing-tebing yang gagah menantang.

Setengah jam kemudian mulai terasa kejenuhan, dikarenakan kelokan tanpa henti dan turunan yang tak terhingga  ditambah rasa kantuk yang tak tertahankan rasanya. Pemandangan mulai berganti, dari pemukiman padat penduduk hingga banyaknya rumah megah satu-satunya di kaki tebing, di benakku cuma ada pertanyaan, “ngapain juga orang-orang ini bikin rumah di kaki gunung? udah bagus, eh kagak punya tetangga”. Makin kebawah makin jarang rumah yang kami temui, makin jelek pulalah jalan yang kami lewati dan sayangnya, tikungan yang kami lewati makin curam menukik.

Barang bawaan di bagian belakang menambah efek dramatis dengan bunyi pantulan kayu yang hampir patah,sepeda motor matic kami bergulir pelan dan hati-hati. Aku yang jarang sholat tiba-tiba hafal segala jenis sholawat dan merapalkan segala doa yang kuingat. Dari atas aku bisa melihat sebuah belokan yang ditengah jalan ada lubang menganga dihiasi bebatuan yang mencuat keluar, nyali kami mulai ciut, akhirnya aku turun dari boncengan. Gak berani ah melewati jalan itu.

Suamiku mulai goyah imannya, sambil merokok dia hubungi kakaknya dan bilang mau balik aja. Eh…si kakak bilang udah deket, ya udah akhirnya kami teruskan perjalanan…pelan-pelaaaaaaan.. Sampai akhirnya di sebuah turunan entah yang beberapa, sebuah mobil pick up berhenti mendadak dan brraaak…terjadilah tabrakan, dan alhasil pecahlah bagian depan sepeda kami tertabrak bagian belakang bak pick up.

Jalan di depan kami sepertinya mencapai klimaks hancurnya, bebatuan besar berserakan di sepanjang jalan, turunan berbelok dengan jurang siap menanti ada di depan kami. Dengan uang damai lima puluh ribu dan nyali yang udah menipis, akhirnya bulat sudah keputusan suamiku buat balik. Eh ternyata si kakak malah datang menjemput kami sambil bawa sepeda.

“Duh…ngapain balik? Dah dekat kok.”

Yaelah, Bang… Deket apanya? Setelah ganti formasi dan posisi, akhirnya lanjutlah kami ke Tempursari, aku naik sepeda motor lain di bonceng kakak, sedang suamiku naik motor kami tapi dibonceng adik iparnya yang emang penduduk setempat. Lima belas menit kemudian aku bisa melihat peradaban…aspal yang mulus, rumah-rumah tertata rapi,lalu lalang kendaraan… Subhanalloh… Tiba juga kami di dasar mangkok menjelang tengah hari dengan disambut hawa semilir khas daerah pesisir.

Ternyata di tempat sejauh ini ada kehidupan dan peradaban. Kalo aku bisa bikin perhitungan, pasti aku mau tanya sama nenek moyang mereka, ngapain coba buka lahan alias “mbabat alas” di tempat sejauh ini? Apa gak kasihan coba sama anak cucunya? Haduuuuuh.. sesampai di rumah kakak, kami dijamu dengan makan siang dan kopi. Ah kopi… Kau surga yang nyata bagiku… Ups… Fokus!!

Setelah kuamati, di sini tak kutemukan satupun rumah sederhana, menurut perhitungan dan perkiraanku, rumah di sini terbilang mewah dan bagus. Ketika ngobrolpun aku juga terkejut, ternyata standar kehidupan dan harga barang di sini juga tinggi, kok bisa sekaya ini sih meraka? Ternyata kebanyakan dari mereka memiliki kebun cengkeh yang harganya masih sangat bagus di pasaran, tapi kekayaan alam itu juga disertai konsekuensi dengan daerah yang rawan bencana. Aduh…misal diajak barter enggak deh, mending tinggal dikontrakan diatas sana, ketimbang rumah mewah di bawah gunung kayak gini. Karena lelah kami istirahat sejenak dilanjut silaturahim kesanak saudara sekitar. Tuntaslah janji kami untuk berkunjung ke sini jam menunjukkan pukul 3 sore, saatnya pamit pulang.

Nah..dilema mulai terjadi. Ada 3 jalur yang bisa kami lewati untuk sampai ke Jember. Jalur pertama yaitu jalur dengan turunan tajam berbatu sewaktu kami berangkat tadi dan bisa dipastikan untuk pulang lewat jalur itu pasti batuan menanjak yang kami hadapi. Jalur kedua melewati Watu Godek, jalur lintas Selatan yang jalan beraspalnya roboh terkena abrasi pantai laut Selatan. Lewat jalur ini lebih menghemat perjalanan selama satu jam. Sepeda hanya harus melewati jalan berpasir sepanjang 100 meter, dan jika kondisi tidak pasang maka bisa dilewati. Sayangnya penduduk sekitar hanya berani melewati jalur ini hingga pukul satu siang saja, selebihnya gak berani. Jalur ketiga dengan jalan mulus tapi agak jauh dan sempit, jadi kendaraan harus lewat bergantian, nah…jalur ketiga ini akan mengantarkan kami keluar dari Tempursari menuju… Ampelgading… OMG… jadi balik ke Malang lagi dong.

mb candra 1
Jalur pertama… Masih terbilang mulus… (Foto: Koleksi pribadi)

Waktu sudah mepet beranjak senja, keputusan harus diambil segera dan tanpa istikharah dan ba-bi-bu akhirnya kami mencoba jalur kedua. Kami berjalan menyusuri jalan becek sisa banjir kemarin. Kami juga menoleh ke belakang, tak ada lagi kendaraan selain kami yang memiliki arah tujuan yang sama. Kendaraan lain semuanya berlawanan arah dengan kami. Di kanan kiri terlihat sawah dan lahan yang masih terendam air banjir. Mulai horor nih pikir ku…

Oh… Belum Nona, ini belum klimaksnya.

Didepan kami debur ombak mulai terdengar, gemericik pasir bercampur air laut tercium. Benar saja… jalan berpasir menunggu kami. Aku masih santai berdoa melalui jalan berpasir yang katanya cuma seratus meter itu. Suamiku jalan pelan sekali sambil berusaha menjaga keseimbangan. Makin lama jalan lurus berpasir itu sudah kelihatan ujungnya dan berakhir di tepi tebing. Syukur Alhamdullilah aku ucapkan, ternyata jalurnya tidak seseram yang kubayangkan.

Ya Tuhan… Senyumku langsung amblas ketika tau dibalik tebing itulah jalan berpasir yang harus kami lewati. Antrian sepeda motor menanti lewat secara bergantian di jalan berpasir yang cuma semeter lebarnya. Di sisi kiri tebing, di sisi kanan lautan lepas melambai. Aku turun lagi dari boncengan. Sepatu cantik kulepas. Kutelusiri jalan berpasir sambil merapatkan diri di dinding tebing yang basah. Suamiku berkutat dengan sepeda motor dan dengan kakinya menapaki jalan. Setelah hampir menyerah karena ban belakang suamiku terjebak pasir, kami akhirnya bisa keluar dari sana.Di penghujung jalan aku bertanya pada pengendara lain apakah masih ada jalan berpasir lainnya? Dia menjawab “Habis, Mbak, udah bentar lagi jalannya enak kok”. Duh Gusti, senangnya hatiku sebentar lagi keluar dari dasar mangkuk. Sambil menenteng sepatu, aku duduk manis di boncengan dan tersenyum…

Senyum sekejap yang sirna, karena jalan naik berkelok yang terjal menanti kami, tidak ada kata berbalik, kami tidak punya pilihan selain melanjutkan perjalanan, mau balik arah berarti kami harus melewati pesisir tadi, enggak deh. Terpaksa sepeda matic kami menderu protes karena dipaksa menanjak di jalan terjal. Hingga di tikungan tajam keatas doaku tak lagi berfungsi, sepeda kami ambruk ke kanan disusul penumpangnya yang njlungup di parit sedalam satu meteran lah… Hehehe aku ya kepingin nangis, tapi ya buat apa..

Di posisi yang sama kami pasrah terlentang dengan posisi kaki diatas. Sambil memegang lututku suamiku menanyakan keadaanku, kujawah gak papa. Suamiku juga sepertinya gak papa. Kutoleh sebelah kiriku, di sana berserakan sepatu, opak Gambir bekal dari rumah dan… Helm suamiku… Mati aku!! pikir ku. Tempat kami terjatuh  adalah area bebatuan dengan posisi di pojok tikungan.

Tak berapa lama kemudian terdengar bunyi mesin motor dimatikan diiringi teriakan para wanita ” ya Alloh.. ya Alloh…ya Alloh… !!! Kubilang, “Kami gak papa, Mbak”. Bapak-bapak menolong kami berdiri. Kulihat suamiku juga bisa berjalan dan berdiri. Ajaibnya tak ada satupun dari kami terluka, mengingat lokasi dan cara jatuh kami lho ya. Butuh tiga orang lelaki untuk mendirikan sepeda kami, karena letak jatuh kami di bidang miring yang rawan longsor. Seorang bapak berkata, “Mas, di  jati-jatian nanti ada tanjakann paling maut Mas, itu posisinya kelokan naik gunung tanpa henti, jadi saya gak jamin motor mas ini bakal kuat menaikinya”.

Ampun dah…jadi tanjakan yang bikin kami gulung kuming tadi belum ada apa-apanya?! Akhirnya bapak itu berinisiatif membonceng aku, jadi suamiku ngikut dibelakang. Sepanjang perjalanan aku menoleh kebelakang, berdoa agar motornya kuat menaiki tanjakan maut ini. Syukurlah kami tiba di jalan yang datar dengan selamat. Setelah berterima kasih dan bertukar nomor HP, kami berpisah dengan bapak baik hati itu dengan tambahan informasi, sebentar lagi zona nyaman perjalanan. Akhirnya aku bisa tersenyum lagi dan semenit kemudian yah….jalan menurun, dengan batuan dan lubang menganga menanti kami. Kagak deh….aku pilih jalan kaki aja hehe.

watu godek 2
Beberapa orang berusaha melintasi Watu Godek. (sumber)

Setengah jam kemudian sampailah kami di ” peradaban” dengan jalan aspal yang mulus. Baru kali ini aku liat jalan aspal sesenang dan seterharu ini. Pingin sujud syukur dan mencium aspal tapi malu hehehe.

Di pom bensin seorang bapak bertanya “Habis jatuh ya Mbak?”

“Kok tau Pak?”

“Lha itu bagian belakang jaketnya kotor semua”.

Oalah… Aku baru nyadar penampilanku sangat tidak layak jual, ini aja bisa keluar dari Tempur Sari tanpa luka aja sudah menjadi berkah. Di pom bensin si kakak telpon menanyakan kabar dan bilang kalo dia khawatir. Kujawab aja kekhawatiran nya terjawab, kami habis nyungsep di Watu Godek. Sungguh Watu Godek itu bisa bikin orang godek-godek (geleng-geleng) karena edannya jalan.

Udah deh….demi menjaga silaurahim tetep awet, mending taun depan kirim kartu lebaran aja deh buat si kakak ini hehehe… Suamiku kapok berat, walo dibayar sepuluh juta gak bakalan mau lewat sini lagi. Tapi kalo dibayar sepuluh juta lima ratus ribu sih, mau dipikir-pikir lagi hehe.. Seedan apapun janji harus ditepati, terlepas apapun resikonya… Semoga mudik kalian tak segulung kuming kami… Jangan lupa bersyukur… Syukuuuuur!!!

 

Gambar dicomot dari : http://lumajangsatu.com/foto_berita/30watugedek-jalan-putus.jpg

 

Advertisements

6 thoughts on “Mudik Gulung kuming

    1. Hehehe walo begitu tau keadaan Medan yg paling utama, apapun kendaraan e kalo g tau jalan panggah wae iso gulung kuming

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s