Pernahkah Anda di satu titik tertentu dalam keseharian merasakan sebuah kata yang terus melayang-layang di pikiran? Kata-kata yang tiba-tiba saja muncul lalu terus melintas di setiap saat kita beraktivitas seperti nyamuk yang konstan thawaf di kepala kita lalu tiba-tiba menghilang ketika kita bersiap memukulnya dengan raket listrik tapi kembali lagi menyumpahserapahi kita dengan dengungnya yang serupa pesawat tempur melintas.

Bagi saya, setiap hari selalu ada saja kata-kata yang tiba-tiba muncul di kepala lalu bertengger dengan nikmatnya seharian penuh di sana seperti kucing yang tiba-tiba saja datang saat saya tengah bekerja dengan laptop lalu tidur dengan jumawanya di atas komputer jinjing saya itu. Anehnya, tidak ada peristiwa apapun yang memantik kata-kata itu untuk muncul dan memperniki otak saya. Kalaupun ada peristiwa tertentu, asosiasi yang muncul sama sekali berbeda, bahkan untuk disebut bertentangan saja belum pantas. Misal ketika saya melihat sebuah tombol kipas angin di depan kamar saya, kata-kata yang muncul adalah “pengajian”; ketika saya sedang mendengar suara jangkrik dari sawah sekitar rumah, kata-kata yang merasa terpanggil adalah “praoto” (truk), dan lain sebagainya.

Kata-kata ini biasanya bagi diri saya sendiri seolah menjadi sebuah harta yang begitu mewah dan patut untuk dibangga-banggakan ke-“langka”-annya. Terlebih lagi jika dia dipadukan dengan kata-kata lain sehingga membentuk sebuah kalimat yang seolah memiliki nilai falsafah yang luar biasa mendalam atau bernilai sastra yang luar biasa tinggi. Seperti misalnya satu waktu tiba-tiba muncul kata “Sepelemparan batu” di kepala saya lalu kata-kata itu terus berdendang sepanjang hari bahkan pernah sampai beberapa hari. Akibatnya, hampir setiap peristiwa yang saya alami harus saya bumbui dengan kata ini. Ambil kata ketika saya sedang merindukan seseorang, tiba-tiba saja kerinduan itu membuahkan kalimat: “Kerinduanku padamu sepelemparan batu.”. Atau ketika saya sedang lapar dan ingin ke warung dekat kontrakan, tiba-tiba saja muncul kalimat: “Sepelemparan batu opor ayam dan sayur melinjo menantiku di warung itu.” dan lain sebagainya.

Hari ini, kata yang tiba-tiba saja ikut tergugah seiring saya bangun pagi untuk sholat subuh adalah: “Mak Cleret”.

Entah kenapa pagi yang cukup dingin di Jogja karena hujan deras semalaman ini harus dihiasi dengan kata-kata yang begitu kental dialek bahasa Jawa proletar tersebut. Sepatutnya jika memang ini berhubungan dengan hawa dingin yang menyengat, kata-kata yang muncul setidaknya: “sengat”, “dingin”, “gigil”, “hujan”, “selimut”, “coklat panas”, “mie rebus”, “peluk”, dan kata-kata lain yang berasosiasi dengan peristiwa kedinginan ini.

Jika diterangkan dalam bahasa Indonesia, “Mak Cleret” adalah sebuah kata yang menggambarkan sesuatu yang tiba-tiba saja melintas lalu meninggalkan torehan di bidang tertentu. Tapi bisa juga diartikan sesuatu yang tergores atau terpampang begitu saja dengan kuantitas dan kualitas yang minim. Misalnya seperti segores susu kental manis coklat yang sengaja dilekatkan di sebuah tembok hijau pupus dengan ujung jari atau sebaris sinar matahari yang tiba-tiba saja melintas dan menghalangi jernihnya pandangan kita akan pemandangan yang terpampang di depan mata.

Bisa jadi kata-kata ini memang secara tidak disengaja menjadi representasi perasaan, ideologi, atau pemikiran tertentu yang tengah aktual di diri kita di satu waktu tertentu. Alam bawah sadar kitalah yang kemudian memberikan mandat pada kata-kata tertentu yang seolah tidak berasosiasi langsung dengan peristiwa yang kita alami saat ini. Kata-kata ganjil yang secara centang perenang terpilih itu seolah merupakan harapan untuk memungkasi peristiwa yang kita alami. Secara tidak sadar kita mengharapkan peristiwa tertentu akan berakhir atau terjadi dengan kata-kata tersebut.

Berbicara tentang pemungkasan dan harapan yang lahir dari kesertamertaan hadirnya kata-kata tertentu itu, saya jadi teringat akan pepatah lama: “Apa yang kau tanam, itulah yang akan kau tuai”. Saya kemudian menjadi berpikir akan masa tua.

Kebiasaan yang acapkali kita lakoni semasa muda (meski tolok ukur kapan muda kapan tua masih bisa diperdebatkan lagi, kita sepakati saja masa tua adalah masa di mana tubuh kita sudah tidak mampu lagi beraktivitas berat seperti masa-masa sebelumnya) kelak akan mengendap dan menjadi “artefak” yang bakal terus melekat dalam keseharian kita di masa tua. Seperti jika kita terbiasa untuk puas dengan pencapaian yang begitu-begitu saja, maka kelak di masa tua kita akan menjadi pribadi yang kolot dan enggan berpikiran terbuka menghadapi perubahan jaman yang terus membabi buta. Atau jika kita terbiasa untuk mengonsumsi media pornografi di masa muda, bisa jadi kelak di masa tua kita akan menjadi pribadi yang cabul dan bakal melakukan perbuatan keji yang sungguh tidak diduga seperti melecehkan darah daging sendiri, na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

Mendadak saya jadi takut akan apa yang selama ini saya lakukan dan capai.
Saya terbiasa untuk mudah menyerah pada keadaan, mudah berlari dari masalah, mudah pesimis dan menyalahkan diri sendiri atas kegagalan tertentu, serta mudah sekali mengritisi orang lain.
Jika demikian, apakah “bekal” ini yang bakal saya hibahkan pada anak cucu saya kelak? Generasi macam apa yang akan saya lahirkan nanti jika saya masih saja berkecimpung dalam keterpurukan-keterpurukan yang sebetulnya bisa saya rubah dan perbaiki (saat) ini?

Siapapun pasti berharap penerusnya kelak menjadi jauh lebih baik dari apa yang telah kita capai saat ini (atau kelak). Kita pasti berharap anak cucu kita bakal menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari kita.

Tapi jangan lupa, mereka menjadi apa yang kita harapkan tentu membutuhkan sosok moyang yang bisa dicontoh. Bukankah pelajaran paling efektif bagi anak adalah dari bagaimana anak memperhatikan dan meniru segala tindak tanduk kita?

Jangan percaya pada kata-kata: “Nanti kalau sudah menikah, sikapmu akan berubah menjadi lebih bijaksana, kok.”. Belum tentu!

Berapa banyak orang-orang yang tak jua kunjung berubah menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya betapapun lamanya mereka mengarungi bahtera rumah tangga? Berapa banyak orang tua yang masih saja bersikap kekanakan hingga lupa keluarganya betapapun senja usianya?

Wal Ashr…….

Yogyakarta, 22 Juli 2016
Jum’at mubarak, ba’da subuh.

Advertisements

11 thoughts on “Mak Cleret

  1. Apa yang kau tanam, itulah yang akan kau tuai.. mengingatkan saya, bahwa sejatinya tidak akan ada yang sia2 dari yang kita kerjakan. Sekalipun itu hanyalah sebuah pekerjaan kecil dan sederhana. 😀

    Like

  2. Aku pernah dengar kalimat yang melecut diriku din, ” keputusanmu hari ini menentukan seperti apa kau kelak dan kau yang saat ini adalah hasil dari keputusan yang dulu kau ambil”, apakah kau sudah puas dengan arti dirimu untuk kehidupan sejauh ini?nah…wes…jadi sedikit demi sedikit belum terlambat menanam bibit masa depan yang lebih berkah, ntah kapan dan tumbuh seperti apa kelak benih itu, niat baik akan selalu dimudahkan…salam mak clereeeet…jangan lupa bahagia temanku sayang 🙂

    Like

    1. amin…amin 🙂 alhamdulillah, insyaallah aku akan selalu memilih untuk berbahagia. Capek berkubang dalam ketidakbahagiaan terus. Matur nuwun ndru, moga kebahagiaan dan keberkahan selalu mengguyurimu dan keluargamu

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s