Ini cerita saat bulan Ramadhan kemarin. Sudah lewat memang, tapi masih saya ingat-ingat sampai sekarang. Apalagi sebentar lagi bakal ada hajatan 1000 harinya.

***

Bagaimana perasaanmu jika ibumu tiba-tiba nyeletuk : “Ati-ati, Nduk. Ojok sampe marai wong tuo utamane Ibuk sampe gak ridho!”

Tunggu dulu, Kawan! Jangan berprasangka yang bukan-bukan!

Saya bukannya sedang ada masalah dengan Emak. Apalagi sampai membuat Emak marah-marah sama saya. Na’udzubillahi mindzalik!! Hanya saja, bulan Ramadhan jadi bulan yang agak berat buat Emak. Ramadhan 2 tahun belakangan ini selalu bikin Emak baper, karena setiap bulan suci tiba, Cak Rul selalu menemui Emak di dalam mimpinya. Begitu pun Ramadhan kali ini.

Iya, Cak Rul, yang sholeh, rajin, dan merupakan kakak teladan bagi saya dan adik-adiknya, harus pergi meninggalkan kami karena sakitnya yang tidak berkesudahan. Meninggalnya Cak Rul benar-benar membuat Emak sempat kehilangan pegangan, karena bagi Emak, Cak Rul adalah anak “sing iso dijagakno ndunyo lan akherat”.

Sejak kecil Cak Rul memang selalu patuh kepada orang tua. Cak Rul juga rajin membantu Emak dan Bapak di sawah, mbabati suket atau angon kebo. Setiap sepulang sekolah, pasti dia mencari-cari Bapak. “Bapak nandi, Mak?” Dan ketika dia tahu Bapak sedang ada di sawah, dia pasti berlari menyusulnya dengan membawakan bontot makan siang.

Cak Rul tidak pernah meminta apa-apa kepada Emak dan Bapak. Jika dia membutuhkan sesuatu misalnya buku atau pensil, dia lebih memilih untuk menyisihkan uang sakunya yang tidak seberapa itu, daripada harus meminta kepada orang tua.

Sering Emak bercerita bahwa Cak Rul memiliki ‘tabungan’ rahasianya sendiri. Dulu di ujung kampungku ada semacam gundukan tanah, sebagai penanda jalan. Setiap hari pasti Cak Rul melewatinya ketika berangkat ataupun pulang dari sekolah. Di situ pula Cak Rul menyimpan tabungannya. Dia menggali lubang kecil untuk tempat mengumpulkan uangnya.

Cacakmu iku gak tau nyusahno wong tuwo… “ kata Emak setiap kali dia bercerita tentang kakak keduaku itu.

Ketika beranjak dewasa, Cak Rul semakin rajin mengaji dan memperdalam ilmu agamanya. Di pondoknya pun dia terkenal sangat menghormati guru-gurunya. Dan kawan-kawannya juga banyak yang segan padanya. Setiap minggu, kami sering diajak ke pengajian di pondoknya.

“Oalah… Akhire kok kudu anake sing ndhisiki wong tuwo..” Begitu keluh Emak di setiap akhir ceritanya.

Insyaallah, Emak sudah ikhlas dengan kepergian Cak Rul. Hanya saja, orang tua mana yang tidak sedih jika harus ditinggal anaknya terlebih dahulu. Dan sejak 2 tahun lalu, Emak selalu memimpikan Cak Rul setiap menjelang bulan Ramadhan.

Yang paling membuat baper adalah karena dulu Emak sempat sakit hati dengan ucapan Cak Rul. Waktu itu sedikit ada pertentangan prinsip antara Cak Rul dan Bapak. Emak tahu maksud kakakku itu baik. Hanya saja mungkin penerimaan setiap orang beda-beda. Emak merasa gak ridho, hingga dia menangis dalam sholatnya. Beberapa lama setelah itu, Cak Rul mulai sakit. Dan ketika akhirnya kakak dipanggil Yang Maha Kuasa, hanya satu penyesalan Emak. Cak Rul sakit karena Emak.

Tenang, Kawan!

Emakku ndak selugu dan sepolos itu meyakini bahwa penyebab Cak Rul sakit adalah karena sakit hatinya. Hidup dan mati manusia ada di tangan Yang Maha Kuasa. Namun, seperti yang saya ceritakan tadi, ada penyesalan karena Emak pernah merasa sakit hati kepada anaknya sendiri. Saya juga ndak tau apa yang diucapkan Cak Rul waktu itu sampai membuat Emak sempat merasa ter-clekit-i. Lagipula, sudah banyak kok cerita-cerita bagaimana celakanya anak yang sampai hati tega membuat ibunya sakit hati.

Bapak pernah bercerita, ada tetangga dari kawannya dulu, tak sengaja membuat ibundanya sakit hati, lantaran dia mencuci lagi jemuran ibunya yang kehujanan. Maksud si anak mungkin baik, tapi ndilalah kok si ibunda ndak ridho. Dan beberapa hari setelah itu si anak terkena stroke.

Sekali lagi, wallahua’lam bish-showab.

Tanpa ada embel-embel cerita ini pun sampeyan-sampeyan mungkin juga sering mendengar : “Keridloan Allah tergantung kepada keridloan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.”

Sebagai anak mungkin kita punya keinginan sendiri dan bisa jadi berbeda dengan pengarepan orang tua. Beruntung jika kita memilik orangtua yang demokratis yang bisa menerima pilihan kita. Tapi, bagaimana jika orangtua kita sedikit otoriter? Dengan dalih “kami pernah muda, kami pernah merasakannya, kami tidak ingin kamu merasa kesusahan seperti kami dulu, kami ingin kamu seperti ini dan itu.. “, mereka memiliki rencana-rencana untuk anaknya. Haruskah si anak mengorbankan keinginannya dan menuruti orang tua?

Apapun keinginan orang tua, mereka pasti ingin anak-anaknya kelak merasa bahagia.

Bapak pernah bilang: “Sing penting wong tuwo ridho, insyaallah dalanmu ombo…”

 

Gambar dicomot dari : https://solehmendidik.files.wordpress.com/2014/06/8emakpun-menangis.jpg?w=640

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on ““Wong Tuwo Ridho, Dalanmu Ombo”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s